LAMANRIAU.COM, PEKANBARU – Dua jamaah calon haji asal Provinsi Riau dipastikan batal berangkat ke Tanah Suci, Makkah, Arab Saudi. Mereka merupakan bagian dari delapan calon haji yang keberangkatannya tertunda karena kondisi sakit dengan tingkat gangguan yang cukup tinggi.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau, Defizon mengatakan sebanyak tujuh calon haji sakit di Batam, Kepulauan Riau, sedangkan satu calon haji sakit di daerah asal. Total ada delapan calon haji yang tidak bisa berangkat karena kondisi kesehatan.
“Dari delapan calon haji yang sakit, satu orang di daerah asal dinyatakan tidak memenuhi istithaah (kemampuan). Sementara di embarkasi Batam, satu dari tujuh calon haji juga dipastikan gagal berangkat,” kata Defizon, Selasa 28 April 2026.
Dia mengatakan jamaah calon haji Riau yang sudah masuk asrama haji di Batam saat ini mencapai tiga kloter. Dua kloter sudah tiba di Madinah dan satu kloter lagi di asrama. Dari tiga Kloter tersebut, tujuh calon haji sakit dan enam orang masih menjalani perawatan di Batam. Defizon berharap kondisi mereka segera membaik sehingga tetap bisa diberangkatkan.
“Kami berharap keenam jemaah ini pulih dan tidak sampai gagal istithaah, sehingga bisa diberangkatkan jika kesehatannya sudah membaik,” ujarnya.
Berdasarkan evaluasi sementara, jamaah yang sakit diduga disebabkan oleh penyakit bawaan yang diperparah oleh kelelahan sebelum keberangkatan. Oleh karena itu, jamaah diimbau banyak istirahat sebelum berangkat.
“Mungkin sebelum berangkat banyak melakukan aktivitas. Karena itu, kami mengimbau agar jemaah cukup beristirahat. Ibadah haji membutuhkan kondisi fisik yang prima. Jangan sampai di Arab Saudi mengalami kondisi yang sama. Istirahat yang cukup sangat penting agar saat diterbangkan ke Madinah dalam kondisi sehat,” tukasnya.
Dia juga berharap tidak ada lagi calon haji yang batal berangkat setelah dua orang dipastikan gagal karena tidak memenuhi syarat istithaah kesehatan. Ia mengingatkan agar jumlah kasus tidak bertambah karena dapat menimbulkan kendala dalam proses pemberangkatan, termasuk ketersediaan kursi di kloter berikutnya.
“Jangan sampai jumlah jamaah yang sakit bertambah, karena bisa memengaruhi pengaturan kursi di kloter selanjutnya,” tegasnya. ***






