Disketapang Pekanbaru Siapkan Program Strategis Hadapi Pandemi Ekonomi

Kepala Dinas Tanaman Pangan Kota Pekanbaru Alek Kurniawan melakukan monitoring dan evaluasi kegiatan P2L di Kelompok Wanita Tani Pelita Hati.

LAMANRIAU.COM, PEKANBARU – Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kota Pekanbaru telah mempersiapkan berbagai program strategis ketahanan pangan menghadapi pandemi ekonomi akibat dampak Corona Virus Diseas 2019 yang terjadi di daerah ini.

Kondisi ekonomi hari ini yang mulai berlangsung sejak awal Maret 2020 telah berubah secara dramatis. Pandemi global akibat Corona Virus Diseas 2019 atau yang lebih dikenal Covid-19 telah menghantam seluruh sektor di seluruh dunia tak terkecuali di kota Pekanbaru sendiri.

Menurut Walikota Pekanbaru Dr H Firdaus ST MT, hal ini berimplikasi pada aspek sosial, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat. Antara lain terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi, penurunan penerimaan daerah, dan peningkatan belanja yang diperlukan untuk melakukan penyelamatan Kesehatan dan perekonomian.

Saat ini pemerintah fokus pada belanja untuk kesehatan, jaring pengaman sosial (social safetynet), serta pemulihan perekonomian termasuk untuk dunia usaha dan masyarakat yang terdampak.

“Pandemi Covid-19 telah membawa dampak krisis besar terhadap berbagai sektor, utamanya terhadap kesehatan dan ekonomi. Selain mitigasi sektor kesehatan, sektor ekonomi harus dipertahankan sebagai respon atas penurunan aktivitas masyarakat yang ekonominya terdampak secara langsung,” ucap Firdaus dalam berbagai kesempatan. Salah satunya pada Rapat Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) tingkat kota Pekanbaru pada beberapa waktu terdahulu.

Hal ini menjadi perhatian serius Kadis Ketapang Alek Kurniawan, SP, M.Si dengan menerjemahkan arahan Datuk Bandar Setia Amanah tersebut dengan berbagai kebijakan strategis dalam bidang ketahanan pangan.

“Selain mitigasi sektor kesehatan, sektor ekonomi harus dipertahankan sebagai respon atas penurunan aktivitas masyarakat yang ekonominya terdampak secara langsung. Setidaknya itulah arahan dari Pak Walikota kepada kami dan tim yang tergabung dalam Tim PEN Pekanbaru,” kata Alek Kurniawan.

Alek Kurniawan yang juga dikenal dengan sebutan Kadis akur merupakan nakhoda Dinas Ketahanan Pangan Kota Pekanbaru yang dalam tim PEN tersebut dipercayai sebagai Koordinator Bidang Pertanian, Peternakan dan Ketahanan Pangan.

Alek menyampaikan kebijakan-kebijakan strategis Pemerintah Kota Pekanbaru melalui Dinas Ketahanan Pangan. Ia menyebutkan bahwa dalam konteks keberlanjutan ekonomi suatu daerah secara sederhana dapat diwujudkan melalui optimalisasi investasi, belanja pemerintah, konsumsi masyarakat dan ekspor-impor.

Menurutnya, hal yang paling logis untuk keberlangsungan hidup ekonomi dari pilihan yang ada saat ini adalah optimalisasi dari belanja pemerintah karena 3 indikator lainnya; investasi, konsumsi masyarakat dan ekspor impor terus melambat dan tumbuh negatif.

Panen jagung di kawasan program siCANTIG di Kelurahan Agrowisata, Rumbai Barat.

Artinya instrumen belanja pemerintah menjadi lokomotif utama sebagai penggerak ekonomi namun pada sisi lain ada pressure atau tekanan pada penerimaan Negara dan daerah untuk penyediaan dananya. Karena setiap belanja yang dikeluarkan pemerintah tentu membutuhkan sumber pendanaan yang tidak sedikit. “Kita dalam dilematis yang butuh ketelitian dan kesabaran ekstra,” ungkap Akur.

Pada satu sisi, menggenjot optimalisasi belanja pemerintah untuk perputaran ekonomi, namun disisi lainnya Pemerintah juga harus melakukan optimalisasi penyediaan dana untuk belanja dimaksud. “Makanya prioritas belanja pemerintah saat ini harus yang bermuara kepada Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN),” terangnya lagi.

