Daulat Wathan Negeri Rohil: Jaga Tanah Warisan dari Tantangan Modernitas

KH H Widiarto Kamalul Matwafa bersama Encik Wira Siak Zuhaifi, ST saat menghadiri satu acara di gedung DPR RI Senayan, Jakarta.

LAMANRIAU.COM, KUBU– Modernitas sering kali datang dengan dua wajah: kemajuan ekonomi di satu sisi dan ancaman terhadap eksistensi nilai-nilai lokal di sisi lain. Di tengah derasnya arus industrialisasi dan perubahan zaman, Kenegerian Kubu di Kabupaten Rokan Hilir menolak untuk larut. Melalui kepemimpinan adat yang kokoh, negeri ini terus menegaskan kedaulatan tanah warisannya (daulat wathan) agar tidak tergerus oleh ambisi zaman.
Menakhodai lembaga adat era modern bukanlah perkara mudah. Menuntut kombinasi langka antara keteguhan spiritual untuk menjaga moralitas umat, serta kecakapan intelektual untuk menghadapi benturan hukum dan regulasi formal. Beruntung, Kenegerian Kubu memiliki duet kepemimpinan yang menjadi jangkar kelestarian tersebut, KH H Widiarto Kamalul Matwafa (Kepala Suku Melayu Hamba Raja Kenegerian Kubu) dan Encik Wira Siak Zuhaifi, ST (Pemangku Adat Melayu Kenegerian Kubu).

Sebagai Kepala Suku Melayu Hamba Raja, KH H Widiarto Kamalul Matwafa membawa keteduhan kharismatik yang mengakar pada nilai-nilai luhur dan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun. Kehadirannya menjadi penyejuk sekaligus pengingat akan asal-usul dan jati diri.

Dari sisi lain, tantangan agraria dan hukum di era modern memerlukan pendekatan yang taktis. Di sinilah peran penting Encik Wira Siak Zuhaifi, ST. Dengan latar belakang intelektual dan pemahaman teknis yang kuat, ia mampu mengontekstualisasikan hukum adat dalam menghadapi tantangan korporasi maupun regulasi modern.

Sinergi ini memastikan bahwa perjuangan menjaga integritas tanah ulayat dan hak-hak masyarakat tempatan dilakukan secara strategis, legal, dan bermartabat. Bagi masyarakat Kenegerian Kubu, adat Melayu bukanlah benda museum yang hanya dipamerkan saat upacara pernikahan atau festival tahunan. Adat adalah benteng hidup (living law) yang melindungi harga diri, ruang hidup, dan kemaslahatan umat.

Sinergi antara KH H Widiarto dan Encik Wira Siak Zuhaifi adalah berkah sekaligus teladan bagi Kabupaten Rokan Hilir. Mereka bukan sekadar pemimpin formal yang memangku jabatan, melainkan penjaga marwah sejati.

Melalui langkah strategis dan keteladanan mereka, filosofi murni Melayu—Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah—tetap tegak berdiri. Filosofi ini bukan sekadar slogan, melainkan kompas moral yang diwariskan kepada generasi muda Kubu agar mereka siap menghadapi masa depan tanpa harus kehilangan akar budaya dan iman mereka.

Daulat Wathan di Kenegerian Kubu akan terus terjaga, selama marwah dan warisan dirawat oleh tangan-tangan yang tepat. ***

Editor: Fahrul Rozi

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews