Telinga

Hati

Bismillah,
Ketika masih kecil, Emak selalu memiat telingaku dan adik-adik jika kami tak mau mendengarkan pesan-pesannya dengan hati. Sebenarnya, kami mendengarkan. Namun, dasar anak-anak, kami kurang mengindahkan pesan-pesan perempuan nomor satu di dunia itu. Tentu saja Emak datang dan langsung memainkan ibu jari dan jari telunjuknya. Telinga kami diputar. Perihnya minta ampun. Telinga merah seketika.

”Lain kali, gunakan telinga kalian dengan elok. Dengarkan baik-baik pesan Emak atau pesan orang lain. Belajar bertanggung jawab dan amanah dengan pesan yang disampaikan. Jangan buat-buat pekak,” suara Emak macam marah. Bukan cuma Emak yang marah. Nenek dan Abah pun akan marah kalau aku dan adik-adik tak peduli dengan pesan-pesan dari orang tua.

”Jangan masuk dari telinga kanan, keluar dari telinga kiri,” sergah Nenek.
”Allah Taala menciptakan telinga untuk mendengarkan yang baik-baik dengan baik-baik,” timpal Abah.

Kata Cikgu Zai, telinga atau kuping merupakan organ tubuh yang berkemampuan mendeteksi suara. Telinga pun berperan dalam keseimbangan badan. Bunyi denging atau dengung pada telinga bisa mengganggu keseimbangan badan. Secara Islami, kita disarankan banyak bersalawat ketika telinga berdengung. Kita pun mesti faham mengapa kita diberikan dua daun telinga. Filosofinya, kita mesti lebih banyak mendengarkan dengan saksama pesan dan informasi. Karena itu, mendengarlah pada setiap dengung kebenaran.

Telinga memang selalu nak mendengar yang indah-indah. Sedikit sekali orang nak mendengarkan kritikan, apalagi pedasnya level enam. Telinga suka dibuai-buai, dimanja-manja, dan didendangkan alunan merdu. Kata Jalaluddin Rumi, telinga adalah perantara, … telinga hanya memiliki kata-kata yang menjanjikannya. Sumbatlah telinga nafsumu, yang bagai kapas menutupi kesadaranmu dan membuat tuli telinga batinmu. (Penyair Sufi dari Persia, 1207-1273). Ketika orang-orang tertentu mendengungkan janji manis pada waktu tertentu, maka telinga yang tergoda. Terpilihlah seseorang dengan suara yang ditangkap telinga. Karena itu, manusia yang terpilih dengan suara jangan lupa pada telinga rakyat. Ketika berkuasa, jangan pula bertelinga tipis karena pedasnya suara.

Seperti halnya mata, telinga merupakan indera terpenting. Telinga atau pendengaran selalu beriringan dengan mata atau penglihatan. Misalnya dalam ungkapan jadi mata telinga. Fungsi telinga bukan sekedar mendengar apa yang terdengar atau didengar. Hakikat telinga bukan sekedar menangkap suara-suara. Namun, hakikat terdalam dari telinga adalah menangkap makna di balik suara-suara yang kita dengar. Telinga bukan cuma mendengar pengajian. Telinga bukan hanya menangkap nasihat. Telinga bukan sekedar mendengar pujian. Telinga bukan cuma mendengarkan hal-hal yang melenakan, tetapi mestilah berpada-pada menyelami apa yang didengarkan.

”Makanya, nasihat orang tua harus kalian dengarkan baik-baik,” begitulah pesan Emak setiap kali memiat telinga Hamba. ”Kita diminta untuk lebih banyak mendengarkan,” katanya lagi. Hamba tahu betul bahwa Emak senantiasa mengingatkan telinga dengan cara memulasnya. Sakit memang. Daun telinga merah seketika. Perih. Itulah bentuk kasih sayang Emak kepada Hamba. Dengan anak janganlah lalai/ Supaya boleh naik ke tengah balai, begitu tertulis dalam Gurindam Duabelas, Pasal Sepuluh, Ayat Ketiga. Apabila anak tidak dilatih/ Jika besar Bapanya letih, begitu pula tertulis dalam Pasal Ketujuh, Ayat Keempat.

Begitu pentingnya telinga (pendengaran). Telinga disejajarkan dengan mata dan hati kita. Ketika kita dilahirkan, ketiga organ tubuh inilah yang bermain peran dalam hubungan kasih sayang dengan orang tua atau keluarga. Telinga menjalin bahasa yang didengar. Dengan berfungsinya telinga, kita bisa mendengar suara dan tidak kesepian. Makanya bagi umat Islam, pertama sekali yang dilakukan ketika anak lahir adalah mengazankan atau mengikamatkannya. Namun, tidak semua suara bisa diterima telinga. Jangan heran kalau suara-suara mengganggu itu mendapat penolakan dari telinga. Bahkan, pikiran dan hati pun tak mau menerima suara-suara yang meracau.

Hendaklah berhati-hati dengan telinga. Perangai menguping bisa memperburuk dalam tataran sosial. Apalagi perangai menguping diperparah dengan perangai meng-ghibah. Perangai ini bukanlah hakikat fungsi telinga. Perangai ini merupakan penyakit dan kebiasaan buruk yang mesti kita matikan. Berapa banyak perangai menguping ini dalam kehidupan sehari-hari bisa merenggangkan silaturahmi. Mari menjaga telinga kita dari hal-hal yang tak perlu terhindar dari kejahatan. ”Apabila terpelihara kuping/Khabar yang jahat tiadalah damping,” begitu pesan tertulis dalam Gurindam Duabelas, Pasal Ketiga, Bait Kedua.***

Alhamdulillah.
Bengkalis, Selasa, 2 Safar 1444 / 30 Agustus 2022

Baca : Buku