CERPEN: Burung Bapak Hilang

Ilustrasi

Oleh: Kak Ian

SUARA itu memekakan telinga. Kencang dan nyaring sekali. Keheningan pagi menjadi pecah. Tak seperti biasanya memang. Suara itu terdengar keras dari teras depan rumah.

Pagi itu kami serumah dikejutkan oleh suara Bapak dengan nada tinggi. Mungkin lebih tepatnya mengarah umpatan seperti orang yang meluapkan amarahnya saat itu. Itulah yang aku dengar.

Aku yang dini hari baru tidur karena sebuah pekerjaan—dan menuntut harus selesai hari itu juga. Terpaksa bangkit dari tidur menuju sumber suara yang membahana di teras depan rumah. Begitupun pada Ibu yang tergopoh-gopoh dari ruang dapur. Saat itu ibu sedang masak air di dapur.

“Burungku hilang ya, Gusti….! Siapa orangnya yang berani sekali mencuri!”

Bapak saat itu seperti orang kalap. Semua dari mulutnya keluar para penghuni kebun binatang. Bapak seperti orang kesetanan. Aku tak berani mendekat. Aku tak ingin terulang kembali ketika Bapak sedang kesetanan seperti itu.

***

Pernah suatu hari saat anak-anak di sekitar rumah kami bermain bola. Kemudian bola itu mengenai salah satu sangkar burung peliharaan Bapak hingga jatuh. Walaupun saat itu burung yang ada di sangkar tidak lepas. Tapi Bapak masih mencak-mencak pada mereka itu begitu rupa. Aku yang saat itu ada di dalam kamar mendengar keributan langsung keluar.

Kulihat Bapak saat itu sedang memarahi anak-anak. Bapak melakukan hal itu karena salah satu sangkar burung perkutut peliharaannya jatuh karena terkena tendangan bola. Dengan membawa bola sebagai bukti Bapak terus menyumpah serapahi mereka.

Saat itulah aku menasehati Bapak agar tetap sabar menghadapi anak-anak di sekitar rumah. Tapi bukan malah mereda oleh ucapanku. Bapak berbalik arah memarahiku.

“Kamu itu tahunya buat liputan saja. Tak usah bicara soal burung!” umpat Bapak ke arahku. “Kamu tahu sangkar perkutut yang jatuh itu harganya berapa, ah?” lanjutnya.
“Ya, mana aku tahu, Pak! Bapak yang gemar pelihara perkutut bukan aku,” dalihku.
“Kalau tidak tahu kamu diam saja. Itu lebih baik! Tidak usah menasihati bapakmu,” Bapak berbalik menyuduti aku.

“Lagi pula kita hidup makmur dan kamu bisa kuliah tinggi di kampus ternama hingga bekerja menjadi jurnalis. Itu karena apa? Semua karena bapakmu memelihara perkutut ini hingga puluhan ekor agar di rumah kita. Maka dari itu selalu dilimpahi keberuntungan,” jelasnya lagi panjang lebar padaku.

“Dari mana Bapak tahu hal itu? Bukankah itu mitos saja,” kataku mencoba membalikkan ucapannya.
“Sudahlah kamu anak kemarin sore. Tahu apa kamu soal pelihara perkutut. Yang kamu ketahui itu artis kawin cerai, pencitraan para politikus dan koruptor dari suami seorang artis yang lagi viral itu!” Bapak makin memanas.

Kulihat Bapak sudah seperti kepiting terbus. Aku tidak ingin berlanjut. Lebih baik aku diam saja. Tak lagi untuk berkata-kata kembali.

Sejak itulah aku bila Bapak sudah hilang kendali. Amarahnya tinggi aku lebih baik diam saja dan tak mau lagi larut dalam urusannya. Aku sudah kapok!

Ya, karena bukan Bapak mereda malah berbalik memarahi bahkan menyalakan kami. Walaupun bukan aku atau Ibu penyebabnya. Tapi pasti Bapak akan menyalahi kami ujung-ujungnya. Anehnya, Ibu tetap sabar dan tenang menghadapi Bapak bila saat-saat seperti itu.

***

Maka, untuk pagi itu biarlah Ibu saja yang bertanya sekaligus merendahkan amarah Bapak. Sedangkan aku mencari aman saja. Tapi sebagai anak aku juga ikut prihatin dan kasihan pula atas tragedi burung Bapak yang hilang berharga puluhan juta itu. Perkutut warna putih yang dicuri orang.

Akhirnya Ibu yang menghampiri dan bertanya pada Bapak pagi itu. Aku sebagai anak tunggal mereka hanya melihat dari balik kaca jendela saja. Tak mau berurusan lagi dengan Bapak jika sudah berubah saga muka tuanya itu.

“Sabar, tho, Pak! Ini kan masih pagi,” ucap Ibu sambil menghampiri Bapak.
Kulihat rupa Bapak memerah saat Ibu mencoba meredam kemarahannya pagi itu.

Dengan tersengal-sengal dan terbatuk-batuk Bapak mencoba balik menjawab. “Sabar, sabar! Memangnya sabar bisa mengembalikan perkutut kesayanganku yang hilang itu. Itu perkutut paling mahal. Harga hampir 75-an juta. Perkutut paling terbaik yang aku punya. Apa kamu bisa sabar jika sesuatu yang mahal dan disayangi dicuri orang, ah!”

Kulihat Bapak murka saat itu. Ia tidak senang mendengar ucapan Ibu seakan-akan mengajari dirinya tentang sabar.

“Terus kalau sudah hilang bagaimana?” Ibu kembali bertanya pada Bapak.
“Aku harus lapor Pak RT atau pihak berwajib!” Bapak dengan geram kembali menegaskan ucapan Ibu.

Selepas itu Bapak masuk ke dalam rumah. Ia meninggalkan Ibu sendirian di teras depan rumah dengan rasa dongkol yang paling dalam.

Dalam hati Bapak pun masih menggerutu tentang sikap Ibu padanya. “Dasar perempuan tahu apa tentang hobi yang sudah mendarah daging. Apalagi ini tentang perkutut kesayanganku yang hilang dengan harga fantastis.”

Kulihat Bapak begitu sungut pada Ibu. Tentu aku tak berani untuk menegurnya. Aku pun langsung kembali ke kamar melanjutkan tidurku. Kurasakan pagi itu seperti ledakan tabung gas melon. Dahsyat sesudahnya kembali sunyi. Begitupun dengan Bapak kulihat ia langsung ke kamar mandi. Setelah itu aku tak tahu apa yang Bapak lakukan.

***

Keesokan harinya, kami kedatangan tamu. Bukan Pak RT maupun pihak berwajib. Tapi seorang anak muda seusiaku—dengan kaos berlogo tempat dirinya bekerja dan membawa tas gendong beserta topi sebagai penutup kepala. Ternyata ia seorang yang ahli menangani CCTV. Mungkin teknisi CCTV.

Oya, aku lupa menceritakan jika rumah kami sudah memasang CCTV. Lebih tepatnya Bapak yang punya ide macam itu. Mungkin ia tahu bila tidak ada CCTV mana bisa memantau burung perkutut peliharaannya itu jika hilang ada yang mencurinya. Akhirnya, Bapak memasang juga CCTV itu—di rumah kami—dengan berbagai sudut Bapak memasangkan semua agar bisa diketahui nanti jika ada pencuri perkutut peliharaannya itu.

Bapak adalah pensiunan BUMN. Sedangkan Ibu yang seorang guru besar di sebuah kampus termuka di ibukota. Aku sendiri bekerja sebagai seorang jurnalis di sebuah media cetak. Jadi kami yang bertempat tinggal di kelilingi dan berdekatan dengan para tetangga yang notabene hidupnya di perkampungan padat penduduk. Tentu mereka yang mengenal dan mengetahuinya sangat menghormati kami. Apalagi aku kecil sudah ada di kampung ini.

Akhirnya, setelah diselediki di rekaman CCTV semua pun terungkap. Siapa pencuri perkutut putih Bapak yang mahal itu? Tapi Bapak tidak memberitahukan Ibu apalagi aku. Mungkin ia ingin melakukan sendiri. Ingin menangkap pencuri dengan tangan sendiri. Entah.

“Ini Pak pencurinya lewat pintu gerbang belakang yang sepertinya lupa dikunci. Tapi gerak-geriknya seperti orang kampung. Lihat tanpa penutup muka atau yang menyamarkan dirinya juga tidak memakainya. Sudah pasti yang mencuri perkutut Bapak orang kampung sekitar sini. Pencuri sangat amatiran sekali. Mungkin Bapak kenal orang ini!” panjang lebar teknisi CCTV itu menjelakan pada Bapak.

Bapak kulihat saat itu hanya manggut-manggut saja. Terusik dan penasaran oleh ucapan petugas teknisi itu pun aku langsung ingin mengetahui rekaman dari CCTV itu. Saat aku lihat dengan seksama dan dingat-ingat. Bukankah itu.

“Ini kan Pak Zainal! Tukang kebun kita yang belum lama berhenti. Bukan itu saja tetangga kampung sebelah kami yang anaknya sering main bola dengan teman-temannya di dekat rumah?” aku pun langsung terkejut saat mengetahui pencurinya orang yang kukenal. “Lagi pula bukannya seminggu yang lalu saat menjelang magrib ia meneumi Bapak di teras depan rumah,” aku menambahkan cerita.

Saat aku berkata demikian Bapak tampak tidak senang. Wajah tuanya terlihat memerah. “Sana kamu! Tidak usah ikut campur masalah ini!” Bapak langsung mengultimatumku. Kulihat sekali lagi wajah Bapak menyimpan sesuatu.

Sebenarnya aku tidak ingin nimbrung di antara mereka. Tapi aku sangat penasaran dengan pencuri burung Bapak. Si pelaku pencuri perkutut putih Bapak yang mahal itu.

“Ya, iya, saya sudah tahu siapa orangnya! Saya kenal betul dengan orang ini. Besok tinggal aku seret ke rumah. Saya panggil Pak RT kemudian serahkan ke pihak berwajib,” kemudian Bapak mengiyakan ucapan petugas CCTV itu. Mungkin Bapak ingin merencanakan sesuatu untuk menangkap pencuri burungnya itu dengan tangannya sendiri. Entahlah.

Sedangkan aku yang diusir oleh Bapak dari ruang di mana TV monitor CCTV itu berada di batok kepalaku masih dipenuhi oleh tanda tanya yang kuat tentang Bapak. Bapak sepertinya sedang merencanakan sesuatu? Ada apa ya hubungan Bapak dengan Pak Zainal itu?

***

Rumah kami akhirnya dipenuhi oleh berbagai macam orang. Ada warga kampung yang berbondong-bondong melihat siapa pencuri perkutut putih Bapak yang harganya selangit itu. Tidak lupa ada Pak RT dan pihak berwajib. Tidak ketinggalan pula dari berbagai media baik cetak maupun televisi hingga para konten kreator. Mereka ingin pula meliput berita kehilangan burung Bapak yang harga selangit itu. Walaupun sudah ditemukan burung mahal itu.

Tapi Bapak begitu tenang dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa di depan mereka. Seketika itu Bapak diagung-agungkan dan dielu-elukan menjadi orang terbaik sedunia. Dikarenakan Bapak melepaskan pencuri burung itu begitu saja. Tanpa ada jaminan apa-apa

Pak Zainal, mantan tukang kebun kami. Atau, si pencuri burung Bapak begitu saja dibebaskan dengan persyaratan tidak mengulangi lagi. Ya, begitu saja! Tanpa ada jaminan.

