Hutan

Guru

Bismillah,
Semasa hidup, selain melaut, Abah selalu melewati hutan. Berangkat bakda Subuh, balek bakda Magrib. Setelah menembus hutan, baru sampai di kebun warisan nenek. Beragam tanaman tahunan bisa kita temukan di sana. Durian, rambutan, cempedak, meria atau rumbia, getah atau karet, kuini, pelam, dan beragam pepohonan hutan lainnya. Pernah Hamba bertanya kepada Abah apakah tidak gerun melewati hutan dan kuburan.
“Tidak dan tidak pernah bertemu dengan makhluk aneh,” katanya. “Takut itu hanya patut kepada Allah Taala,” tegasnya yang menguatkan hati Hamba.

Hutan itu sama halnya dengan laut. Pemilik semesta membentangkannya untuk semua makhluk. Hakikatnya, kita semua mencintai hutan. Namun, keserakahanlah yang meruntuhkan rasa cinta itu sehingga punah-ranah. Hutan-hutan terkulai dengan dalih pembangunan. Hutan-hutan meranggas dengan kilah menunjang industri. Hutan-hutan rebah dengan sebab teknologi. Berlaksa alasan menjadi sebab hutan-hutan terkapar mati.

Hutan sangat eksotis. Bentangan beragam pepohonan itu mampu melahirkan inspirasi. Imajinasi pun bisa subur dari hutan. Bahkan, perumpaan tentang cinta pun lahir dari eksotisnya hutan.
“Cinta laksana pohon yang tumbuh di hutan belantara, tumbuh di bawah rimbunan pepohonan besar tanpa sinar matahari. Pohon itu tetap tumbuh. Akan tetapi, tingkat pertumbuhannya akan lebih sempurna jika terkena sinar matahari. Matahari yang menyinari pohon itulah wajah atau gambaran hubungan dalam cinta,” begitu kata Jean-Paul Sartre.
”Aku mencintai hutan. Tidak enak tinggal di keramaian. Di sana terlalu banyak mereka yang bernafsu,” timpal Friedrich Nietzsche. Karena keramaian itu tempat orang-orang bernafsu (serakah), akhirnya hutan menjadi sasaran. Akhirnya, hutan menjadi lahan basah, terutama bagi orang dan konglomerat yang kemaruk.

Hutan sebagai sarana pemahaman kita akan kebenaran. Hutan pun wadah kejujuran. Hutan mengandung keindahan. Hutan adalah rumah dan nafkah. Karena itu, hutan bagaikan awan mendung yang mengandung hujan dan melahirkan kebahagiaan. Karena itu, kita jangan heran jika di Jepang menggunakan metode shinrin-yoku, yaitu terapi penyembuhan dan pencegahan penyakit dengan cara berjalan kaki tanpa tujuan di hutan. Pengembaraan dalam hutan.
”Hutan itu kawan. Bukan suatu yang menggerunkan,” begitu nasihat Abah kepada Hamba.

Hutan adalah kekayaan. Hutan bukan hanya bicara pepohonan. Bicara tentang hutan adalah berbincang tentang ketenteraman dan kenyamanan. Hutan bisa bicara tentang kesehatan dan kebugaran. Hutan pun menghadirkan karya sastra. Berlaksa imajinasi akan menari-nari ketika kita menghayati hutan apalagi ketika bersebati dengannya. Hutan bisa membangkitkan beragam rasa. Hutan menghadirkan beragam bebauan yang bisa kita hirup sepuasnya. Segar. Di hutan, ada ragam irama. Desah dedaunan, nyanyian satwa, irama pepohonan atau dahan bersanggit, rangupnya dedaunan kering, dan berlaksa gambaran yang bisa kita lukiskan, baik dengan kata-kata maupun di atas kanvas.

”Menjaga hutan, menjaga kekayaan. Menanam pepohonan berarti menabung harta,” kata Abah sungguh-sungguh.
”Tanda orang memegang amanah, pantang merusak hutan dan tanah. Tanda orang berpikiran luas, memanfaatkan hutan ianya awas. Tanda orang berakal budi, merusak hutan ia tak sudi. Tanda ingat ke anak cucu, merusak hutan hatinya malu. Tanda orang tidak bermarwah, hidup merusak hutan dan tanah. Tanda orang tidak beradat, laut dirusak hutan dibabat,” demikian nasihat dalam Tunjuk Ajar Melayu (Tenas Effendy, 1994). Hutan mengandung amanah. Hemat dan cermat memanfaatkan hutan merupakan ciri manusia berpikiran luas. Tidak merusak hutan bermakna berakal budi tahu malu dan bermarwah. Pembabat hutan merupakan orang-orang yang tak beradat, tak berbudaya.
”Kesehatan mental manusia bisa bertambah baik saat hidup dikelilingi hutan,” tambah Jones, peneliti dan penulis buku Utopian Dreams.

Hutan bagaikan untaian puisi dan prosa yang dituliskan pemilik semesta di dunia nyata. Tubuhnya mengandung sastra yang penuh ibrah dan indah. Puisi karya Ediruslan Pe Amanriza bertajuk Kabut di Belantara Hutan itu Berpendaran. Penulisnya bersyair tentang penderitaan hutan: Suasana hutan berkabut karena terbakar. Hutan sunyi dalam kedinginan. Begitu mendera, sungai pun kehausan, dan danau di hutan menyerah ke langit menandakan penyerahan diri kepada Ilahi. Begitu pekatnya kabut, cahaya pun tak mampu menembusnya. Akibatnya penulis melukiskan dengan larik tiada bayang-bayang/ …. Semuanya kehilangan jejak di perjalanan.

Tentang hutan, Riau sering menangis. Hutan Riau dirampas, dijarah, dan dijajah. Riau pun dapat padah karena ulah orang-orang dan konglomerasi serakah. Kita masih ingat ketika tubuh Riau dimamah api. Lalu, Riau dihempas asap dan jerebu kebakaran hutan. Kebahagiaan negeri ini diciduk. Keindahannya dibakar. Tubuhnya menanggung sesak napas. Kenyamanan yang diberikan melalui hutan Riau terus lenyap perlahan. Kejujuran dan kebenaran dirampas dari rimba raya Riau. Kondisi ini telah melahirkan karya sastra sebagai bentuk protes sosial. Sejak 2014 dalam kumpulan Cerpen Pilihan Riau Pos, sastrawan Riau telah mencatat tanda-tanda penyiksaan terhadap hutannya. Beragam kisah diceritakan dalam karya sastra tentang derita hutan Riau, baik dalam bentuk puisi cerpen, dan novel.

Mari bayangkan diri kita adalah hutan. Kita ditebang. Kita disayat. Kita dibakar hidup-hidup. Perih apalagi yang dapat kita bayangkan jika hutan terus diperlakukan dengan semena-mena.

Hamba ingin menjadi hutan. Hamba ingin ramah pada orang-orang serakah sampai orang-orang serakah itu paham bahwa dia serakah dan menjadikan Hamba punah. Sampai orang-orang serakah itu mengerti bahwa dia telah menciptakan sesak di dadanya sendiri karena ulah keserakahannya.

Jangan berikan hutanmu, Indonesia!***

Alhamdulillah.
Bengkalis, Selasa, 20 Rabiul Akhir 1444 / 15 November 2022

Baca : Air