Dalam Dekap Cahaya*
kepada Firdaus LN
Bismillah,
Dalam dekap cahaya,
Aku melangkah dari rumah sederhana beratap meria
Ibarat sebutir debu meniti sinar,
merisik di gurun makna dalam bara fana
mencelup ke palung jiwa
tempat sunyi bersujud pada cahaya rahasia.
Ada berkas cahaya
bukan sekadar terang, tapi kesaksian wujud,
nur yang menembus kabut logika,
Pelita di taman-taman hikmah
Dari junamnya akar tauhid terceruk rahasia
Setiap langkah menarah huruf,
setiap luka berdarah tafsir,
setiap air mata mengalirkan ayat
tentang manusia pencari Tuhannya di dalam diri
di antara reruntuh makna dunia.
Aku memungut cahaya
dari reranting waktu dan tetesan embun atap meria
dari percik peluh dan sembahyang Emak dan Abah
dari denting kata yang merangkai takdir
tinta kesabaran dan zikir panjang.
Ilmu adalah suluh
seperti pelita di lembah sunyi
laksana kandil di gerobok buku
Cahayanya menyibak tabir malam keheningan diri.
Kutemukan Maha Cahaya bukan di langit jauh,
dalam ruang batin juga tersentuh
tempat aku berhenti menjadi aku.
Dalam dekap cahaya,
aku tak lagi berjalan
tapi telah menjadi langkah
Tak ada jarak antara pencari dan pertemuan,
karena seluruh perjalanan ini
hanyalah satu titik:
Kembali kepada Yang Maha Terang.
Alhamdulillah.
Dalam roro Selat Bengkalis dan Jakarta, Jumat-Sabtu, 02 s.d. 03 Jumadil Awal 1447 H / 24 s.d. 25 Oktober 2025
*) Diambil dari judul autobiografi “Dalam Dekap Cahaya” oleh Prof. Dr. LN Firdaus.
————————–
Musa Ismail, lahir di Pulau Buru Karimun, Kepulauan Riau, 14 Maret 1971. Karyanya adalah kumpulan cerpen “Sebuah Kesaksian” (2002), esai sastra-budaya “Membela Marwah Melayu” (2007), novel “Tangisan Batang Pudu” (2008), kumpulan cerpen “Tuan Presiden, Keranda, dan Kapal Sabut” (2009), kumpulan cerpen “Hikayat Kampung Asap” (2010), novel “Lautan Rindu” (2010), kumpulan cerpen “Surga yang Terkunci” (2015), dan novel Demi Masa (2017). Pernah meraih Anugerah Sagang kategori buku pilihan (2010) dan peraih Anugerah Pemangku Prestasi Seni Disbudpar Provinsi Riau (2012). Puisi-puisinya terjalin dalam beberapa antologi karya pilihan harian Riau Pos, antologi “Setanggi Junjungan” (FAM Publishing, 2016), antologi puisi HPI “Menderas sampai ke Siak” (2017), “Mufakat Air” (2017), Jejak Air Mata: Dari Sitture ke Kuala Langsa (Jakarta, 2017), Mengunyah Geram: Seratus Puisi Melawan Korupsi (Jakarta, 2017), Dara dan Azab (Malaysia, 2017), Kunanti di Kampar Kiri (Pekanbaru, 2018), Jazirah (Tanjungpinang, 2018). Kumpulan puisi perdananya bertajuk Tak Malu Kita Jadi Melayu (TareBooks, 2019). Pada 2019 juga, terbit bukunya berjudul Guru Hebat (Tarebooks). Pada 2020, terbit buku esainya yang berjudul Perjalanan Kelekatu ke Republik Jangkrik (Tarebooks, 2020) dan novel Sumbang (dotplus, 2020). Dia masih terus belajar menulis. *
Baca : Puisi-Puisi Karya Seniman Musa Ismail