Akhirnya, Pak Zainal melenggang kembali ke rumahnya tanpa memikirkan apa pun. Walaupun dirinya sudah viral karena mencuri burung perkutut Bapak yang mahal. Tapi dimaafkan oleh pemiliknya yang memiliki hati malaikat. Tanpa hukuman apa-apa. Tak lain yakni Bapak. Begitu saja memaafkan Pak Zainal. Sungguh di luar akalku!

“Ya, saya masih punya hati. Walaupun saya merasa dirugikan. Saya tetap memaafkan pencuri itu tanpa jaminan apa-apa. Dirinya sudah saya bebaskan dari tuntutan dan hukuman. Masa iya orang seperti Pak Zainal saya hukum sampai 10 tahun. Sedangkan koruptor suami dari artis dan model sampo—yang merugikan rakyat—hanya dihukum enam setengah tahun! Tidaklah, aku masih punya hati dan nurani serta bisa memanusiakan manusia pula. Lagi pula ia mencuri karena terbelit hutang.”

Begitupun ucapan Bapak di depan para awak media dan orang-orang yang ingin mengetahui pencurian burung perkutut putih milik Bapak. Semua pun penuh takjub dan bangga pada Bapak. Tidak lain Bapak di depan mereka bak malaikat karena sudah membebaskan Pak Zainal tanpa persyaratan apalagi jaminan apa pun.

Hingga pemberitaan itu pun menjadi viral berbagai medsos. Bapak diagung-agungkan dan disanjung-sanjung di mana-mana. Memaafkan pencuri tanpa persayaratan apa pun.

Aku sendiri pun kena dampaknya di tempat kerja banyak rekan-rekan kerjaku menyanjung Bapak. Bukan itu saja ternyata tempat aku bekerja ingin mengundang Bapak menjadi tamu undangan di sebuah acara talk show sekaligus diliput. Aku pun antara bangga dan tidak mengharapkan hal itu viral pun tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa berharap semoga apa yang aku pikirkan tidaklah benar.

***

Seminggu sesudah berita Bapak sebagai pemilik burung perkutut termahal bak seperti malaikat itu menjadi viral bahkan fyp di berbagai medsos. Hingga suatu pagi yang dingin sebelum azan subuh menyapa. Di pagi buta itu aku mendengar gerak-gerik sosok yang mencurigakan keluar dari belakang rumah.

Sosok itu tinggi, memakai jaket tebal, membawa kardus besar yang sangat berat dan juga sebuah amplop di atas kardus itu. Dengan keluar perlahan-lahan dan berhati-hati ia menuju sebuah taman buatan dari pemda yang tidak jauh dari rumah kami. Ternyata ia menemui seseorang.

Pas ketika aku ketahui mereka bertemu di taman itu. Ternyata sosok tinggi dengan langkah cepat lalu mengendap-endap dari rumah kami. Sosok itu ternyata Bapak!
Bila satunya lagi lelaki itu ringkih dan agak pendek serta bersuara berat. Ia adalah Pak Zainal. Merekalah yang aku temui di taman keluarga itu.

Aku tidak kaget apalagi terkejut dengan jiwa jurnalisku. Ternyata pencurian burung mahal itu adalah rencana Bapak. Tapi bagaimanapun ada rasa yang terselip aku rasakan. Aku tetap bangga pada Bapak ketika ia menyerahkan semua yang dibawanya di pagi buta itu. Tidak lupa ia mengatakan sesuatu pada Pak Zainal.

“Kita boleh miskin. Asal jangan memiskinkan diri kita dengan mengemis apalagi mencuri yang bukan hak miliki kita. Jika kita lihat selama ini koruptor dan maling ayam hukumannya lebih berat daripada maling ayam. Kita tidak usah kaget. Beginilah negeri yang sakit jiwa,” Bapak saat itu memberikan wejangan pada Pak Zainal.

