Hidung

Lidah

Bismillah,
”Basuhlah hidung dengan betul agar penciumanmu selalu suci,” Abah menegurku ketika sedang wudu. ”Jangan hanya mengusapkan air ke hidung. Sedot air dengan hidungmu,” timpalnya sambil mencontohkan. Abah menampung air dengan telapak tangan. Lalu, Abah mengarahkan air yang bertakung di telapak tangan itu ke lubang hidung. Abah menyedot air itu dengan hidungnya. Lelaki matahari itu mengulanginya tiga kali. Hidungku bergerak melihat Abah. Aku tahu bahwa menyedot air dengan hidung hingga ke batang hidung atas rasanya perih. ”Perih sedikit itu biasalah. Kalau sudah terbiasa, perih itu tidak terasa lagi,” Abah seperti tahu pikiranku.

Setelah mata dan telinga, hidung pun termasuk keajaiban yang kita punya. Mata bisa menangkap dan memilih warna-warni keindahan. Telinga bisa menangkap dan memilah keindahan suara-suara. Hidung kita bisa menyedot dan memilah keindahan bau yang merebak di alam semesta. Karena itu, hidung pun bisa memunculkan sains. Hidung yang menemukan bahwa longkang itu busuk baunya. Hidunglah penemu air percung atau wewangian (parfum). Hidung mengajak kita untuk mengalami beragam jenis bau. Pengalaman inilah yang bisa menjadi sains empiris tentang aroma.

”Jika ingin sempurna sujudmu, hidung mestilah menyentuh sejadah,” Abah mengingatkan lagi. Abah berbisik di muka hidung-ku.

Dalam hal makanan, hidung selalu mengembang kalau menghidu bau makanan yang sedap. Hidung menangkap bau makanan yang sedap. Kemudian, hal itu mampu menggugah selera pembeli/konsumen untuk melahapnya. Sebaliknya, bau makanan yang tidak sedap mengakibatkan ketiadaan keinginan orang untuk mencicipinya. Hidung dan lidah saling bekerja sama dalam merespon suatu makanan. Penciuman akan mengundang respon perasa/pengecap.

Keberadaan hidung sangat penting. Kita menghirup oksigen dengan hidung. Kalau hidung tersumbat, sudah pasti kita kesulitan untuk bernapas. Kita langsung ingat Allah Taala ketika itu. Hidung merupakan organ badan kita yang menonjol karena letaknya. Bentuk hidung sangat mempengaruhi keindahan wajah. Karena itu, hidung selalu menjadi sasaran ketidakpuasan. Mereka lakukan pembedahan untuk mengubah bentuk hidung. Letak hidung di tengah wajah kita tentu ikut menunjang penampilan. Kalau hidung laksana kuntum seroja, kepercayaan diri bertambah tinggi.

Selain berkaitan dengan lidah, hidung pun berkaitan dengan suara kita. Suara yang kita keluarkan dari artikulator akan berubah kalau hidung tidak dalam kondisi baik-baik saja. Hidung diserang flu berat hingga tersumbat, misalnya, akan mempengaruhi seluruh badan kita. Seluruh badan jadi tak nyaman. Mau tidur pun payah. Napas macam hilang. Menguak-nguak bagai hidung gajah. Suara pun tak normal. Terkadang sengau.

”Makanya, jaga hidung tu,” ketus Abah, ”supaya hidungmu seperti dasun tunggal. Dan, jangan sekali-kali kau menjadi hidung belang.”

Hidup kita memang selalu sibuk. Ada sibuk urusan dunia. Ada sibuk urusan akhirat. Bahkan, ada yang sibuk dengan keduanya. Itu lumrah saja. Kita memang tak punya waktu luang. Manfaatkan saja waktu yang sempit itu untuk bekerja secara kolaboratif dan berkarya. ”Yang penting, kau ajak selalu hidungmu untuk sujud. Hidungmu pun mesti tafakur. Dalam bekerja, jangan sampai hidung tak mancung, pipi tersorong-sorong. Karena sibuk bekerja, napas tidak sampai ke hidung. Jika ada pekerjaan yang salah jangan kerjakan meskipun itu perintah pemimpin. Jangan seperti kerbau dicucuk hidung,” nasihat Abah.

Ada kisah menarik tentang organ penciuman kita ini. Ada cerpen bertajuk Hidung karya Ahmadun Yosi Herfanda, sastrawan Indonesia asal Kendal, Jawa Tengah. Cerpen ini mengisahkan tokoh Gita yang memiliki hidung seperti dusun tunggal. Karena hidungnya, Gita diincar manajer perusahaan kosmetik yang melakukan bedah kosmetik untuk diiklankan. Gita ditawari kontrak senilai Rp1,2 miliar. Syaratnya Gita bersedia hidungnya diiklankan oleh perusahaan tersebut dengan kata-kata bahwa hidungnya itu lawa setelah dilakukan operasi. Terjadilah konflik batin pada tokoh Gita, antara keagungan Tuhan yang telah menciptakan keindahan pada hidungnya (akhirat) dan kebohongan atau ketidakjujuran yang diimingi Rp1,2 miliar. Wah, hidung bisa membuat celaka.***

Alhamdulillah.
Bengkalis, Selasa, 09 Safar 1444 / 06 September 2022

Baca: Telinga