Cerpen Asih Drajad Lumintu: Sebaik-baik Penjaga

HARI belum lagi siang, dan sisa hujan deras tadi malam masih meninggalkan udara dingin yang masuk menerobos ventilasi kamar. Tiba-tiba terdengar. “Teet…teet..teet.” Gawai di meja ruang tengah berbunyi. Lila tengah sibuk membereskan mainan lego-lego yang berserakan di lantai kamar tidurnya. Dipandanginya dua anak kecilnya yang baru saja terlelap lantaran kelelahan selepas bermain. Senyum tipis tersungging di wajah Lila, mengingat perjuangannya sejak pagi tadi, menjaga dan menemani bermain Adnan, dan Bagas, bocah berumur tiga dan empat setengah tahun, yang sudah bangun dari tidur saat azan subuh berkumandang di masjid depan rumah. Sedikit berjingkat, Lila berlari kecil ke ruang tengah, menyambar gawai yang masih terus memanggil.

Lila semringah mendengar suara bariton di ujung gawai. Terasa ajaib. Sapaan suaminya, ayah kedua bocahnya ibarat air segar, membasahi kerongkongan yang kering kehausan. Mendinginkan dan menghapus lelah Lila. Tak dipungkiri olehnya, jika mendidik, dan mengasuh dua bocah kecil, ternyata kerap menyisakan penat di ruas-ruas badan dan jiwanya. Maka dering telepon dari Farhan, suaminya serasa obat penghilang gusar dan rasa sendiri, seharian menjaga anak-anaknya di rumah. Pembicaraan di telepon disudahi dengan anggukan Lila. Siang hari ini suaminya mengajak Lila ikut rapat yayasan, sekalian bersilaturahmi ke rumah rekannya.

Lila seorang perempuan paruh baya yang mempunyai lima orang anak. Sejak menikah, ia hidup merantau ke pulau seberang, jauh dari kerabat kampung halamannya. Ia tak pernah menyangka akan memiliki dua anak lagi di usia menjelang empat puluh tahun. Baginya kelahiran Bagas dan Adnan adalah anugerah istimewa. Dokter spesialis kandungan pernah memvonis Lila akan sulit hamil lagi setelah anak ketiganya berusia enam tahun, lantaran terdapat kista di ujung ovarium yang katanya akan menghalangi pembuahan sel telur. Maka kelahiran si bungsu Adnan yang hanya terpaut satu setengah tahun dengan Bagas merupakan karunia baginya, dan bukti Maha Kuasa Allah kepada setiap makhluknya.

Tak jarang dalam kehidupan keluarga perantau, jauh di alam bawah sadar, sesekali menampilkan episode kerinduan yang memanggil-manggil mereka untuk pulang. Kondisi itu yang juga pernah dialaminya. Perasaan kesendirian Lila, dan seolah dirinya telah tercerabut dari bongkahan rumpun keluarga besar, silih berganti hadir di tahun-tahun pertama perantauan. Bersyukur Lila sekeluarga selalu ingat petuah bahwa di mana bumi dipijak, di situlah adat istiadat dijunjung. Hal itu pun menjadikan dirinya tenang, lega, dan bahagia menerima takdirnya. Bumi Allah itu, luas terbentang. Selalu ada kasih sayang, dan cintaNya kepada setiap makhluk di mana pun berada.

“Bukankah anak keturunanku pun telah lahir dan besar di kampung ini dan mencicipi limpahan rezeki dari Allah Yang Maha Pemurah ?.” Itu yang Lila katakan dulu kepada sanak saudara yang sesekali mengajaknya pulang kembali ke kampung asalnya.

Dipandangi lagi wajah polos kedua anaknya. Setelah mengatur putaran kipas angin di kamarnya, bergegas Lila pergi ke ruang belakang. Ada seember besar cucian baju anak-anaknya yang belum selesai dibilas.

“Mumpung masih ada panas matahari, masih bisa kering jika segera dijemur”, pikirnya

Gerakan tangan Lila gesit membilas dan mengeringkan cucian yang masih tersisa, dan menjemurnya di samping rumah. Lila tersenyum puas.

“Hhmm selesai..,”bisiknya memandang deretan baju-baju yang berjajar rapi, terpapar sengatan hangat mentari. Satu pekerjaan rumahnya telah selesai lagi.

Awan putih di langit berarak-arak perlahan membentuk gambar siluet uniknya, meniti waktu yang berjalan menelusuri hari-hari. Pagi tak pernah bosan merangkak memasuki penggalan siang. Siang berjalan mendekati jenak masa sore. Tak terasa, malam berlari menelan sinaran sore, hingga sekejap kemudian menjadi gelap. Terus berulang dan berputar setiap hari. Sebagaimana juga kehidupan manusia, silih berganti ragam peran dijalankan. Anak-anak membesar menjadi dewasa. Ada yang menikah, lalu ada yang diamanahkan menjaga, dan mendidik anak-anaknya. Ada yang berkesempatan bekerja di luar rumah, ada juga yang justru meninggalkan pekerjaan, atau berganti pekerjaan. Semua itu menjadi hal yang lumrah dan alami dialami dalam liku-liku kehidupan manusia.

Lila mencoba belajar menerima posisi, profesi dan perannya yang sewaktu-waktu bisa berganti, atau bertambah, sesuai situasi dan kondisi yang menghajatkan demikian. Dulu ia pernah bekerja di luar rumah, menjadi guru yang waktunya banyak tersita di sekolah. Namun ia lantas memutuskan berhenti, dan menikmati penuh peran menjadi ibu rumah tangga tanpa bekerja ke luar rumah. Kemudian ia mencoba menambah ilmu dan menjadi mahasiswa. Bahkan, kisah kehamilan dua anak terakhirnya adalah selepas Lila mengiyakan tawaran suaminya untuk melanjutkan kuliah lagi. Saat itu ketiga kakak Adnan, dan Bagas mulai bersekolah, dan baru pulang ke rumah menjelang sore, sehingga dalam pikiran Lila akan ada waktu lapang yang bisa dimanfaatkannya. Namun, ternyata Allah punya rencana lain, justru saat Lila disibukan dengan diktat dan buku-buku perkuliahan, Allah tambahkan karuniaNya dengan kehamilan dua anak bungsunya. Ia bersyukur, perjuangan menyelesaikan kuliah pascasarjananya berhasil dilaluinya dengan suka duka, sambil mengasuh Adnan dan Bagas di masa bayi. Kini selepas menjadi mahasiswa, Lila memilih perannya menjadi ibu rumah tangga yang tidak bekerja ke luar rumah.

Sambil menyeka peluh yang mulai membasahi dahinya, Lila menyapu pandangan ke sekeliling rumahnya. Hembusan angin siang sesekali menerbangkan ujung jilbab biru muda yang dikenakannya. Hening suasana, kini menelisik jiwanya. Tinggal di perumahan yang sebagian besar keluarga muda, dan pasangan suami istri pekerja yang baru pulang ke rumah menjelang magrib, membuat sepi lingkungan rumahnya. Kesempatan berjumpa dengan tetangga terkadang hanya di saat arisan bulanan RT, atau jika ada peringatan hari besar saja. Hal ini membuat Lila dan sebagian besar ibu-ibu perumahan itu bersemangat hadir dalam setiap acara lingkungan sosial rumahnya, dan memanfatkan momen kebersamaan yang langka.

Setelah urusan menjemur pakaian tuntas, Lila segera bebenah, dan bersiap-siap. Ia teringat percakapan tadi dengan suaminya. Farhan berjanji menjemputnya sebentar lagi dan mengajaknya menemani rapat yayasan sekaligus berkunjung ke rumah pak Yahya, teman baiknya. Lila membereskan perbekalan dengan cermat, dan memasukkan juga mobil-mobilan kesayangan Adnan dan Bagas. Biasanya mereka berdua berlomba mencari mainan itu, dan meluncurkannya dengan seru. Itulah dunia anak-anak, selalu asyik belajar lewat permaianan. Tepat azan Zuhur berkumandang, semua urusan rumah selesai, maka Lila pun bersiap salat. Di kamar tidur, kedua anaknya masih nyenyak tertidur. Sajadah digelar, dan Lila khusyuk dalam lantunan doa-doanya.

***

Selepas rapat yayasan, pak Yahya, dan bu Rahmi menjamu tamunya di lantai dua rumahnya. Adnan dan Bagas bermain bersama anak-anak tamu lainnya. Mata Lila sebentar-bentar mengawasi anak-anak itu bermain. Meski tangga menuju lantai bawah ditutup pagar besi berukuran pendek, tak urung hati Lila khawatir. Karenanya ia berusaha menjaga kedua buah hatinya dengan saksama. Sesekali teriakan nyaring anak-anak mengusik hati Lila, dan membuatnya tak lepas pandangannya dari pergerakan sosok Adnan, dan Bagas yang gembira bermain bersama teman-temannya. Adnan melambai-lambaikan tangannya dengan riang. Suara cadelnya memanggil Bagas, abangnya terdengar segar dan lucu.

“Bam..abam..ni..!,” seru Adnan mengajak abangnya, sambil menunjuk mobil-mobilan kecil warna merah, mainan kesayangannya. Tubuh kecil Adnan bergoyang-goyang mengikuti laju mobil-mobilannya yang meluncur di lantai, sesekali mulutnya riang berceloteh,”bum..bum.., sapa mo itut ?.”

Bagas, abangnya berlari kecil mendekati adiknya. Meskipun jarak usianya mereka hanya terpaut setahun lebih, tetapi Bagas sangat perhatian dan mengayomi adiknya. Berbeda dengan Adnan, postur tubuh Bagas lebih gempal dan tinggi, dan jika berjalan lebih tegap. Gelak tawa, tak lama terdengar berderai dari mulut mereka berdua. Bibir Lila merekah, mengawasi tingkah menggemaskan kedua anaknya dari jarak yang tidak terlalu jauh. Tiba-tiba di saat Lila lengah sejenak dari penjagaan anak-anaknya, terjadilah peristiwa itu.

“Bruak.!,” Suara benda terhempas jatuh menggelundung ke bawah, dari tangga yang telah terbuka pintunya. Sontak mata Lila menyapu ruangan, mencari keberadaan dua buah hatinya, yang sebentar tadi masih di dekatnya.

Innalillahi wa inna ilahi roojiun”, spontan Lila berteriak, saat menyadari bunyi keras sesuatu yang terhempas ke bawah adalah Adnan, anaknya. Rupanya, salah seorang anak yang lebih besar, baru saja turun ke bawah tangga, dan lupa menutup kembali pagar pengaman tangganya. Adnan, bocah tiga tahun, yang ingin tahu, tertarik mengikutinya. Dari atas Lila menengok ke arah lantai bawah, Adnan terlentang dengan darah kental merah di sekeliling kepalanya. Lila terkesiap. Tubuhnya terdiam, mematung sejenak. Kakinya terasa lemas, dan tak mampu beranjak turun ke lantai bawah. Ia tertunduk dalam, dan berbisik pelan ke suaminya,

“Mas, urus Adnan ya…. Aku mau salat dulu.” Hanya itu ucapan yang bisa keluar dari mulutnya.

Bergegas Lila meminta izin menumpang salat sunah hajat ke bu Rahmi, nyonya rumah itu. Melangitkan doa ke Allah, Tuhan pemilik Adnan, cahaya penyejuk matanya. Membujuk hatinya untuk siap dan bersabar menerima keputusan yang Allah tetapkan nantinya.

“Bukankah tadi penjagaan, dan pengasuhanku kepada kedua anakku sudah maksimal ?. Ya, Allah sungguh Engkaulah sebaik-baik penjaga makhlukMu. Selamatkanlah Adnan, buah hatiku,” monolog Lila membisik kegusaran batinnya sendiri.

Tamu-tamu pak Yahya bergegas turun ke lantai bawah menolong Adnan yang tergeletak diam. Darah segar Adnan membasahi lantai keramik putih. Lila melihat wajah suaminya pucat, menggendong Adnan memasuki mobil Avanza merah yang membawa ke klinik terdekat. Seketika ruangan terasa lengang dalam pandangan Lila. Doa dan zikir riuh menggema di langit jiwanya. Lila khusyuk berharap gaung doanya akan membubung juga ke langit ketujuh, menggoyang arsyNya, dan menggugurkan buah takdir yang terbaik untuk diri dan keluarganya.

Selepas salat, Lila diajak bu Rahmi menyusul ke klinik, tempat Adnan dibawa berobat. Tak sampai lima belas menit, mobil yang membawa Lila telah sampai di klinik. Bau khas rumah sakit menyeruak, dan menyengat hidung, saat Lila membuka pintu kamarnya. Adnan baru selesai diobati. Merah darah yang tadi melekat di mukanya sudah dibersihkan, tinggal sisa percikan darah kering masih menempel di baju kuningnya. Lila mendekati dan menciumi lekat-lekat kepala Adnan yang masih terbaring di dipan klinik. Beruntung dokter jaga di klinik, siaga menghadapi pasien yang datang.

“Hanya tinggal memulihkan sedikit luka di bagian belakang telinga dan juga mengoptimalkan istirahat Adnan,” jawab lembut Farhan menenangkan sorot tanya mata istrinya yang tampak gundah.

Alhamdulillah alaa kulli haalin..!. Segala puji bagi Allah atas setiap kondisi yang menimpa. Cepat sembuh ya, Nak“ spontan Lila menganguk, dan memohon kepada Allah limpahan kekuatan sabar atas musibah yang menimpa Adnan.

Lila tunduk merenung. Menghela napas panjang seraya beristigfar kepada Allah. Menginsyafi dan menyesali jiwanya yang khilaf, dan merasa aman, seolah dirinya mampu mencurahkan pendidikan, pengawasan dan penjagaan secara maksimal kepada anak-anaknya melalui kekuatan dirinya. Lupa mengingat lebih jauh, bahwa hakikat pendidik, dan penjaga sejati setiap makhluk, termasuk anak-anaknya adalah Allah saja, Tuhan Yang Maha Penjaga semesta alam.

“Ya, sungguh Tuhanku yang telah mendidikku, sehingga menjadikan baik pendidikanku”

Azan Isya sayup-sayup berkumandang di kejauhan, membelah malam menuju gelap. Damai suaranya menelisik relung jiwa Lila, seorang ibu paruh baya yang belajar mengeja kesyukuran atas sebaik-baik penjagaan Allah kepada anak-anaknya. Pelan Lila mengulang-ulang ayat yang termaktub dalam kitab sucinya.

“Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga dan Dia adalah Maha Penyanyang diantara para penyayang.” (QS Yusuf : 64) ***

—————————-
Asih Drajad Lumintu, tinggal di Pekanbaru. Perempuan berlatar Pendidikan Bahasa Arab IKIP Jakarta dan Pendidikan Islam UIN Suska Riau ini, mulai menekuni dunia tulis menulis belakangan ini. Ia menggagas Kelas Perempuan Menulis di Komunitas Ceria (Cita Perempuan Indonesia) secara online. Kreasi tulisannya bisa dilihat di: http://Instagram.com/komunitasceria.

Baca : Cerpen Budi Darma: Lorong Gelap

*** Laman Cerpen terbit setiap hari Minggu dan menghadirkan tulisan-tulisan menarik bersama penulis muda hingga profesional. Silakan mengirim cerpen pribadi, serta terjemahan dengan menuliskan sumbernya ke email: [email protected] Semua karya yang dikirim merupakan tanggunjawab penuh penulis, bukan dari hasil plagiat,- [redaksi]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.