“Oya, saya terima kasih pula selama ini sudah menjadi teman pendengar setia! Saya melakukan hal ini agar Syahdan, anak saya satu-satunya itu mengerti jika bapaknya juga perlu teman bicara untuk berbagi cerita. Sebab bagi saya ia sudah asing. Ia lebih mencintai pekerjaannya. Padahal sebenarnya saya memelihara perkutut hanya untuk mengusir rasa kesepian. Maka dari itu saya minta maaf jika selama ini selalu merepotkan Pak Zainal dengan segala cerita saya. Bukan itu saja gara-gara skenario pencurian burung Pak Zainal akhirnya yang mendapatkan getahnya. Sekali lagi saya sebagai Bapak yang kesepian walaupun punya harta dan anak. Saya sekali lagi meminta maaf sebesar-besarnya,”

Pak Zainal diam sejenak. “Tidak apa-apa, Pak! Saya malah senang bisa bantu Bapak. Terlebih ini Bapak sudah sangat baik pada keluarga kami dengan tiap bulan memberikan kami sembako. Saya tidak merasa dirugikan melainkan bahagia bisa membantu Bapak selagi saya bisa!” akhirnya Pak Zainal bersuara juga.

Pagi-pagi buta itu tiba-tiba mataku berkaca-kaca. Apalagi ketika samar-samar aku mendengar percakapan mereka ada rasa sesak di dada. Bukan itu saja ada semacam belati yang menusuk di tubuhku walaupun tak berdarah. Tapi aku pun langsung menyeka mataku yang saat itu masih berkaca-kaca setelah ada pesan masuk di ponselku.

‘UNTUK MEMERIAHKAN HARI AYAH, SAYA UNDANG BAPAKMU UNTUK IKUT DALAM ACARA TALK SHOW NANTI. KAMU ATUR SAJA KAPAN JADWAL ACARANYA.’

Aku pun mengiyakan pesan yang masuk dari ponselku pagi itu. Pesan itu datang dari pimpinan redaksi kami, walaupun awalnya aku menolak Bapak menjadi salah tamu undangan di acara talk show itu.

Tapi dengan adanya peristiwa pagi buta itu. Aku dibukakan kembali mata hatiku sebagai seorang anak yang egois dan selalu mementingkan pekerjaannya serta tak mengerti apa yang diinginkan seorang Bapak.

Aku. Ya, aku yang tak peduli atas kehadiran seseorang yang selama ini menjadi tulang punggung di keluarga kami selama ini. Tak lain adalah Bapak.

Ternyata memelihara burung perkutut hanyalah untuk mengusir kesepian seorang Bapak yang merindukan anaknya untuk lebih memedulikan dan memerhatikannya. Maafkan aku, Pak! Aku yang salah dan tidak peka ini. ***

*) Cerpen ini sudah ditayangkan di erakini.id edisi 11 Maret 2025

——————
Kak Ian, penulis, pengajar dan penikmat sastra. Telah menulis 6 judul buku. Salah satunya Kumpulan Cerpen Jika di Antara Kita Lebih Dulu Dipanggil Tuhan (2024). Aktif sebagai mentor di bidang kepenulisan, mengelola Kelas Menulis Online khusus Guru dan Praktisi Pendidikan di Komunitas Pembatas Buku Jakarta bersama tim sekaligus founder Komunitas Pembatas Buku Jakarta. Karya-karyanya berupa cerpen, cerita anak, cerita remaja, opini dan puisi, sudah termaktub di koran nasional dan lokal serta media online lainnya. *

Baca: Kubur Sumur

*** Laman Cerpen terbit setiap hari Minggu dan menghadirkan tulisan-tulisan menarik bersama penulis muda hingga profesional. Silakan mengirim cerpen pribadi, serta terjemahan dengan menuliskan sumbernya ke email: [email protected]. Semua karya yang dikirim merupakan tanggunjawab penuh penulis, bukan dari hasil plagiat,- [redaksi]

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews