Oleh: Asri Zahira Rahmah
DI suatu pagi yang cerah, hiduplah seorang anak bernama Yuri. Ia adalah anak perempuan dari dua bersaudara. Ia memiliki seorang abang bernama Hagi. Yuri memiliki sifat pendiam, ramah, dan suka mendengarkan musik-musik yang tenang.
Berbeda dengan sang abang, Hagi, yang suka bicara ke sana kemari, ramah seperti Yuri, namun sedikit galak—meski tetap sangat menyayangi adiknya itu. Mereka berdua bersekolah di sekolah yang sama, yaitu SMA Pinus 05.
“Abang, ayo cepetan! Nanti Adek terlambat!” sahut Yuri dari ruang tamu, hendak menuju garasi bersama ayah dan ibunya.
“Iya, Dek, sabar. Abang juga udah mau siap!” jawab Hagi dari kamarnya.
Mereka pun menunggu Hagi bersiap agar bisa segera berangkat ke sekolah. Setelah Hagi selesai bersiap, ia langsung menuju mobil yang sudah dipanaskan dan masuk ke dalamnya.
Di dalam mobil sudah ada Yuri dengan muka cemberut, bersama ayah dan ibu mereka. Mobil pun berangkat. Jalan yang mereka lewati memang terkenal paling macet, karena itulah Yuri selalu menyarankan untuk berangkat lebih awal agar tidak terjebak di kemacetan.
Suasana di dalam mobil pun tenang. Ayah memutar musik-musik lembut, ibu sibuk melihat Facebook, Hagi sedang menyelesaikan tugas yang lupa dikerjakannya semalam, dan Yuri masih dengan ekspresi kesalnya, takut kalau-kalau mereka akan terlambat ke sekolah.
Benar saja, di tengah perjalanan mereka terjebak kemacetan. Ayah memperkirakan kemacetan akan berlangsung selama 10–15 menit, sedangkan sekolah akan dimulai dalam waktu 20 menit.
“Haaah… gimana kalau kita kejebak terus nggak bisa ke sekolah gara-gara telat? Mau nyalahin siapa, Adek?!” ucap Yuri kesal.
“Maaf, Dek. Abang salah. Harusnya Abang lebih cepat dan nggak begadang tadi malam,” jawab Hagi dengan nada menyesal.
“Udah-udah, nanti Ibu yang kasih penjelasan ke guru, ya. Biar kalian tetap bisa masuk,” ucap sang ibu.
Mereka pun terdiam mendengar itu.
Sesampainya di sekolah, ibu mereka ikut masuk dan menjelaskan kepada guru piket agar mereka tetap diizinkan masuk meskipun sudah terlambat 4 menit.
“Hm… oke, tapi cuma sekali ini saja. Besok jangan diulangi lagi, kalian berdua!” ucap guru itu sebelum masuk ke ruang guru.
Mereka pun berpamitan pada ibunya dan masuk ke kelas masing-masing.
“Maaf, Bu, saya telat!” ucap Hagi saat masuk ke kelasnya.
Sementara di sisi Yuri, “Bu… maaf banget saya telat gara-gara abang saya, Bu!” ujar Yuri sambil berdiri di depan kelas.
Mereka berdua, yang memang berbeda kelas, lalu duduk di tempat masing-masing. Pelajaran pun berlangsung hingga waktu istirahat tiba.
Seperti biasa, Hagi nongkrong di belakang sekolah. Yuri tahu abangnya ada di sana, tapi ia memilih untuk tidak menghampiri. Kenapa? Karena ia takut mengganggu abangnya yang sedang bersama teman-temannya. Jadi, Yuri memilih bermain dengan temannya, Lina.
Lina adalah anak yang baik hati, murah senyum, berambut panjang bergelombang, dan memiliki kulit kuning langsat. Warna matanya seperti langit malam yang dipenuhi ribuan bintang.
“Eh, hai Yuri. Tumben nggak di kelas?” tanya Lina.
“Yah, mau keluar aja sih, nyari angin,” jawab Yuri pada Lina yang tersenyum manis bagai gulali.
Mereka lalu pergi ke kantin untuk membeli jajanan, lalu kembali ke kelas dan bergosip bersama teman-teman. Setelah jam istirahat usai, mereka membuang sampah dan kembali ke kursi masing-masing.
Pelajaran selanjutnya adalah IPA (Ilmu Pengetahuan Alam). Teman Yuri bernama Naufal dengan semangat menjawab semua pertanyaan guru, seperti sedang memasak dan menambahkan racikan rahasia seorang master chef!
“Biarkan dia memasak!!” sahut Lina semangat saat Naufal bersiap menjawab soal ketiga.
