CERPEN: Anak Hujan

Ilustrasi

Oleh: Marzuli Ridwan Al-bantany

PETANG itu, kaki langit perlahan menghitam. Awan-awan nan berarak ditiup angin kian menggumpal pekat. Dalam sekejap, langit yang semula cerah pun menangis, menumpahkan ribuan bahkan jutaan tetes hujan ke bumi yang sedang dilanda kekeringan. Sebuah dusun kecil di kampung itu benar-benar basah. Selokan dan parit-parit yang telah lama mengering, kini dipenuhi oleh air hujan, karunia ilahi yang turun mencurah dari langit.

Di deras hujan yang jatuh,- yang sesekali terdengar juga gemuruh kecil halilintar, Mahmud dan dua sahabatnya girang bermain, berlari-lari di tepian pematang sawah yang licin dan banyak ditumbuhi rerumputan dan pohon-pohon pakis. Pemandangan di areal persawahan yang luas membentang itu terasa begitu indah bagi Mahmud dan dua kawan baiknya. Bulir-bulir padi yang mulai menguning di sisi kiri dan kanan pematang itu, pun tampak senyum mengulum, melambai-lambai menyambut sang bayu serta hujan yang datang mengguyurnya. Begitu juga dengan Mahmud, anak kecil itu semakin menikmati hari, menikmati hujan yang dalam sebulan ini sangat dirindu dan dinantikan.

***

Di perkampungan kecil yang dipenuhi hijau pepohonan dan sawah yang luas membentang itu, Mahmud tinggal bersama ibunya, Aminah. Mereka berdua menetap di sebuah rumah kecil yang terbuat dari kayu dan papan, beratapkan daun rumbia yang dianyam dengan sangat rapi. Meski kecil dan jauh dari kata layak, namun rumah itu begitu asri dengan halamannya yang luas, ditumbuhi beberapa pohon hutan dan aneka bunga kertas. Mahmud, pelajar kelas V sekolah dasar yang memiliki prestasi cukup membanggakan di sekolahnya itu merasa bersyukur karena tinggal di kampung, hidup berdampingan dengan warga kampung yang masih memegang teguh semangat gotong-royong dan kebersamaan.

Di lingkungan tempat tinggalnya, Mahmud dan ibunya adalah salah satu diantara keluarga miskin yang hidup sangat sederhana. Semenjak Pak Samsudin, sang ayah meninggal dunia tiga tahun lalu, ibunya-lah kini yang mau tidak mau harus mengambilalih semua tugas dan peran penting ayahnya. Aminah juga melanjutkan kerja sang suami sebelum ini, menjadi buruh tani untuk memenuhi dan mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Bagi Mahmud, kehilangan sosok ayah dalam keluarganya merupakan suatu kesedihan yang sangat mendalam. Pada awalnya ia merasa terpukul oleh kematian sang ayah, sebab selama ini almarhum ayahnya itulah sosok tempatnya mengadu, tempat bermanja dan merasakan semua kasih sayang. Selama ini, sang ayah dalam rumahnya adalah tulang punggung keluarga, jembatan kasih, penopang hidup ia dan ibunya. Akan tetapi, setelah sang ayah tiada, maka tiada lagi tempat bagi dia dan juga ibunya mengadu. Keperluan hidup sehari-hari mesti dipenuhi oleh tangan dan keringatnya sendiri. Sesulit apapun hidup yang dirasakan dalam menjalani hari-hari kedepan, harus selalu dilalui dengan hati yang ikhlas dan rasa sabar.

Mahmud, bocah kecil bertubuh jangkung berkulit cerah itu satu-satunya anak yang dimiliki Aminah. Kepada Mahmud-lah segala kasih dan sayang Aminah tertumpah. Kalau ia merindukan almarhum suami, maka dengan memandang wajah Mahmud segala kerinduan itu lenyap dan sirna seketika. Setiap kali melihat wajah Mahmud, ia juga selalu ingat akan pesan mendiang almarhum suami sebelum berpulang,- yang memintanya untuk menjaga Mahmud dengan baik, membesarkan dan mendidiknya dengan penuh kasih sayang.

Seperti anak-anak lain seusianya, Mahmud terkadang berperangai sedikit agak nakal dan membuat beberapa warga terganggu oleh ulah tangannya. Setelah pulang sekolah ia dan beberapa sahabatnya tak jarang sengaja bermain-main di tengah pematang-pematang sawah, dan baru pulang menjelang matahari terbenam. Hal inilah yang sering membuat ibunya dan beberapa petani di kampung marah kepadanya. Tapi Mahmud dan sahabatnya seakan tak peduli. Ia beranggapan jika perbuatannya benar, tak mengganggu ketenangan dan ketentraman warga sekitar.

Mahmud adalah anak kecil yang tak suka berdiam diri di rumah. Hobinya bermain dan berpetualang. Di waktu-waktu tertentu ia kadang sering ditemui seorang diri menyusuri anak-anak sungai hanya sekadar untuk memancing ikan dan menemukan hal-hal yang baru. Kalau ibunya tahu ia melakukan hal itu, tentulah ia akan dimarahi dan dinasehati.

Dibalik semua tindakannya yang dianggap bentuk kenakalannya, Mahmud justru memiliki hati yang sangat mulia. Ia suka menolong kawan dan orang-orang kampung yang memerlukam pertolongannya. Bila ia diperlukan, ia tak segan-segan datang membantu dan melakukannya dengan ikhlas serta penuh tanggung jawab. Pernah suatu ketika saat pulang sekolah, di tengah jalan menuju rumah, ia mendapati Pak Andak terjatuh dari sepeda motor saat membawa beberapa karung padi yang baru dituai di sawah. Lelaki paruh baya itu mengalami luka yang cukup serius pada bagian kepala dan lutut kaki sebelah kanan. Luka-luka itu tampak parah dan terus mengeluarkan darah segar. Dengan masih berpakaian seragam sekolah, seketika ia bergegas memberikan pertolongan kepada Pak Andak dan kemudian mencari orang lain agar dapat mengantarkan orang tua itu ke Puskesmas Pembantu yang ada di kampungnya.

“Terima kasih, Mahmud. Semoge Allah membalas semue kebaikanmu,” ujar Pak Andak setengah meringis menahan rasa sakit yang dialaminya.

Kabar Mahmud secara sukarela telah menolong Pak Andak yang mengalami kecelakaan di jalan yang kondisinya sangat rusak itu, membuat warga kampung sangat terharu dan menaruh rasa simpati kepadanya. Kebaikan dan ketulusan hati Mahmud itu pun turut mendapat pujian secara langsung dari beberapa tokoh dan pemuka masyarakat, termasuk dari salah seorang dermawan yang menetap di kampung sebelah. Terlebih lagi dermawan itu juga pernah ditolong oleh Mahmud setahun lalu saat musibah banjir mendera kampungnya. Saat itu, Mahmud dan beberapa warga ikut membantu mengungsikan sejumlah barang-barang berharga milik dermawan itu ke tempat yang lebih aman.

***

Suatu hari menjelang waktu Magrib, Aminah yang sedang berada di dapur rumah sedang memarahi Mahmud sehabis pulang bermain-main hujan bersama sahabat-sahabatnya. Kemarahan Aminah kian memuncak karena sebelumnya dia mendapat pengaduan dari salah seorang warga yang memergoki Mahmud dan dua orang sahabatnya dengan sengaja melepas beberapa ekor kerbau yang sedang ditambat oleh pemiliknya di pinggir jalan menuju pematang sawah. Tak ayal lagi, akibat perbuatan ia dan sahabat-sahabatnya itu, pemilik kerbau dibuat susah dan kalang kabut karena harus mencari kerbau-kerbau yang terlepas itu entah kemana.

“Mahmud! Kau itu dari mane saje?”

“Sudah hampir Maghrib begini baru balek!”

Mahmud diam dengan kepala tertunduk. Dalam keadaan berdiri ia menjulurkan kedua telapan tangannya agar dilecut menggunakan rotan oleh ibunya. Tapi kali ini, Aminah tak memberi hukuman kepada Mahmud seperti waktu-waktu sebelumnya. Wanita itu berpaling dan menjauh darinya.

Dengan langkah kaki dan tubuh menggigil kedinginan, ia perlahan mendekati Aminah, meraih telapak tangan kanan ibunya itu, lalu mencium dengan penuh takzim.

“Mak betul-betul kesal. Betul-betul kecewa!”

“Engkau telah membuat Mak malu di hadapan Tok Hasan petang tadi. Sebab ulahmu yang melepas tambatan kerbau-kerbaunye itu!”

Mahmud tak menjawab sepatah katapun. Ia diam saja membatu, mendengar apa yang sedang dikatakan sang ibu. Tapi, ketika melihat ibunya duduk bersedih sembari mengusap airmata yang mengalir di pipi, ia tak tahan lagi. Perempuan yang telah melahirkan dan membesarkannya itu dihampiri dan dipeluknya dengan rasa penuh rasa sayang.

“Maafkan Mahmud, Mak! Mahmud janji tak mengulanginya lagi.”

“Sebetulnye, Mahmud dan kawan-kawan melakukan itu karena kasian melihat kerbau-kerbau itu tertambat dalam hujan yang sangat lebat.”

“Niat di hati ini memang hendak memindahkannye ke tempat yang teduh dan aman. Namun sayang, Mak! kerbau-kerbau itu secara tibe-tibe meronta dan berhamburan, lari ke dalam semak-semak itu,” terang Mahmud lirih, menyampaikan apa sesungguhnya yang telah ia lakukan bersama kedua sahabatnya tadi petang.

“Kita ini orang susah. Jangan disebabkan hal ini membuat orang-orang kampung memandang rendah dan kurang baik terhadap keluarge kita.”

“Hmmm… Kalaulah ayahmu masih ada, mungkin…,” Aminah menghentikan ucapannya, lalu menangis sedih di tepi daun jendela dapur yang menghadap pada sebidang kebun kecil di belakang rumah.

“Tapi, Mak..!”

“Sudahlah!”

“Selepas kejadian ini, Mak tak mau lagi dengar hal yang macam-macam tentang engkau dari orang-orang kampung!” pinta Aminah. Sementara Mahmud hanya mengangguk dan rasa menyesal.

Sebagai seorang ibu tunggal, Aminah sudah tentu tak menginginkan orang-orang kampung menganggap anaknya adalah anak yang tak dapat dididik. Ia tahu betul jika Mahmud sebenarnya adalah anak yang baik dan penurut. Hanya saja akhir-akhir ini Aminah sering mendengar hal-hal yang tak sedap dari mulut orang-orang kampung perihal Mahmud, meski terkadang apa yang dituduhkan itu tidaklah semuanya benar dan terbukti adanya.

Meski hidup dalam keadaan miskin dan sering menghadapi berbagai kesulitan, Mahmud tak pernah menyerah. Ia terus belajar dengan tekun, termasuk ikut membantu sang ibu mengambil upah mengangkut karung-karung padi yang dituai. Bahkan ada kalanya ia juga terpaksa harus mengambil upah sendirian, seperti memetik buah kelapa milik tetangga dan menjualnya kepada orang-orang yang memesannya.

***

Pada suatu hari menjelang petang, Aminah masih berada di kebun belakang rumah. Meski dalam kondisi badan yang kurang fit karena diserang demam, ia masih sempat berkebun, membersihkan areal kebun sayur miliknya dari rerumputan dan tanaman liar lainnya. Namun sungguh tak disangka, ketika sedang berada di kebun sayur itu, tiba-tiba hujan mendadak turun dengan sangat lebatnya. Aminah yang sebelumnya dalam keadaan sakit itu, kini semakin bertambah parah, lemah tak berdaya. Diantara celah-celah tanaman sayur-mayur yang tumbuh dengan subur itu, ia jatuh tersungkur ke tanah. Tubuhnya menggigil hebat, dan dadanya terasa sesak.

“Mak! Mak!” seru Mahmud sepulang dari sekolah dalam kondisi yang juga basah kuyup.

Di dalam rumah, Mahmud tak menemukan sosok ibu. Dalam sekejap terpkir olehnya pada sebuah gubuk dan kebun kecil di belakang rumah, lalu bergegas ke sana.

“Mak! Kenape dengan Mak?” Mahmud mendekap erat tubuh sang ibu, lalu mencoba membawanya untuk berteduh, namun tak berhasil ia lakukan karena Mahmud tak kuat sendirian memapah tubuh ibunya itu.

