Bunga-Bunga Makar

makar

MEREKA berencana mengatur agenda, duduki kursi kekuasaan umat kami. Doa kami, ya Allah Yang Maha Kuasa, “hancurberantakan mereka. Sebaik-baiknya adalah rencana Mu, makar Mu, revolusi Mu dalam kunfayakun.”

Doa-doa itu, aku panjatkan pada taman-taman hati para petinggi negeri sebelum jauh melupa diri. Taman indah bunga ibu pertiwi, kini tak semerbak harum mewangi. Bunga-bunga tak memekar lagi. Bunga-bunga enggan memekar, merajuk hati. Taman makam pahlawan sudah menjadi ironi. Para penguasa tak punya hati. Mengusir pejuang-pejuang kami hendak bermunasabah diri.

Gemik-remik negeri ku yang memekik-pekak nurani tak henti-henti. Dari bunga bank, deposito sampai bunga utang menggunung-tumpuk siapa menanggung? Bunga utang membengkak kembang mekar membusuk. Hati tertusuk-musuk walau berulang-kali mendoa, menanti-harap kapan bunga utang negeri ku mengkuncup-layu?

Sementara para penjahat negeri dengan berbagai ilmu mumpuni penuh kamuflase-manipulasi memperkaya diri menggerus terus-menerus sehingga perusahaan negara merugi. Betapa ironis negeri kami, penjahat merampok rakyat yang mengganti. Dari mana uang untuk mengganti? Kais pagi makan pagi, perut kami seharian ini masih terus pedih.

Pada sisi lain, para wakilnya asyik-masyuk duduk santai tak peduli, hanya mengkalkulasi berapa untung berapa rugi hari ini yang diperolehi. Lihatlah, regulasi diperkusi hanya untuk kepentingan oligarki. Apa yang kau cari wahai yang mengklaim wakil rakyat negeri? Jangan pura-pura lupa dengan janji-janji. Sumpah mu adalah utang mu, khianat mu. Tunggu bala mu.

Doa-doa tetap aku mohon-panjatkan walau penguasa pekak-kelu. Aku yakin bunga-bunga tetap memekar, kumbang, kupu, dan capung masih tetap berkelakar. Sesekali terdengar dari telinga, mereka pun berdoa agar taman-taman bunganya, tetap mekar walaupun ada upaya ingin dibakar.

Suatu saat mereka (capung dan kawan-kawan), terdengar sepoi-sepoi saling-membisik, “mengancam makar”, bila penguasa negeri terus membakar taman-taman bunga mereka.

Aku tak yakin mereka mampu. Aku hanya yakin doa mereka sedang bekerja. Doa yang sedang menanti makar Mu ya Rabb ku. Jika penguasa tetap menjadi tirani. ***

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *