Mail Mau Bunuh Diri

Foto Ilustrasi

Cerpen Machzumi Dawood

JALAN itu selalu dilalui orang. Baik ketika bersantai bersama keluarga, berolahraga jogging, maupun sedang menikmati pemandangan. Apalagi bagi para muda-mudi, jalan itu merupakan salah satu tempat favorite, selain jalan yang berada di bawahnya.

Di jalan itu, ada sebuah tempat yang sejak lama disebut sebagai Wihelmina Bank, sebuah tempat yang dibuat khusus untuk melepas lelah sambil memandang laut di bawahnya. Mungkin agak sulit lidah menyebut Wihelmina Bank, maka biasanya tempat itu disebut ‘Panorama’. Nah! Walau jalan itu selalu dilalui banyak orang, tetapi percayalah, tak banyak yang tahu, bahwa nama jalan itu ialah Sultan Abdul Rahman.

Bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun, belum pernah saya menyaksikan atau mendengar kecelakaan di Wihelmina Bank. Atau ada yang nekad, terjun bunuh diri dari panorama ke jalan di bawahnya saya rasa tak kurang dari 20 meter.

Ih, seram!

Tetapi, ada seorang teman akrab saya, yang rupanya ingin sekali bunuh diri, terjun dari Panorama itu ke jalan di bawah sana. Namanya Mail.

Petang itu, saya dan Mail duduk di Panorama, melepas matahari, hari itu. Kami berbicara berbagai tentang hal ringan dan keseharian, sambil mengunyah kue basah dan minuman ringan. Eh, tidak. Hanya saya yang menikmati minuman ringan, sedangkan Mail, petang itu ingin minum bir. Bir merek Tiger. Tiga kaleng bir telah disiapkannya. Awalnya, saya tak begitu memasalahkan hal tersebut. Tapi ketika pembicaraan kami semakin hangat, masalah muncul.

“Aku pikir, petang ini adalah petang yang baik untuk bunuh diri!” kata Mail.

Saya tersedak.

“Bunuh diri?! Maksud kau apa, Mail?”

“Maksud aku, ya bunuh diri. Maknanya mengakhiri hidup oleh diri sendiri,” Mail menjawab datar. Aku diam beberapa ketika.

Lalu, “Oo, aku baru paham. Tadi kau ‘kan mau beli tali, lalu tak jadi. Apakah tali itu kau gunakan untuk bunuh diri?”

“Ya. Aku pikir, aku mau mengingat salah satu ujung tali ke tepi pagar tembok itu, sedang ujung yang satu lagi akan kuikat kesini…” sambung Mail, sambil memberi tanda cekikan di lehernya.

“Terus,” kata saya seperti orang bodoh.

“Terus … ya lompat sajalah ke bawah. Selesai! Ha ha ha …”

Saya tercekat. Astaga, semudah dan sesederhana itukan cara Mail mengakhiri hidupnya? Mungkinkah kata-kata yang diucap Mail, akibat minuman keras yang diminumnya. Atau, apakah dia sedang bermasalah? Tetapi, masalahnya apa? Problem apa yang dia hadapi, hingga sampai pada pemikiran untuk mengakhiri hidup dengan cara yang nista itu? Nafas saya terasa sesak. Kepala saya bengap seketika.

Mail adalah satu-satunya teman lama saya yang masih ada. Teman akrab. Dia satu-satunya, karena teman-teman lama, baik yang satu kelas, satu sekolah, atau teman sepermainan kampung, semuanya sudah taka da lagi di kota ini. Ada yang pindah ke kota lain, pindah kenegara lain, dan yang terbanyak ialah berangkat ke alam barzah. Jadi andainya Mail jadi bunuh diri, agaknya saya bakal tak punya kawan lama. Sementara, mencari teman yang baru yang sehati adalah masalah yang cukup musykil.

Berpikir sampai demikian, saya kembali membuka percakapan. “Tali ‘kan tak jadi dibeli. Itu berarti bunuh dirinya tak jadilah, ya? Mail diam. Meneguk minumannya, menghisap rokoknya dalam-salam lalu menghembuskan asap rokoknya dengan dengusan gusar.

“Belum tentu …” katanya lemah.

“Belum tentu gimana?”

“Belum tentu. Bunuh diri atau tidak jadi bunuh diri. Tapi itu nanti sajalah. Mari kita menikmati kue-kue ini. Juga minuman ini. Ha ha ha ha ha …” Mail kembali meneguk minumannya, bir merek Tiger.

Selanjutnya, kami terbenam dalam pikiran dan lamunan masing-masing. Intensitas dialog kami sudah mulai berkurang. Pembicaraan lebih banyak dengan hati-hati masing. Matahari di barat menderas turun, seakan-akan hendak menenggelamkan Pulau Penyengat.

Sekumpulan anak muda, memacu sepeda motor mereka dengan kencang.. Bunyi sepeda motor itu memekakkan telinga.

“Budak sial! Bedebah! Emak-bapak dia tak pernah mengajarkan sopan-santun agaknya!” Mail memaki-maki dengan suara yang seperti akan menyaingi raungan sepedamotor. Tinjunya dikepalkan mengarah ke udara. Tapi anak-anak mudah itu sudah tak Nampak lagi.

“Mudah-mudahan mampuslah budak-budak ‘tu di ujung simpang sana!” Mail masih meneruskan makiannya.

Saya tersenyum samar. Geli hati.

Setelah hari ketika Mail mau bunuh diri itu, beberapa kali kami bertemu.

Di sebuah kedai kopi di pasar KUD, ketika saya sedang menantikan istri yang sedang membeli ikan, saya bertemu dengan Mail. Tema pembicaraan pagi itu ialah tentang pong-pong. Mail bercerita tentang seorang tetangganya yang belum lama berselang membeli sebuah pong-pong bekas pakai. Maksudnya supaya mudah pergi melaut. Memancing. Ternyata belum sampai dua bulan, dan baru beberapa kali ke laut, pong-pong tersebut sudah berlayar malam alias dicuri orang.

“Nasib buruk memang selalu berpihak selalu berpihak pada masyarakat kecil seperti kita ini. Untung kawan ‘tu tak bunuh diri!” ujar Mail menutup kisahnya.

Di waktu yang lain, kami bertemu di sebuah kedai kopi di Jalan Merdeka. Ketika saya berjalan di kaki lima di sebuah kedai kopi, ada suara memanggil. Keras! Rupanya Mail. Sekali ini Mail tidak sendiri, tapi berdua. Dengan seorang lelaki tinggi-tegap, berkumis cukup lebat, kulit agak gelap dan botak! Mail mengenalkan kawannya itu. Namanya Leman. Mail tetap dengan gayanya yang riang dan temperamental. Hari itu ia mengenakan kaca-mata hitam. Entah apa mereknya. Yang jelas bukan Rayband.

“Aku suka memakai kaca-mata hitam, kita bisa lihat orang, tapi orang tak tahu kemana kita memandang,” Mail memulai aksinya.

Yang jelas, kata-katanya ditujukan kepada kami berdua. Leman Cuma tersenyum lebar. Saya belum sempat beraksi, ketika tanpa ditanya, Mail sudah berkata lagi.

“Kaca mata hitam ini, Leman yang beri. Leman memang mujur. Coba bayangkan. Kapalnya pecah di Selat Malaka ketika akan pergi ke Port Klang. Eh, masih hidup juga dia. Satu kapal empat belas orang, hidup semua. Leman ini kapten kapal. Kalau anak buahnya ada yang mati, pasti dia bunuh diri. Ha ha ha ha ha ha …” Mail berdekah.

Kali ini aku kehilangan gurau. Bukan aku tak suka dengan gurauan Mail. Cuma, di dalam hatiku terasa getaran, yang merambat di dalam jalan darahku. Penciumanku seperti merasakan aroma yang asing namun sangat kukenal.

Pesawat dari Batam ke Jakarta take-off pukul 14:30. Tapi pukul 10:00 saya sudah pergi dari rumah. Istri saya setuju saja ‘Pergi lebih awal, tidak bergegas-gegas dan tidak terlambat’, demikian semboyan istri saya. Karena tak perlu tergesa-gesa, maka saya sempatkan duduk di kedai kopi, sebagai mana kebiasaan kebanyakan kaum lelaki di kota ini. Supaya lebih dekat ke pelabuhan, saya memilih duduk di dekat kedai kopi di Jalan Bintan. Sungguh dinyana, belum lama saya duduk, melintas Mail di kedai kopi. Saya memanggilnya tanpa berteriak keras, sambil melambaikan tangan. Sejenak Mail berhenti, seperti orang keheranan. Begitu mendekat, Mail mulai dengan interogasinya.

“Pagi betul sudah di kedai kopi?!”

“Eh, jam berapa? Coba lihat?”

Mail mengamati jam di pergelangan tangannya, lalu tersenyum malu.

“Eh, kukira jam delapan, rupanya sudah pukul sepuluh lewat. Kopi O, Nya!” Mail langsung menyalakan rokoknya, lalu menyanyi-nyanyi kecil, sambil mengetuk-ngetukkan jari tangannya di meja.

“Senang hati nampaknya?” saya mengusik Mail.

Dia hanya tersenyum lebar. Kacamata hitam yang menutup matanya, membuat saya tak dapat menebak apa yang sedang direncanakan Mail. Begitu Mail melihat tas bawaan saya, yang lebih besar dari yang biasa saya bawa sehari-hari, langsung saja meluncur pertanyaannya.

“Eh, kau mau berangkat, ya?”

“Ya.”

“ke mana, Jakarta?”

“Ya.”

“Lama?!”

“Taklah. Beberapa hari saja. Paling lama satu minggu.”

“Ehh…”

“Mengapa?!”

“Taka pa-apa. Cuma bertanya.”

Kami meneguk minuman masing-masing. Orang-orang datang dan pergi. Juga penjaga surat-kabar dan pengamen.

“Siapa adik perempuan kau yang di Jakarta ‘tu?”

“Yosi.”

“Ya, Yosi. Sampaikan salamku untuk dia ya? Bilang dengan dia aku bangga pada dia. Beberapa kali aku lihat dia di televisi. Akhirnya berhasil juga dia menjadi bintang. Syukurlah,” Mail berbicara tanpa bersenda.

“Alhamdulillah. Dari kecil, Yosi memang bercita-cita menjadi bintang. Akhirnya, tercapai juga cita-citanya.”

Mail tersenyum lebar.

“Ingat tak, ketika dia menyanyi-nyanyi dan menari-nari di depan teras rumah kau? Pakai kain, mikrofonnya sapu, ha ha ha ha …” Mail mengakak hingga sempat mengundang perhatian orang-orang di meja lain. Saya melihat, ada alur air mata di pipinya.

Sebelum kami berpisah, sekali lagi Mail menyampaikan salam untuk Yosi. Mail memang kenal baik dan dikenal oleh seluruh anggota keluarga saya, sejak lama. Dan Yosi itu adalah kesayangannya.

Rupanya, pikiran saya meleset. Orang yang ingin saya temui, mendadak harus keluar ke Jakarta ketika saya telah sampai di Bandara Soekarno-Hatta. Tapi cukup menguntungkan, karena saya punya banyak waktu untuk bertemu dan berbincang-bincang dengan Yosi. Tawa Yosi berderai, ketika saya bercerita tentang ‘bang Mail-nya’.

Yosi ingat benar ketika Bang mail menyuapinya, mendukungnya, memandikannya, bahkan memukulnya perlahan kalau dia nakal. Untuk Bang Mail, Yosi sudah menyiapkan seperangkat pakaian. Kemeja putih, dasi merah, jas hitam, kaus kaki hitam, dan sepatu hitam. Semuanya dikemas dalam satu paket bungkusan indah yang diberi pita merah.

“Tolong sampaikan pada Bang mail, ya Bang? Ini kiriman khusus untuk Bang Mail.”

Aku tak dapat berkata-kata. Entah mengapa, lidahku kelu. Aku terharu dengan perhatian Yosi terhadap Mail. Mail yang kurang beruntung.

“Bang Mail itu dah kawin tak, Bang?” terdengar suara Yosi menyadarkanku.

“Bang Mail kau ‘tu, belum sempat kawin nampnya,” saya mencoba bergurau, tapi terasa getir.

Perjalanan Jakarta-Batam-Tanjungpinang yang terasa rutin, tak memberikan sentuhan apapun pada saya. Di Pelabuhan Sri Bintan Pura, saya abaikan para supir taksi dan pengojek. Saya memilih untuk berjalan kaki saja. Baru pukul satu siang. Saya arahkan langkah ke Jalan Bintan. Tujuan pertama, kedai kopi. Sambil menantikan pesanan kopi datang, saya membeli surat-kabar lokal yang ditawarkan seorang penjaja.

Berita apa agaknya, yang menarik untuk dibaca siang ini? Kalau berita utama, tentu tak jauh beda dengan berita utama surat-kabar Jakarta atau berita-berita televisi. Kelebihan surat kabar lokal ialah dalam hal meng-eksplorasi kejadian dan aktivitas daerah, dan menuliskannya secara kreatif, akurat, berimbang dan tidak memihak. Pencapaian inilah yang saya senangi.

Dan tiba-tiba, sebuah foto seseorang yang cukup besar, di halaman salah satu surat-kabar bahagian dalam. Rasanya saya kenal. Saya cermati foto itu. Cepat saya jelajahi judul beritanya. Tenyata, MasyaAllah! Saya mendadak lemas. Hampir saja jatuh dari kursi yang saya duduki. Untuk seseorang cepat menahan badan saya.

“Bapak tak apa-apa?” tanya anak muda itu cemas.

Saya mencoba mengambil nafas. Tak dapat menjawab. Juga belum sanggup sampaikan terima kasih. Empat-lima orang berkerumun. Di antaranya ada yang mengamati surat-kabar yang say abaca. Seseorang berteriak dengan emosi.

“Mail meninggal! Mail meninggal! Dia bunuh diri, terjun dari Panorama!” ***

*) Cerpen ini dikutip dari buku 100 Tahun Cerpen Riau

————————-

Machzumi Dawood lahir di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, 5 Desember 1951, wafat di Tanjungpinang 13 Januari 2012 (Usia 61 Tahun). Sejak tahun 1971 ia memulai menulis cerpen serius. Antara tahun 1976-1987 – selama 11 tahun – cerpen-cerpennya selalu mengudara di “Ruang Sastra dan Kebudayaan” RRI Tanjungpinang. Tahun 1977 meraih juara harapan dalam sayembara menulis fiksi yang diselenggarakan Majalah Gadis, Jakarta. Tahun 2001 meraih juara IV lomba mengarang novel yang diadakan Dewan Kesenian Riau. Tahun 2005 meraih juara II dan V lomba mengarang cerita pendek tingkat Provinsi Kepulauan Riau yang diselenggarakan Komunitas Seni Rumahhitam, Batam. Cerpennya masuk dalam antologi Ka Te pe, Kumpuluan Cerita Pendek dan Puisi (Pemerintah Kota Tanjungpinang, Dinas kebudayaan dan Pariwisata, 2007). Novelnya Encik Dawood (Gurindam Press, 2006) merupakan pemenang IV Lomba Menulis Novel Dewan Kesenian Riau 2001. Karya-karyanya berupa puisi terhimpun dalam Kumpulan Pertama (1974), Topeng Bulan (1976), Sajak untuk Dia (1996), Tersebab Senandung laut Hitam; antologi tiga penyair Kepulauan Riau bersama Junewal Mochtar dan Hoesnizar Hood (Yayasan Khazanah Melayu, 2002). Kumpulan puisi tunggalnya, Ejalah, Anakku (Dewan Kesenian Kepulauan Riau, 2003). Ia menerima Anugerah Seni Bulang Linggi Kategori Seniman Utama dari Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau.*

Baca : Perahu Mahabadai

*** Laman Cerpen terbit setiap hari Minggu dan menghadirkan tulisan-tulisan menarik bersama penulis muda hingga profesional. Silakan mengirim cerpen pribadi, serta terjemahan dengan menuliskan sumbernya ke email: [email protected] Semua karya yang dikirim merupakan tanggungjawab penuh penulis, bukan dari hasil plagiat,- [redaksi]