Pertanyaan Mahmud perihal kejadian itu tak di jawab oleh Aminah. Mulutnya terasa berat untuk berkata-kata. Sementara di tengah deras hujan, mata perempuan itu kian sayu, berusaha menatap wajah Mahmud dan memperharikannya dalam-dalam.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, Sebelum mengucap dua kalimat syahadat dan menghembuskan napas terakhir, Aminah sempat menyampaikan sebuah pesan, tentang sebatang pena tinta berwarna keemasan milik almarhum suaminya yang harus disimpan dan dijaga dengan baik. Pena itu tersimpan pada sebuah kotak hitam kecil di lemari pakaian miliknya.

“Mahmud… Simpanlah baik-baik pena itu. Jadilah anak yang baik… Jangan nakal dan buat orang susah ye!” pesan Aminah dengan suara yang lemah dan terdengar patah-patah.

Beberapa detik kemudian, dan setelah menyadari sang ibu tak lagi bernapas dan telah menghadap ilahi rabbi, Mahmud tak sanggup lagi menahan tangis. Tangis Mahmud pecah menyibak derasnya hujan petang itu, diiringi pula dengan pekik pilu hati yang menyayat jiwa.

Beberapa kali Mahmud memandangi wajah ibu dan dipeluknya erat-erat tubuh kaku tak bernyawa di hadapannya itu. Airmatanya kini tak lagi dapat dibendung, mengalir kian deras seperti hujan yang menyimbah, membasahi bumi dan segala yang ada padanya ketika itu.

Dalam basah hujan menjelang waktu Asar berakhir, orang-orang kampung telah ramai berdatangan untuk bertakziah. Mereka mengucapkan kata belasungkawa dan turut berduka cita atas musibah yang baru saja terjadi. Diantara mereka yang hadir, selain ada yang turut bersedih dan mencoba menghibur serta menenangkan hati Mahmud, ada juga yang datang dengan tulus meminta maaf darinya. Terutama mereka, orang-orang kampung yang selama ini masih menyimpan rasa marah dan salah dalam menilai perangai Mahmud selama ini.

***

Dalam kesendiriannya di makam ibu dan ayah, serta di tengah basah hujan rintik uang turun menjelang suatu petang, Mahmud menangis. Ia mencoba untuk ikhlas, menerima dengan penuh lapang dada atas semua ujian dan takdir tuhan yang telah menimpanya. Ia menyadari betul bahwa kedepan ia harus menjalani hidup dan hari-hari seorang diri, tanpa sosok ibu dan ayah yang selalu dikasihi.

Pesan almarhum ibu sebelum meninggal, akan selalu diingatnya, dijadikan sebagai pemicu dan semangat dirinya untuk bangkit, menjadi seorang anak yang bermanfaat dan berarti pada suatu saat nanti. Begitu juga dengan sebuah pena tinta berwarna keemasan tinggalan almarhum ayah, akan selalu dijaga dan setia mendampinginya dalam menggapai mimpi serta cita-citanya yang mulia.

***

Kebaikan hati Mahmud selama ini ternyata membawa berkah tersendiri dalam hidupnya. Salah seorang dermawan yang pernah ditolongnya saat terjadinya musibah banjir empat tahun lalu telah mendengar tentang kisah hidupnya yang penuh perjuangan. Dermawan itu memutuskan untuk memberikan beasiswa kepada Mahmud agar bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

Beberapa tahun sesudahnya, Mahmud berhasil menyelesaikan pendidikan di salah satu perguruan tinggi dan mendapatkan suatu pekerjaan yang layak. Di sela-sela pekerjaannya, ia juga aktif terlibat pada sebuah organisasi yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan, membantu masyarakat miskin dan orang-orang yang hidup dalam kesusahan. ***

————————————
 Marzuli Ridwan Al-bantany, adalah penulis dan penyair. Ia bermastatutin di Bengkalis Riau. Sejumlah buku cerpen yang pernah ditulis dan dibukukannya berjudul Burung-Burung yang Mengkapling Surga (FAM Publishing, 2018), dan Pada Senja yang Basah (Dotplus Publisher, 2021). *

Baca: Burung Bapak Hilang

*** Laman Cerpen terbit setiap hari Minggu dan menghadirkan tulisan-tulisan menarik bersama penulis muda hingga profesional. Silakan mengirim cerpen pribadi, serta terjemahan dengan menuliskan sumbernya ke email: [email protected]. Semua karya yang dikirim merupakan tanggunjawab penuh penulis, bukan dari hasil plagiat,- [redaksi]

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews