Hati

Guru

Bismaillah,
Hari itu, Hamba bertanya kepada Abah tentang kebenaran.
”Jawabannya ada pada hatimu. Tanyakan pada lubuk hatimu yang paling dalam,” Abah tak berlama-lama menjawab keingintahuanku. Sudah sekian lama Hamba memikirkan jawaban Abah ini. Jawaban Abah telah mengajuk pemikiran Hamba. Hamba jadi menerka bahwa tempat segala kecerdasan adalah hati, bukan otak. Bukankah dalam agama Hamba sudah mengajarkan bahwa dalam tubuh ada segumpal daging/darah. Jika segumpal daging/darah itu elok, maka eloklah seluruh tubuh. Cahaya kemuliaan akan datang. Jika tidak, maka tunggulah gerhana kehinaan yang kelam.

”Di palung hati kita, tersembunyi rahasia kebenaran Tuhan,” kata Emak pula.
Ternyata, terkaan Hamba terjawab juga setelah mengendap bertahun-tahun. Hasil penelitian Malik dan Shanty (2019) mengungkapkan bahwa hati menjadi pusat penting bagi manusia. Mereka meneliti karya-karya pujangga agung Melayu, Raja Ali Haji, tentang karakter kepemimpinan. Malik dan Shanty mengemukakan teori bahwa hati merupakan sumber landasan karakter memiliki 4 tingkatan. Pertama, qalbu. Qalbu merupakan kulit terluar hati. Kedua, lapisan kedua adalah fuad. Fuad merupakan tempat berkumpulnya kecerdasan intelektual. Ketiga, lapisan ketiga adalah thaqafah, yaitu tempat berkumpulnya kecerdasan emosional. Keempat, lapisan lubb, yaitu jejaring penghubung antara fuad dan thaqafah. Kelima, merupakan lapisan terdalam, yaitu sirr. Sirr inilah lubuk hati terdalam yang dimaksudkan Abah. Palung hati yang dimaksudkan Emak. Di lubuk hati terdalam inilah, nur Ilahi penerang hati, atau cahaya kemuliaan. Sirr inilah inti hati: rahasia Allah Taala, pusat kebenaran.
”Padang perahu di lautan, padang hati di pikiran,” kata Nenek pula sembari mengunyak bakik.

Secara fisik, hati atau hepar merupakan kelenjar yang terbesar di dalam tubuh manusia. Letak hati di dalam rongga perut sebelah kanan, tepatnya di bawah diafragma. Hati juga termasuk sebagai alat ekskresi karena membantu fungsi ginjal. Hati berkemampuan memecah senyawa bersifat racun. Hati pun bisa menghasilkan amonia, urea, dan asam urat dengan memanfaatkan nitrogen dari asam amino. Proses pemecahan senyawa racun oleh hati disebut proses detoksifikasi.
”Coba kalau tak ada hati. Bertimbun-timbun racun dalam tubuh kita,” kata Bu Ani, Guru IPA Hamba semasa SPG di Tanjungpinang dulu. Hamba jadi terkenang betapa hebatnya Pulau Penyengat. Di pulau inilah, Raja Ali Haji dan kawan-kawannya telah membina bahasa dan tamadun Melayu. Mereka membangun tamadun dengan Rusydiyah Klub dan percetakan Mathabaat al Riauwiyah atau Mathabaat al Ahmadiyah. Sungguh, tamadun literasi yang agung terbangun dan terjaga di pulau mahar Engku Puteri Hamidah ini. Melalui karya-karyanya itulah, Raja Ali Haji dan kawan-kawan membangun hati bangsa. Mereka menanam jati diri di dalam syair, gurindam, dan pantun.

”Hati itu kerajaan di dalam tubuh / Jikalau zalim segala anggota pun rubuh,” tulis Raja Ali Haji dalam Gurindam Duabelas, Pasal Keempat, Ayat Pertama. Pada ayat-ayat selanjutnya dalam pasal ini, Raja Ali Haji berhujah tentang penyakit-penyakit hati yang zalim itu.

Tanpa sadar, Hamba pun menaruh perhatian bersungguh-sungguh pada hati. Setelah Hamba bolak-balik beberapa karya, ternyata ada empat karya Hamba berkaitan dengan hati. Pertama, cerpen bertajuk Lelaki Muda dan Sekeping Hati yang tergabung dalam kumpulan cerpen Tuan Presiden, Keranda, dan Kapal Sabut (Seligi Press, 2009). Kedua, cerpen bertajuk Taik di Hatiku yang terangkum dalam kumpulan cerpen Hikayat Kampung Asap (Seligi Press, 2010). Ketiga, puisi bertajuk Setangkai Melati di Hati yang terangkum dalam kumpulan puisi Tak Malu Kita Jadi Melayu (TareBooks, 2019). Keempat, Hamba menulis novel bertajuk Salah Langkah yang terbit Juni 2022 lalu (Deepublish). Novel ini berkisah tentang seorang tokoh (lelaki aneh). Hati tokoh ini ditanamkan chip di hatinya. Dengan chip ini, hatinya diprogram untuk melakukan teror. Dengan semena-mena, tokoh aneh itu meledakkan bom di mana-mana.
”Kalian jangan bersultan di mata, beraja di hati,” begitulah Emak berpesan berulang-ulang.
”Ikut hati mati, ikut rasa binasa,” timpal Nenek sambil menganyam tikar mengkuang.

Terlalu banyak tertawa, hati bisa bertemu maut. Beku. Dalam keramaian, hati bisa sepi. Selalu mengingat Allah Taala, hati menjadi tenang. Hati bisa patah dan berdarah. Luka. Hati pun mampu menumpahkan air mata. Remuk. Dalam cobaan, hati bagaikan karang untuk berbuat sesuatu yang berfaedah. Hati bahagia. Hati sengsara.
”Percayalah, jauh di lubuk hati, kamu ditakdirkan untuk melakukan hal-hal besar,” kata bijak Joe Paterno.
Hati penuh cinta, iba, dan duka. ”Terpujilah cinta yang mampu mengisi kesepian manusia dan mengakrabkan hatinya dengan manusia lain,” kata Khalil Gibran pula.
”Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba, dan dapat merasakan kedukaan,” timpal Soe Hok Gie begitu yakin.

Hamba takut hati mengeras. Hati membatu. Hamba gerun hati membuta. Gelap gulita. Hamba ngeri jika hati mati. Qalbun mayyit. Cuma mengandalkan akal, kejahatan melebihi binatang. Hati mati mencari kepuasan yang tak terpuaskan. Gila hormat, gila kuasa, gila maksiat. Hamba cemas jika hati sakit. Qalbun maridh. Hati ini selalu galau atau risau, waswas, sombong, iri, dengki, dan cemas. Hamba senantiasa berharap hati salim. Qalbun salim. Bening seumpama embun. Lurus bagai alif. Ikhlas laksana Al Ikhlas.
”Akhirat itu terlalu nyata / Kepada hati yang tidak buta,” Gurindam Duabelas, Pasal Duabelas, Ayat Ketujuh.

Alhamdulillah.
Bengkalis, Selasa, 08 Rabiul Awal 1444 / 04 Oktober 2022

Baca: Lidah