Oleh Marzuli Ridwan Al-bantany
KEDUA mata anak muda itu seakan tak berkedip sedikit-pun. Ia menatap tajam riak ombak nan beralun memecah tebing-tebing pantai, seolah-olah ombak itu membawa suatu kisah yang patut untuk didengar dan direnungkan. Kisah tentang kehidupan yang terus bergerak dan berubah-ubah dari waktu ke waktu, dari bulan ke bulan, tahun ke tahun. Bahkan dari satu zaman ke zaman lainnya.
Pemuda itu masih memaku diri di situ, berdiri tepat di pinggir muara Sungai Bengkalis yang menyimpan ribuan kenangan dan kisah masa lalu. Ia benar-benar merasakan hembusan angin laut Selat Bengkalis yang lembut menerpa wajahnya,- yang mengantarkannya pada masa-masa kebesaran dan kegemilangan nama daerah itu, dengan berbagai aktivitas kehidupan warganya di masa yang lalu.
Di muara Sungai Bengkalis yang berhadapan langsung dengan pulau Sumatera itu, ia merasa sangat kecil. Ia bukan siapa-siapa bila berhadapan dengan kekuatan alam yang tengah disaksikannya. Namun pada saat yang sama, ia merasa terhubung dengan keindahan dan kekuatan itu. Begitu pun pada sejarah yang masih membenam di kedalaman muara dan lautnya yang dalam.
Dalam sebuah buku berjudul Bengkalis Negeri Jelapang Padi yang ditulis Riza Pahlefi, pemuda itu menemukan suatu catatan sejarah yang sangat memukau, bahwa di muara Sungai Bengkalis itu dipercayai sebagai pusat negeri Bengkalis di masa lalu, sebelum ianya dipindahkan oleh pemerintah Hindia Belanda ke Kampung Baru, yakni sebuah kawasan Pelabuhan Pelindo Bengkalis saat ini.
Selain itu, sejarah sebagaimana yang tertulis juga menyatakan jika salah satu indikasi bahwa pernah ada pemukiman yang ramai di kawasan muara Sungai Bengkalis tersebut adalah masih dapat ditemukannya benda-benda kuno seperti pecahan keramik Cina dari berbagai dinasti, berbagai bentuk koin baik emas, perak ataupun perunggu, serta barang-barang lain di pesisir pantai di kawasan tersebut. Barang-barang ini lebih mudah ditemukan bila angin bertiup dari Selatan (musim Selatan), ketika air laut surut relatif lebih jauh dibandingkan dari musim-musim lainnya.
“Aduhai ombak! Sepertinya engkau masih saja terus begini, menghempasi muara dan pantai Sungai Bengkalis yang permai ini. Juga pada semua tebing pantainya dengan ganas dan tanpa ampun,” gumamnya seorang diri, seraya memperhatikan sisi kiri dan kanan sekitar muara. Beberapa titik tebing, tampak ada yang telah runtuh ke laut, tak mampu menahan ombak yang selalu datang menghempasinya.
Di hadapannya, ombak-ombak yang beralun seiring air laut yang mulai pasang itu, seakan tak peduli lagi pada rasa khawatir dan gelisah hati sang pemuda itu. Dalam sekejap, ombak yang disenandungkan angin musim Selatan ini terus saja memecah, membentuk irama yang berulang-ulang, mengingatkan pemuda itu akan siklus kehidupan yang terus berputar.
Seketika pemuda itu menatap jauh ke laut, mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menghantui pikirannya. Apakah kehidupan ini hanya tentang ombak yang terus memecah, ataukah ada sesuatu yang lebih dalam selain dari itu semua?
***
Seperti hari-hari sebelumnya, pemuda itu kembali ke pantai itu, dan terus menatap ombak. Musim liburan panjang ke kampung ayahnya kali ini, betul-betul dimanfaatkannya untuk memanjakan diri ke pantai. Ia sepertinya rela, membiarkan sekujur tubuhnya disapu angin, disengat matahari yang sudah tentu membuat kulit kuning langsatnya sedikit menghitam.
“Tak mengapa-lah! Bukan pun selalu,” pikir pemuda itu.
Ketika bermanja-manja di bibir muara Sungai Bengkalis dan pantai itu, ia merasakan ada semacam kekuatan serta keindahan pesona alam yang tak terkalahkan.
Di tempat itu pula ia merasa hatinya kian damai, seolah-olah ombak yang ditatapnya itu membawa beberapa pesan tentang kehidupan yang sebenarnya. Ia terus menemukan jawaban itu, tentang kisah kehidupan masa lalu yang mungkin disembunyikan di sekitar tempatnya kini berdiri, atau sejarah yang mungkin terlalu lama dilupakan.
Entahlah, pemuda itu hanya berandai-andai. Namun di tengah perenungannya mencari jawaban itu, ia sadar bahwa kehidupan ini penuh dengan tantangan dan perubahan. Dengan menatap ombak-ombak di pantai itu, ia kini telah merasa siap untuk menghadapi semua tantangan dalam hidupnya.
***
Sedang asyiknya ia menatap ombak, merasakan kekuatan dan keindahan alam yang tak terkalahkan itu, tiba-tiba seorang lelaki tua berpakaian serba putih mendekatinya. Dengan wajah yang penuh dengan kerutan dan mata yang berbinar, ia menepuk-menepuk pundak pemuda itu.
“Wahai anak muda, apa yang kamu pikirkan?” tanya lelaki tua itu dengan suara yang lembut.
Pemuda itu merasa terkejut, lalu menoleh ke arah lelaki tua itu, “Oh… Aku hanya menatap ombak, Pak Tua. Aku merasa damai ketika berada di tempat ini,” jawabnya dengan penuh senyum.
Lelaki tua itu turut tersenyum, “Ah, ombak memang memiliki kekuatan yang luar biasa. Pantai ini telah menjadi saksi bisu akan sebuah sejarah negeri selama berabad-abad,” katanya dengan nada yang penuh nostalgia.
“Sejarah negeri ini! Apakah itu maksudnya sejarah Bengkalis?” tanya pemuda itu dengan rasa ingin tahu.
“Ya, anak muda. Benar sekali!” Lelaki tua itu mengatur posisi berdirinya.
“Pulau Bengkalis ini memiliki kekayaan sejarahnya. Dahulu, di sekitar muara dan pantai Sungai Bengkalis ini adalah tempat perdagangan yang sibuk, dengan kapal-kapal yang datang dari berbagai penjuru dunia,” kata lelaki tua itu dengan mata yang berbinar.
Pemuda itu mendengarkan penjelasan lelaki tua itu dengan saksama, “Wah, itu luar biasa! Apa yang terjadi dengan perdagangan itu, Pak Tua?” tanyanya dengan rasa ingin tahu.
“Perdagangan itu berlangsung selama berabad-abad, namun kemudian mengalami kemunduran. Namun, pantai ini tetap menjadi tempat yang penting bagi masyarakat Bengkalis,” kata lelaki tua itu dengan bangga.
Pemuda itu tersenyum, “Aku senang mendengar sejarah ini, Pak Tua. Aku merasa bangga menjadi bagian dari Bengkalis, meski kadang aku jarang kemari disebabkan jauh merantau ke kampung orang. Tapi karena ayahku berasal dari pulau Bengkalis ini, telah membuatku menyukai pulau ini juga,” katanya.
Lelaki tua itu tersenyum. Ia sepertinya turut menyimpan rasa bangga kepada pemuda itu. “Bengkalis ini memiliki masa depan yang cerah. Masyarakatnya akan senantiasa hidup makmur dan sejahtera. Aku yakin engkau akan menjadi bagian dari itu semua, kelak,” kata lelaki tua itu seakan menaruh harapan yang besar kepada pemuda itu.
Pemuda itu mengangguk, merasa terinspirasi oleh cerita lelaki tua itu. Ia merasa bahwa pantai ini tidak hanya memiliki keindahan alam, tapi juga memiliki sejarah dan budaya yang kaya. Ia berjanji untuk melestarikan dan mempromosikan keindahan dan sejarah Bengkalis kepada generasi-generasi berikutnya.
***
Semenjak pertemuannya dengan lelaki tua mistirius di muara Sungai Bengkalis beberapa hari lalu, pemuda itu tampak menjalani hari-hari kedepan dengan penuh arti. Kini ia merasa sangat terinspirasi oleh cerita lelaki tua yang ditemuinya itu. Ia memutuskan untuk mempelajari lebih lanjut tentang sejarah Bengkalis, termasuk bagaimana cara melestarikannya.
Di waktu-waktu luang, ia mulai mengunjungi museum, membaca buku-buku sejarah, dan berbicara dengan orang-orang tua yang memiliki pengetahuan tentang sejarah Bengkalis.