Kelas itu dipenuhi tawa dan keceriaan. Tak ada satu jam pun yang membuat kelas itu sepi. Bahkan ketua kelas, Raditya, pun mengalah untuk menjaga ketenangan kelas itu.
Setelah pelajaran IPA selesai, masuklah pelajaran terakhir yaitu Seni Budaya. Mereka semua mengerjakan tugas menggambar dengan penuh semangat. Ada yang menggambar wajah teman, uang, pemandangan, dan lainnya.
Sementara itu, di sisi Hagi, suasana kelas sangat damai dan tenang. Sebab, rata-rata siswa di kelasnya adalah 90% introvert. Yang ekstrovert pun seakan ikut “menyerah” dan ikut diam seperti yang lain.
Hagi mengerjakan soal Matematika dengan sangat teliti, hingga ia tak sadar bahwa kertas coretannya sudah penuh dengan angka dan rumus.
“Duh… ini gimana mau bacanya lagi?” gumam Hagi bingung.
Ia pun mengambil kertas baru dan melanjutkan soal selanjutnya.
Setelah semua pelajaran selesai, Hagi dan Yuri bertemu di gerbang sekolah. Sebagian murid sudah dijemput orang tua masing-masing, sebagian lagi membeli jajanan di pinggir jalan.
“Kapan kita dijemput, Bang?” tanya Yuri.
“Bentar lagi, Dek. Palingan sekitar 5 menit lagi,” jawab Hagi sambil melihat jam tangannya.
Namun setelah 5 menit berlalu, orang tua mereka belum juga datang.
“Bang, kenapa Ayah sama Mama belum juga datang?” tanya Yuri sambil menelepon orang tua mereka yang tak kunjung mengangkat.
Sudah 5–8 panggilan dilakukan, tetap tidak ada jawaban. Hagi lalu membuka ponselnya dan membaca berita terbaru. Matanya tiba-tiba tertuju pada satu berita.
“Hah… nggak mungkin…” gumam Hagi sambil menatap layar ponsel dengan syok.
Yuri yang penasaran ikut mengintip. Saat melihat layar ponsel:
“
Bang… itu… serius itu plat mobil dan mobil Ayah sama Mama?” tanya Yuri dengan muka pucat.
Hagi mengangguk pelan.
Setelah ditelusuri lebih lanjut, benar. Itu adalah mobil orang tua mereka.
“Telah ditemukan sepasang pasutri yang mengalami kecelakaan akibat ditabrak oleh pengendara truk dalam keadaan mabuk. Pasutri tersebut telah dilarikan ke Rumah Sakit Di Hatimu. Pengendara truk hanya mengalami luka ringan, sementara pasutri tersebut mengalami luka berat. Tujuan pasutri itu diketahui hendak menjemput anak mereka dari SMA Pinus 05.”
Hagi dan Yuri saling menatap. Yuri langsung menangis sejadi-jadinya dan memeluk abangnya. Hagi pun memeluk adiknya erat sambil menahan tangis.
Setelah tangisan Yuri mulai reda, Hagi memesan Maxim untuk mengantarkan mereka ke Rumah Sakit Di Hatimu.
Sesampainya di rumah sakit, Hagi langsung menarik tangan adiknya menuju meja informasi.
“Halo Mbak, tadi barusan ada sepasang pasutri yang luka berat, kan?” tanya Hagi panik.
Petugas operator menghela napas, lalu memandang Hagi dan Yuri.
“Maaf, Dik. Tapi pasangan tersebut telah meninggal dunia sesaat setelah tiba di rumah sakit ini. Apakah kalian berdua ada hubungannya dengan mereka?”
Hagi dan Yuri langsung syok dan menangis sejadi-jadinya. Beberapa orang di sana membantu menenangkan mereka.
Setelah Hagi menjelaskan bahwa pasutri tersebut adalah orang tua mereka, sang petugas pun ikut menyampaikan belasungkawa atas kejadian itu.
Dan kini… pelukan hangat itu… telah menghilang, tanpa kabar. ***
———————
Asri Zahira Rahmah bisa dipanggil Zahira ataupun Asri bagi pembacanya, seorang anak perempuan berumur 12 tahun lahir di Kota Duri Kecamatan Mandau, Bengkalis – Riau pada tanggal 15 Maret 2013. Saat ini dia adalah seorang pelajar SMP It Wahatul Ullum Duri. Alumni MI Hubbulwathan ini, tinggal di Gang Ikri 4 Km 5 Kota Duri. Untuk menjalin perkenalan, bisa melalui email [email protected]. *
Baca: Anak Hujan






