Kaki

Lidah

Bismillah,
SELAIN tangan, kaki pun punya tulang empat kerat. Kaki dan tangan merupakan pasangan yang sepadan. Kaki dan tangan lambang bekerja dan berkarya. Kaki simbol langkah kita. Ke mana kita akan mara, kakilah yang akan memulainya. Setiap perjalanan akan dimulai dengan langkah pertama. Karena itu, untuk sampai pada tujuan, melangkahlah dengan kebenaran. Abah dan Emak tak mau kami asal melangkah. Mereka pun tak mau kaki kami salah langkah. Juga tak nak kaki kami tersesat atau terjerumus ke lembah hitam.

”Mulailah dengan langkah kanan,” begitu pesan Abah dan Emak kepadaku. ”Langkah kanan itu adalah langkah kebenaran,” begitu maknanya.

Tubuh kita dilengkapi tulang delapan kerat. Karena itu, ada ungkapan kaki tangan. Kata Nenek, kalau nak jadi kaki tangan, jadilah kaki tangan yang elok. Silakan saja jadi kaki tangan pemerintah. Boleh saja jadi kaki tangan perusahaan. Silakan juga jadi kaki tangan siapa saja asalkan elok dan bertanggung jawab. Jadilah kaki tangan yang amanah. Seperti tangan, kaki pun akan menjadi saksi ke mana perjalanan yang kita lakukan. Jika sudah menjadi kaki tangan, maka patutlah kita cepat kaki ringan tangan.

Tugas kaki sangat berat. Kaki menjadi sagang seluruh badan. Anggota badan ini menyangga atau menopang seluruh tubuh. Karena itu, kaki dituntut kokoh agar tubuh tak roboh. Tulang empat kerat bagian bawah ini merupakan lambang kekuatan tubuh secara fisik. Dengan kekuatan itu, kaki memahat jejak atau bekas kaki. Jejak itu terukir pada setiap jelajah yang kita tempuh. Kaki bagai perintis. Ia melapah segala resah atau semak-samun kehidupan. Bahkan, kaki pun memperparah semak-samun kehidupan. Ke mana kaki akan melukis jejak? Akankah kaki melukis jejak di masjid-masjid? Mungkin juga kaki melukis jejak di lorong-lorong kehinaan. Tidak mustahil ia menjadi kaki botol.

Tentang kaki botol ini, saya punya kisah. Kawan saya memang kaki botol. Saban hari dia menenggak minuman keras. Mabuk dan meracau merupakan hal biasa baginya. Minuman air kencing iblis itu bagaikan air mineral biasa atau laksana menyeduh secangkir kopi. Kawanku sangat menikmatinya. Dasar kaki botol. Sampai pada suatu ketika, saat sedang duduk semeja dengan kawannya, kawanku itu melihat maut berjoget-joget di dalam botol minuman keras itu. Sejak itulah, hati kawanku bergetar. Dia haramkan dirinya menyentuh minuman haram itu. Kawan-kawannya yang merupakan kawanku juga tercengang ketika dia berkata, ”Ada maut di dalam botol.” Alhamdulillah, saat ini, kawanku itu telah menjadi manusia. Kisah nyata ini sempat saya tulis menjadi cerpen dengan tajuk Ada Maut dalam Botol. Cerpen ini saya terangkum dalam buku kumpulan cerpen saya yang ketiga bertajuk Hikayat Kampung Asap. Namun, tajuknya berubah menjadi Sang Pemabuk. Kaki botol, Wai! Kaki kawan saya itu tentu telah meliuk-liuk melukis jejak kehidupan bersama air haram. Lalu, kaki itu meliuk-liuk bersimpuh di setiap masjid.

Kaki memang menjadi kekuatan. Dengan kekuatan itu pula, kaki bisa merana. Ketika menginjak serpihan kaca, maka kaki akan terluka. Berdarah! Di saat melewati bara api, kaki akan terbakar. Mengelopak! Ketika melewati lumpur, tentu saja kaki berlumuran lumpur. Amis dan banga menyeruak. Ketika melapah hutan, kaki bisa saja tertusuk duri. Perih dan mungkin berdarah lagi. Tetapi, begitulah kaki. Ke mana pun kita pergi dan dengan alat apa pun kita berangkat, hanya kaki yang menyelesaikan tujuan akhirnya. Di telapak kaki, ada surga. Surga terletak di bawah telapak kaki Ibu!

Bagi Presiden Penyair Indonesia asal Riau, Sutardji Calzoum Bachri (SCB), diksi kaki menjadi perhatian istimewa. Dalam puisinya bertajuk Belajar Membaca (1979), SCB bermain dengan diksi kunci kaki dan diksi luka. Sepintas lalu, antara judul dan isi puisi tak saling berkaitan. Namun, setelah kita berupaya membaca permainan kata kaki dan luka, kita akan paham bahwa belajar membaca itu tidak mudah. Kita perlu kekuatan dan perjuangan untuk belajar membaca. Kita seperti dibawa bermain dengan kaki sendiri sambil membawa luka dalam perjuangan. Secara harfiah, begitulah gambaran ketika kita belajar membaca.

….
kalau lukaku lukakau
lukakakukakiku lukakakukakikaukah
lukakakukakikaukah lukakakukakiku
(1979)

SCB ingin menyampaikan pesan melalui padanan diksi kaki dan luka. Jejak-jejak kehidupan kita bisa penuh dengan luka. Kaki bisa membawa padah pada kehidupan kita. Kaki botol, kaki betina, kaki judi, kaki ganja, dan sejenisnya akan menjadi bala. Dia akan menjadi luka, duka, dan sengsara.

”Karena itu, jika berjalan peliharakan kaki,” pesan Abah.
”Jika bekerja, kita mesti cepat kaki ringan tangan,” tambah Emak.
”Tapi, jangan pula kaki baik, kepala turun,” timpal Nenek.

Ada cerpen berjudul Kaki yang Terhormat karya sastrawan Indonesia asal Sumatera Barat, Gus tf Sakai. Cerpen ini mengisahkan seorang tokoh bernama Nenek Ine menganggap bahwa kaki lebih penting dalam hidup. Ketika muda, Nek Ine suka mendaki bukit kecil di pinggir kampung. Bukit kecil itu mirip sisi kaki yang terlentang. Nek Ine sering ke bukit itu karena menganggapnya suatu keberuntungan. Kalau kaki Nek Ine tak melangkah ke bukit itu, dia tidak akan bertemu jodohnya. Karena itu, dia menganggap kaki lebih penting daripada apa saja.

Pernah suatu ketika di saat melepaskan anak lelakinya bernama Harun kuliah ke Jakarta, banyak sekali nasihat nenek. Yang paling berkesan adalah, ”Kakilah yang menentukan hidup seseorang akan seperti apa.” Akhirnya, Harun jadi kaya. Dia punya helikopter. Kata Nek Ine itu gara-gara kaki Harun yang membawanya ke Jakarta. Tiba-tiba meledak berita bahwa Harun terbabit korupsi besar. Semua kisah hebat Harun runtuh bersepai. Hilanglah kebanggaan. Namun di akhir kehidupan Nek Ine ketika tokoh Saya hendak merantau, dia berkata sesuatu yang aneh juga. Harun celaka karena tak lagi menggunakan kakinya. Jika bepergian, Harun hanya menggunakan kendaraan seperti helikopter.

Wai, seperti tangan, kaki akan bersaksi. Kaki akan berbicara ke mana ia melangkahkan tuannya semasa di dunia: Apakah tergolek dalam gerhana ataukah purnama? Mari kita simak beberapa larik puisi berikut.

Nasihat Diri: Langkah
….
Ke manakah kakikaki kita melangkah?
Gerhana atau purnama?
….
Akankah kakikaki kita menjadi nyala api
berkobar menuju berhala?
Atau tertatih-tatih ke masjid dalam lima masa
….
Kakikaki kita juga jadi tanda-tanda dosa dan pahala
Di manakah kita akan berpihak?
(Kumpulan Puisi Tak Malu Kita Jadi Melayu, 2019:9)

Alhamdulillah.
Bengkalis, Selasa, 23 Safar 1444 / 20 September 2022

Baca: Tangan