Semakin banyak yang ia pelajari, semakin besar rasa cintanya terhadap sejarah Bengkalis. Ia menyadari bahwa sejarah bukan hanya tentang masa lalu, tapi juga tentang identitas dan kebudayaan masyarakat. Ia merasa bahwa menjaga warisan sejarah adalah penting untuk melestarikan identitas dan kebudayaan Bengkalis.
“Aku ingin menjadi bagian dari upaya melestarikan sejarah Bengkalis,” kata pemuda itu dengan tekad yang kuat.
***
“Aku suka pada anak muda yang mencintai sejarah dan budayanya. Menjaga warisan sejarah adalah tugas kita semua. Kita harus melestarikannya untuk generasi-generasi berikutnya,” kata Pak Penghulu Ahmad Lebo dengan penuh harap.
Pemuda itu mengangguk, merasa bahwa ia telah menemukan tujuan hidupnya. Mulai saat itu ia berjanji untuk terus mempelajari dan melestarikan sejarah Bengkalis, serta mempromosikannya kepada orang lain. Bahkan sempat terbetik di dalam hatinya, bagaimana suatu saat nanti ia dapat turut berkiprah dan berkontribusi lebih besar, menjadi bagian penting dalam mewujudkan Bengkalis menjadi daerah yang bertamadun dan berbudaya.
***
Seiring waktu berlalu, pemuda itu kian tekun menjaga dan menjadi garda terdepan dalam mengembangkan warisan sejarah serta budaya Bengkalis. Ia menjadi contoh bagi orang lain tentang pentingnya melestarikan sejarah dan kebudayaan. Saat itu, kehidupan masyarakat Bengkalis demikian maju dengan pesatnya. Masyarakatnya juga hidup dalam kemakmuran dan kesejahteraan,- dengan sejarah dan kebudayaan yang tetap terjaga dan terpelihara.
“Warisan sejarah adalah harta yang tak ternilai harganya. Kita harus menjaga dan merawatnya dengan baik!” kata pemuda itu di hadapan para pemangku kepentingan dan undangan lainnya dalam sebuah acara formal yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bengkalis.
Dengan penuh kesadaran, pemuda itu bersama para pemangku kepentingan di daerahnya terus berjuang untuk melestarikan sejarah Bengkalis, serta berupaya mempromosikannya kepada para generasi muda, termasuk dunia luar. Ia yakin, bahwa dengan menjaga warisan sejarah, Bengkalis akan tetap menjadi tempat yang indah dan makmur untuk dihuni dan dikunjungi.
***
Beberapa tahun berlalu, pemuda itu tak lagi sendiri mengunjungi muara Sungai Bengkalis dan pantainya itu. Kini ia ditemani sejumlah kepala dinas dan konsultan perencana menyusuri setiap jengkal sungai dan muaranya. Ia merencanakan agar di sekitar lokasi tersebut dijadikan sebuah situs peninggalan sejarah yang harus tetap dilestarikan sepanjang waktu. Sekitar lokasi itu nanti juga turut dibangun sebuah kawasan wisata yang asri dan nyaman, dengan lampu-lampu bergemerlap cahaya. Sepanjang kawasan wisata ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung dan penting lainnya sebagai penopang ekonomi masyarakat sekitar. Berbagai even budaya secara berkelanjutan nantinya juga diharapkannya dapat diselenggarakan di lokasi ini.
Bila proyek besar ini berhasil dijalankan, maka sudah tentu secara perlahan di kawasan bersejarah ini kelak akan menjadi ikon baru bagi Kota Bengkalis, yakni sebagai salah satu pusat sejarah terunggul yang dimiliki Bengkalis di rantau ini,- sebuah pulau kecil yang banyak menyimpan sejarah masa lalu. Juga kenangan yang masih tersimpan rapi di setiap ingatan penduduk negerinya yang mendambakan kemakmuran dan kesejahteraan. ***
Bengkalis, 9 September 2025
—————————-
Marzuli Ridwan Al-bantany, adalah penulis dan sastrawan Indonesia bermastautin di Bengkalis, Riau. Selain menulis cerpen, beliau juga gemar menulis puisi, esai dan artikel budaya lainnya. Jalan Pulang, adalah sebuah buku novel perdana yang ia tulis dan terbitkan belum lama ini.*
Baca: Pelukan Hangat, Kini Menghilang






