Tangan

Lidah

Bismillah,
Tangan merupakan lambang bekerja. Tulang empat kerat pada tangan sebagai lambang kekuatan kita. Dengan tangan, kita berpenat lelah, berhempas pulas, bermandi peluh untuk mencukupi nafkah. Sejak pagi menyingsing, para pekerja bergerak mara untuk berbuat sesuatu. Tentu saja hanya kita yang ringan tangan mampu memfungsikan tangan dengan benar. W.S. Rendra menggambarkan tentang kekuatan tangan dalam Sajak Tangan: Tangan petani yang berlumpur, tangan nelayan yang bergaram, aku jabat dalam tanganku. Tangan mereka penuh pergulatan.Tangan-tangan yang menghasilkan.Tanganku yang gamang tidak memecahkan persoalan.Tangan cukong, tangan pejabat, gemuk, luwes, dan sangat kuat.Tanganku yang gamang dicurigai, disikat. Tanganku mengepal. Ketika terbuka menjadi cakar. Bukan yang panjang tangan.

”Tapi, jangan lupa kalian basuh tangan agar dosa berjatuhan. Paling tidak lima waktu dalam sehari. Dosa-dosa yang menghitam itu mengalir dalam lima waktu setiap kalian wudu,” Abah berpesan.

Abah tidak pernah lupa menyucikan tangannya. Bukan cuma 150 kali dalam sebulan, tapi dia bisa menyucikan tangannya beberapa kali lipat. Begitu juga dengan beberapa anggota badannya yang lain. Karena itu, Hamba tak heran kalau badan Abah bedelau. Ada bersitan cahaya, terutama di wajahnya. Kalau sedang menyucikan tangan, Abah tidak asal basuh. Dia membasuh tangannya dengan iman. Dengan keimanan itulah, Abah bisa mengendalikan sesuatu dengan tangannya. Bergumpal-gumpal tenaga mengumpul di tangannya.

”Abah tak pernah ngeluh dengan kelelahan. Lelah memang. Biarkan kelelahan itu pergi bersama kekuatan tangan. Dengan tangan ini, Abah ingin menjadi manusia berguna. Abah ingin kalian berhasil,” begitulah tekatnya. Dengan tangan, Abah menarik bubu, menarik jaring, dan jala. Dengan tangan, Abah menebang meria (pohoh sagu) dan menggoleknya ke tempat pengolahan sagu. Dengan tangan, Abah membuka lahan dan berkebun. Abah tak mau disebut buntung dan mengemis, padahal bertangan lengkap.

Ada cerpen bertajuk Tangan-Tangan Buntung karya Budi Darma. Cerpen itu berkisah suatu negara yang dipimpin rezim otoriter. Lalu, negara tersebut berganti pemimpin sesuai tuntutan demokrasi. Terpilihlah Presiden Nirdawat. Kebetulan nama negaranya sama dengan nama presidennya, Republik Demokratik Nirdawat. Atas pemikiran menjadi negara yang lebih baik, Presiden Nirdawat mengubah nama negara menjadi Republik Demokratik Nusantara. Meski awalnya menolak melakukan kunjungan balasan ke luar negeri, Presiden Nirdawat akhirnya juga berkunjung ke luar negeri. Sampai akhirnya, datang ke sebuah negara yang sangat makmur dan maju. Presiden Nirdawat ingin belajar dari negara tersebut. Ketika berkunjung ke negara itu, Nirdawat melihat para pejabat negara di sana bertangan buntung. Ternyata, kunci untuk menjadi negara yang maju adalah bebas dari korupsi. Negara yang dikunjungi Presiden Nirdawat itu telah membuktikan bahwa dengan memotong tangan pelaku korupsi, maka korupsi akan bisa dikurangi dan negara pun bisa beranjak menjadi negara maju. Tentu saja ini suatu ketegasan penegakan hukum. Bukan melanggar hak asasi manusia. Pelaku korupsi disimbolkan dengan panjang tangan.

Ada pula cerpen bertajuk Orang yang Selalu Cuci Tangan karya Seno Gumira. Tokoh utama cerpen ini hanya dikenal sebagai Orang yang Selalu Cuci Tangan. Tokoh ini selalu merasa tangannya kotor. Biarpun sering mencuci tangan, dia selalu merasakan bahwa tangannya kotor. Karena itu, tokoh ini menjadi was-was dengan air yang dipakai untuk mencuci tangannya. Dia menyangka air tersebut kotor. Tokoh dalam cerpen ini sadar bahwa dia melakukan pekerjaan kotor dan pekerjaan yang seolah-olah tidak kotor. Inilah penyebab dia senantiasa mencuci tangannya. Klimaks yang menjadi kejutan kisahnya adalah kran cuci tangan yang dipakainya mengeluarkan darah. Justru dengan darah itulah tangannya menjadi bersih. Cerpen ini merupakan sindiran kepada orang-orang yang berbuat kotor.

Hakikatnya, kedua tangan kita adalah harta. Penggunaan tangan yang benar akan mengundang rezeki yang benar pula. Begitu pula sebaliknya. Hamba menyaksikan tangan-tangan dermawan melayang-layang terbang ke sekutah dunia. Tangan-tangan dermawan itu telah mencatat nama Tuan-nya pada nisan sebenarnya. Tuan-nya laksana tak pernah mati. Meskipun jasadnya mati, tangan-tangan dermawan itu menggema tanpa henti. Di dunia lain, Hamba membaca berita bahwa tangan-tangan itu menjadi sumber petaka. Orang lain jadi celaka. Tangan-tangan jadi narkoba. Tangan-tangan jadi pisau. Tangan-tangan jadi perundung malang. Tangan-tangan jadi peluru. Tangan-tangan keluar dari hakikatnya. Ada tangan bercahaya dan ada tangan berlumur darah.

”Tangan mampu mengatur suatu keadaan. Tangan pun berbagi. Yang mengambil sesuatu adalah tangan. Yang berebut juga tangan. Jangan sampai berebut temiang hanyut, tangan luka temiang tak dapat,” sergah Abah. ”Kalian mesti paham. Jadikan tangan kalian sebagai tangan amanah. Jadikan tangan sahabat. Jadikan tangan kebenaran,” timpal Abah.

Ah, Hamba teringat pula dengan puisi karya sendiri bertajuk Nasihat Diri: Gapai Amalan (Kepada Tangan):
Tangan adalah perjanjian setia
Perjanjian kita kepada Rasul dan Allah
sebagai jabat kepada sahabat
Tangan adalah kasih sayang
Pembelai orang-orang tersayang

Tangan adalah kesaksian
akan kebenaran dan kesalahan kita
terhadap apa yang kita kerjakan
ketika mulut membisu jemu

Mereka berkata: Tangan Allah terbelenggu
Jangan kaukatakan itu!
Kalau tak mau ditimpa laknat
sebagai Abu Lahab
ketika tangan-tangan jadi sebab
air mata bumi dan langit

Pada tangan manakah pada suatu masa kelak
Kitab amalan akan diletakkan?
Tangan kanan atau tangan kiri?
ketika doa jadi sia-sia
(Tak Malu Kita Jadi Melayu, 2019:11)

”Sental celah jari tanganmu ketika wudu. Kau akan tahu dosa-dosa akan mengalir bersama air supaya tanganmu selalu suci,” Abah mengakhiri.***

Alhamdulillah.
Bengkalis, Selasa, 16 Safar 1444 / 13 September 2022

Baca: Hidung