Alek menegaskan bahwa ada atau tidak adanya covid-19, sebenarnya isu-isu ketahanan pangan selalu menjadi isu strategis. Apalagi pada masa pandemi seperti ini. Namun yang terpenting perlakuan kepada sektor pangan harus memadai kalau tidak ingin pangan berdaulat hanya sebatas slogan.

“Karena pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling utama dan pemenuhannya merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dijamin dalam konstitusi sebagai komponen dasar untuk mewujudkan sumberdaya manusia yang berkualitas,” terangnya.

Lebih lanjut Alek menguraikan langkah-langkah kongret strategisnya (ditengah segala keterbatasan dalam mendorong Pemulihan Ekonomi Nasional/PEN) dalam tiga kelompok besar sesuai SOTK Dinas Ketahanan Pangan yang ia pimpin. Yaitu ketersediaan dan kerawanan pangan, distribusi dan cadangan pangan serta konsumsi dan keamanan pangan.

Dalam tusi (singkatan dari tugas pokok dan fungsi), ketersediaan dan kerawanan pangan, dia bersama tim Disketapang dan SKPD mitra lainnya terus menggesa optimalisasi belanja kegiatan-kegiatan strategis di antaranya peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani dan pelaku usaha pangan.

“Kegiatan ini diwujudkan melalui Pemberdayaan Masyarakat lewat Pengembangan Kawasan Mandiri Pangan dan Pekarangan Pangan Lestari (P2L),” katanya.

Kenyataan yang harus diakui, sebut Alek, bahwa sektor pertanian Indonesia dan juga terjadi di Kota Pekanbaru, sebagian besar sektor pertanian dibangun oleh petani dengan skala usaha yang relatif kecil. Keadaan pelaku usaha pertanian tersebut setiap tahun semakin bertambah jumlahnya dengan tingkat kesejahteraan yang masih rendah.

“Skala usaha pertanian yang kecil menghambat petani meningkatkan pendapatannya sehingga sulit keluar dari lingkaran kemiskinan. Sehingga peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani dan Pelaku usaha pangan mutlak harus dilakukan,” jelasnya.

Program strategis yang telah dilakukan Dinas Ketahanan Pangan dalam rangka mengoptimalkan sektor ini adalah melalui Kegiatan Pekarangan Pangan Lestari (P2L) dan Pengembangan Kawasan Mandiri Pangan (KAMAPAN).

Optimalisasi kegiatan P2L diarahkan melalui penyaluran stimulus bantuan untuk aktualisasi pemanfaatan lahan pekarangan secara optimal untuk pengembangan ketersediaan pangan yang beraneka ragam pada setiap rumah tangga dalam suatu kawasan.

Objek penerima manfaat adalah kelompok wanita tani. Selanjutnya dalam skala yang agak besar, Dinas Ketahanan Pangan juga turut suksesi dalam program kawasan mandiri pangan adalah kawasan yang dibangun dengan melibatkan keterwakilan masyarakat dalam rangka meningkatkan pengelolaan kelembagaan masyarakat untuk ketahanan pangan masyarakat.

“Output kegiatan saat ini berupa pemberian bibit tanaman, infrastruktur dan belanja pendukung kegiatan penumbuhan terhadap Kelompok Tani (KT),” katanya.

Dalam kurun 2 tahun terakhir untuk kegiatan ini baru mampu menyentuh 39 kelompok tani atau Kelompok Wanita Tani. Sementara jumlah kelompok tani dan Kelompok Wanita Tani yang ada di Kota Pekanbaru berdasarkan aplikasi SIMLUHTAN Kementan ada 400-an kelompok dengan rata-rata anggota per kelompok 25 – 30 orang.

Dana ini bersumber dari APBD dengan penguatan dari Dana Insentif Daerah tambahan dan Dana Alokasi Khusus Non Fisik Ketahanan Pangan dan Pertanian.

“Artinya kita baru dapat memberi stimulus kepada 10% dari total jumlah kelompok tani/ KWT yang ada di Kota Pekanbaru” lanjutnya lagi.

Alek menjelaskan pada era globalisasi ini, hanya pelaku bisnis yang efisien yang akan memenangkan persaingan. Sebagian besar pelaku bisnis pertanian Indonesia adalah para petani dan pengusaha kecil yang bila berhimpun dalam organisasi ekonomi yang kuat maka akan memperoleh manfaat (kesejahteraan) tidak hanya bagi dirinya melainkan juga bagi masyarakat dan bangsanya.

Pemberdayaan kelembagaan kelompok tani merupakan serangkaian upaya yang sistematis, konsisten dan berkelanjutan untuk meningkatkan daya adaptasi dan inovasi petani guna memanfaatkan teknologi secara optimal dalam bingkai aturan main yang ada untuk mencapai tujuan bersama secara lebih efisien.

Dia menyebutkan lagi bahwa terdapat tiga tahap dalam mewujudkan kesejahteraan petani, tahap pertama, pemberdayaan organisasi petani yakni tahap pemberdayaan kelembagaan petani (pengembangan SDM, pengembangan teknologi dan rekayasa aturan main organisasi), tahap kedua pengembangan jaringan kemitraan bisnis (network business), dan tahap ketiga peningkatan daya saing (competitiveness).

Walaupun dalam keterbatasan, Alek menyebutkan bahwa program strategis yang menyelaraskan maksud ini adalah outlet Puan Berseri, Pekan Pangan Madani dan mendorong pemanfaatan sumber daya pangan lokal melalui konsumsi pangan lokal dalam kegiatan-kegiatan di Instansi Pemerintahan dan instansi lainnya sebagaimana yang tertuang dalam Instruksi Walikota Pekanbaru Nomor 521/DKP/2432 tahun 2020.

Sehingga APBN ataupun APBD tersalurkan kembali secara langsung kepada masyarakat utamanya kepada pelaku usaha pertanian dan pangan. Wujud nyatanya ada pada tusi distribusi dan cadangan pangan yang direalisasikan dengan kegiatan revitalisasi dan penguatan kelembagaan petani dan pelaku usaha pangan melalui optimalisasi pemanfaatan outlet pangan Puan Berseri, kegiatan Pekan Pangan Madani dan mendukung penuh Pembentukan PT Sarana Pangan Madani sebagai BUMD.

Kedepannya Alek juga Mendorong terciptanya pengembangan korporasi usaha tani hulu hilir. “Pada tusi distribusi dan cadangan pangan, kami juga berusaha maksimal melalui kegiatan revitalisasi kelembagaan pangan melalui outlet pangan Puan Berseri dan Pekan Pangan Madani yang selanjutnya lebih dikenal dengan nama PPM. Slogan kami adalah “Petani Untung, Masyarakat Beruntung”. Kami juga mendukung penuh terbentuknya PT SPM menjadi BUMD Kota Pekanbaru,” tukasnya lagi.

Outlet Puan Berseri dan Pekan Pangan Madani program gagasan Dinas Ketahanan Pangan Kota Pekanbaru.

Outlet pangan Puan Berseri (Pemasaran Usahan Pangan Bersama Secara Lestari) didirikan pada dasarnya bertujuan untuk menyediakan bahan pangan dari produk segar dan produk olahan yang terjangkau bagi masyarakat yang disediakan langsung oleh binaan Dinas Ketapang melalui KWT dan KT serta UMKM di bidang pangan, Bulog dan vendor lainnya.

Sementara PPM yaitu Sarana tempat berjualan ( market place) penjualan produk – produk pangan segar dan olahan dari para kelompok tani, Kelompok Wanita Tani, UMKM dan pegiat usaha pangan lainnya yang ditaja secara rutin setiap pekannya (hari Kamis pagi) di Kantor Dinas Ketahanan Pangan pada pukul 08.00 – 12.00 WIB.

Pada tusi ini juga dikenal optimalisasi kegiatan Pengadaan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) dalam hal ini adalah komoditas beras. Hal ini dalam rangka menindaklanjuti Surat Menteri Pertanian RI Nomor 91/KN.130/M/5/2020 tentang Penguatan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah jo Instuksi Menteri Dalam Negeri Nomor 2/2020 tentang Menjaga Ketahanan Pangan pada saat tanggap darurat pandemi covid-19 yang pada prinsipnya menginstruksikan pengadaan cadangan pangan Pemerintah Daerah dalam rangka peningkatan kesiapan pangan untuk menghadapi dampak pandemi covid-19 yang laporannya secara berkala dilaporkan kepada Kementerian Dalam Negeri Cq. Dirjen Bina Pembangunan Daerah dan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian RI.

“Ya, kita ada CPPD untuk peningkatan kesiapan pangan untuk menghadapi dampak pandemi covid-19, walaupun belum memenuhi standar (kuota yang diharapkan nasional) tapi kita telah menanggapi isu ini di awal, dengan adanya Perwako sebagai payung hukumnya” tegasnya lagi.

Eks Sekretaris DPRD Kota Pekanbaru ini melanjutkan usaha yang dioptimalkan lainnya melalui Pengawasan Keamanan Pangan Segar. Memang saat ini terkendala pendanaan yang belum memadai dan belum adanya laboratorium sehingga sampel yang diperiksa dalam jumlah terbatas.

“Pengawasan yang dilakukan dengan melakukan uji residu pestisida pangan segar asal tumbuhan menggunakan rapid test kit yang bahan (sampelnya) diperoleh dari pasar-pasar di Kota Pekanbaru,” ucapnya.

Selain itu proyek-proyek strategis yang sudah dituntaskan antara lain dokumen Grand Master Plan Ketahanan Pangan Kota Pekanbaru dan Grand Master Plan Kawasan siCANTIG (Lokasi Cadangan Pangan Terintegrasi).

Dua dokumen induk ini akan menjadi acuan dalam pengembangan kegiatan ketahanan pangan kedepannya dan pelaksanaan kegiatan strategis penguatan lumbung pangan yang memiliki nilai edukasi dan entertainment (edutainment).

Untuk siCANTIG sendiri merupakan suatu bentuk usaha Pemerintah Kota dalam memberikan edukasi dan sosialisasi sekaligus infrastruktur wisata pertanian yang mengedepan pembelajaran (edukasi) serta wisata agro yang menarik (entertainment).

Alek menerangkan bahwa Lluas kawasan dimaksud adalah 5 hektar yang terletak pada kelurahan Agrowisata Kecamatan Rumbai Barat Kota Pekanbaru. Kawasan siCANTIG merupakan kawasan agrowisata, lokasi pembelajaran budidaya pertanian, peternakan dan perikanan, ditengah kawasan dibuat miniatur Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL), juga ada lumbung pangan dan pengolahan pangan.

“Sesuai semangatnya itu edutainment, kami berharap lewat siCANTIG ini terfasilitasinya kegiatan pemberdayaan masyarakat yang memadai dan menyentuh berbagai aspek strategis seperti agrowisata, pendidikan, budidaya pertanian dan perikanan serta yang tak kalah penting itu adalah hiburan alam yang menarik,” terangnya lagi.

Semua kegiatan-kegiatan tersebut tambahnya lagi harus terdokumentasi dengan baik dan memadai. Makanya inovasi dengan pendekatan teknologi informasi dalam layanan publik juga harus diperbaiki. Hal ini yang pada akhirnya melahirkan inovasi yang dinamakan dengan sebutan siTANGAN alias Sistem Manajemen Informasi Ketahanan Pangan.

Sistem Manajemen Informasi Pangan ini dibangun untuk menyediakan data dan informasi pangan yang valid dan terkini secara cepat melalui teknologi informasi sehingga memudahkan institusi maupun masyarakat luas dapat mengakses informasi pangan tersebut dengan cepat.

“Kami punya rumah virtual yang disebut dengan siTANGAN, kami akan mengisi rumah virtual ini dengan data-data strategis di ketahanan pangan,” tandasnya lagi.

Pada kesempatan berikutnya, Alek juga sangat mengapresiasi langkah-langkah yang telah dilakukan OPD mitra semisalnya oleh Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Pekanbaru yang juga ikut berpartisipasi melakukan pendampingan, penyuluhan, pemberdayaan masyarakat dengan nilai stimulus dalam skala yang lebih besar lagi.

“Mudah-mudahan kita mampu bersinergi dengan perannya masing-masing sehingga tidak adanya mata rantai yang putus dalam menciptakan ketahanan pangan yang terintegrasi dari hulu ke hilirnya,” Alek yang juga ketua Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) Kota Pekanbaru ini mengakhiri. (adv)

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *