Cerpen Rusmin: Di Pantai, Ada Luka Masa Lalu

SORE itu, gelombang air laut di pantai terlihat sangat kencang. Maklum ini musim barat. Adalah sebuah kelaziman bila musim barat, nelayan sangat was-was. Terutama terhadap kondisi perahu yang mareka tambatkan di pantai . Selalu berayun-ayun dihantam gelombang yang kencang datang menghampiri.

Seorang lelaki dengan setengah tergesa-gesa menuruni tangga beton menuju tepi pantai . Sangat lincah sekali kakinya melangkah menuruni tangga yang terbuat dari beton. Dan hanya dalam hitungan detik, dia sudah tiba di perahunya. Senja mulai menghitam dan gelap. Pertanda malam akan tiba.

Cagal, nama lelaki perkasa itu. Yang hidup dan menghidupi diri dari laut dan perahu. Bersama dengan sepoinya angin laut, dia bahagia. Bersama perahu dia bahagia. Mengarungi ganasnya ombak dilautan adalah sebauh kebahagian.

Padahal di tepi pantai ini, dia pernah terluka.

Ya..dia pernah terluka.
” Kamu itu lelaki macam apa, Cagal. Istri dibawa orang lari kok kamu diam. Tak ada usaha untuk mencari,” teriak Ayahnya saat mendengar istrinya kabur bersama seorang lelaki Pulau seberang.
” Dia sudah tak mencintai aku lagi, ayah. Jadi biarkan dia bahagia bersama lelaki pilihan hatinya, ” sahut Cagal.
” Kalau lelaki lain, sudah terhunus pisau ke perut lelaki biadab itu. Kamu kok tenang-tenang saja,” lanjut Ayahnya.

” Dia bahagia bersama lelaki itu, ayah. Jadi biarkan dia menikmati kebahagiannya. Dan kini bukan musimnya lagi main pisau. Kini musim mencari istri baru,” jawab Cagal sambil terkekeh.

Ayahnya terdiam. Sepoi angin malam menghantam wajah tuanya. Ada rasa dingin yang menghampiri tubuh rentahnya. Bergegas dia masuk ke dalam rumah. Tak mampu melawan hawa dingin yang ditebarkan angin malam. Meninggalkan Cagal sendirian yang asyik dengan radio barunya. Suara penyanyi dangdut terdengar amat genit mendendangkan lagu.

Malam makin merentah. Hanya suara penyanyi dangdut di radio yang masih terdengar mewarnai malam yang makin tua.

Berita tentang istri Cagal yang dibawa kabur pria lain menjadi kisah masa lalu pria itu. Semua warga sudah melupakannya. Amnesia warga terhadap kisah kasmaran itu telah tertanam dalam-dalam. Sebagaimana kisah para pencari suara yang selalu mengamnesia warga dengan cerita barunya tanpa rasa malu.
” Saya yakin dalam waktu dekat ini, Cagal akan beristri lagi. Dia kan cukup ganteng,” ujar Mang Roy saat para warga sedang berkumpul di warkop.
” Benar. Cagal kan beruang. Pasti ada perempuan yang ingin diperistrikannya,” sahut Mang Junai.
” Tapi apa segampang itu, Cagal mencari istri idaman? Luka hatinya masih membekas. Dan saya tak yakin Cagal akan selekas itu mencari pengganti istrinya,” jawab Mang Agam.
” Oh, iya. Saya dengar Ayu sudah kembali dari Malaysia. Suaminya meninggal di sana. dan kini Ayu kembali ke rumah orang tuanya,” terang Mang Tahar.

Mendengar informasi dari Mang Tahar, semua warga terdiam. Semua warga mengetahui bagaimana kisah asmara antara Cagal dan Ayu saat keduanya masih bersekolah di SMA. Hanya karena faktor orang tua, keduanya harus terpisah. Ayu menikah dengan juragan ikan asal Malaysia dan diboyong ke negeri Jiran. Sementara Cagal mempersunting Halimah, tetangga dekat rumahnya.

Berita kepulangan Ayu ke Kampung menjadi trend topik para warga. Mareka membicarakan soal kepulangan Ayu ke kampung halaman da kini tinggal bersama orang tuanya.
” Kini baru keluarga Ayu baru sadar bahwa hidup itu tak selalu diatas,” ujar Cik Vony.
” Ibarat air di lautan. Kadang pasang. Kadang surut. Itulah dinamika kehidupan,” sahut Cik Mina.
” Makanya kita harus sadar diri ketika berada dipuncak. Jangan mentang-mentang,” lanjut Cik Vony.
” Apakah Cagal tahu kalau Ayu sudah kembali ke Kampung ini,” tanya Cik Mina.

Tak ada yang menjawab. Tak ada suara yang keluar dari mult mereka. Semuanya membisu. Hanya senyum kecil sekelompok perempuan itu yang memahaminya. Langit cerah. Padahal senja akan tiba. Cagal bersiul-siul sembari menyusuri jalanan beton menuju pantai.

Sudah tiga hari dia tak melihat perahunya yang ditambatkan di Pantai. Suara siulannya menirukan sebuah lagu dari artis ternama Ibukota yang sedang hit. Senandungnya penuh kegembiraan. Langkah kakinya terasa ringan menyusuri tangga-tangga menuju pantai.

Sementara semilir angin menghampiri wajahnya. Bahagia tertampak diwajahnya. Lelaki itu kaget setengah mati saat kakinya menginjak pantai. Jantungnya hampir copot saat menyaksikan seorang perempuan yang amat dikenalnya sedang bermain bersama kedua anaknya di pasir pantai batu Kapur yang bersih. Mareka berlarian susuri pantai. Terkadang mengejar air laut. Sangat bahagia mareka bermain bersama.

” Ayu,” desisnya pelan.

Dan Ayu pun sangat kaget saat melihat seorang lelaki yang amat dikenalnya. Cagal. Keduanya saling bertatapan.Tatapan mata yang memberi makna. Tatapan mata yang mengabarkan rasa kebahagian. Tatapan mata yang masih sama saat keduanya masih remaja.
” Apa kabar Bang Cagal?,” sapa Ayu saat melihat Cagal.
” Alhamdulilah, sehat dik Ayu. Saya sudah mendengar kisah tentang dirimu. Aku pun turut berduka,” jawab Cagal.
” Aku pun turut bersedih mendengar kisah Abang. Semoga Abang tabah. Masih ada perempuan lain yang siap menggantikannya,” ujar Ayu.

Cagal tertegun. Tak menyangka dengan jawaban Ayu, perempuan yang pernah mengisi relung kasihnya dulu. Ada rasa bahagia atas jawaban Ayu. Sejuta harapan terhampar dilautan yang luas. Dan sebagai lelaki Cagal tak ingin asa yang terhampar luas itu lepas. Sejuta harapan yang ada dalam genggamanya kini.
” Apakah dik Ayu bersedia ku pinang untuk anak-anak kita?,” tanya Cagal. Ayu terdiam.

Puluhan tahun lalu kalimat itu pernah diucapkan lelaki itu di pantai Batu kapur usai bibir tipisnya dilumat Cagal dengan nafas cinta yang membara. Saat itu dia tidak menjawab. Kini dia harus menjawab pertanyaan itu. Untuk anak-anaknya. Untuk masa depannya. Dan untuk rasa cinta yang masih membara dalam raganya.

” Aku menunggu pinangan Abang,” jawab Ayu sembari memperkenalkan kedua anaknya kepada Cagal.

Sepoi angin di pantai menambah keromantisan alam semesta. Kecipak air laut menjadi saksi kisah masa lalu. Mareka pun meninggalkan pantai Batu kapur dengan sejuta harapan. Ya, harapan untuk hidup bersama dalam ikatan cinta yang sempat tertunda. ***

Toboali, Sabtu, 4 September 2021

Salam sehat dari Toboali

Rusmin, lahir di Toboali, Bangka Selatan. Ayah dua putri ini pernah bekerja sebagai jurnalis Bangka Belitung. Tabloid IntegritaS adalah koran pertamannya. Lantas bergabung bersama Harian Suara Bangka dan mingguan Bangka Express. Lima tahun dipercaya PT. KobaTin untuk mengelola tabloid internal WARTA KAKSA. Rusmin dikenal sebagai penggiat budaya dan pemerhati sosial Bangka Selatan. Twitter @RusminToboali. FB RusminToboali.

Baca : Cerpen Risen Dhawuh Abdullah: Utang

*** Laman Cerpen terbit setiap hari Minggu dan menghadirkan tulisan-tulisan menarik bersama penulis muda hingga profesional. Silakan mengirim cerpen pribadi, serta terjemahan dengan menuliskan sumbernya ke email: [email protected] Semua karya yang dikirim merupakan tanggunjawab penuh penulis, bukan dari hasil plagiat,- [redaksi]

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews