Oleh: Marzuli Ridwan Al-bantany*)
Bismillah,
RAYYAN Arkhan Dikha, sang bocah Togak Luan Pacu Jalur di Kuantan Singingi ini benar-benar mencuri perhatian publik, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Aksi tarinya yang energik dan penuh pesona dalam pacuan Pacu Jalur yang tengah viral ini pun telah menambat hati,- membuat mata seantero negeri tertuju padanya, pada tradisi dan budaya Pacu Jalur yang telah mengakar sejak lama di Kuantan Singingi, Riau.
Sungguh bocah cilik ini tak menyangka jika dirinya ditakdirkan Tuhan menjadi simbol keagungan dan kesejatian budayanya, pada tradisi Pacu Jalur yang membuat kita semakin cinta akan budaya lokal, budaya bangsa yang mesti terus dirawat dan dijaga dengan segenap jiwa dan raga.
Saya yakin, Rayyan Arkhan Dikha dengan tarian khas Togak Luan yang ‘dimainkannya’ dan sedang tren di berbagai belah dunia karena ‘Aura Farming’-nya, bukan semata-mata mendambakan riuh tepuk tangan dan pujian dari khalayak ramai maupun sejumlah pihak yang kini menginginkannya, melainkan karena cintanya yang mendalam dan tulus akan tradisi Pacu Jalur sebagai warisan peradaban yang luhur, yang membuatnya demikian tumbuh menjadi remaja yang berbudaya.
Saya juga yakin, tradisi Pacu Jalur bagi bocah berusia 11 tahun ini tak ubahnya umpama ruh yang selalu membungkus jasad dirinya, yang membuat hidupnya penuh arti dan lebih bermakna,- dalam mengarungi perubahan zaman yang semakin liar dan sulit dikendali. Juga di tengah arus gelombang peradaban yang kadang memalingkan akal budi, serta mengikis kesejatian dan hakikat diri.
Dengan tarian Togak Luan penuh cinta dan mengalir begitu saja yang telah dipertunjukkan Rayyan Arkhan Dikha dalam pacuan Pacu Jalur di Tepian Rajo Batang Kuantan, Kuantan Singingi itu, kita tanpa sadar telah diajaknya untuk menjadi manusia yang tampil apa adanya. Belajar menjadi insan-insan yang selalu menghargai, yang mencintai serta merawat warisan budaya yang telah tumbuh, mengakar dan berurat nadi sejak lama dalam kehidupan masyarakat Riau, khususnya dalam masyarakat Kuantan Singingi.
Apa yang telah menjadi perbincangan masyarakat luas, termasuk netizen di dunia maya dalam sepekan ini tentang bocah cilik yang akrab disapa Dhika itu, tentu sesuatu yang wajar. Sesuatu yang dianggap alamiah dan lumrah adanya. Rayyan Arkhan Dikha seakan telah menghipnotis semua mata, menjadikan kampung halaman dengan Pacu Jalur-nya semakin dikenal luas. Apatah lagi gelar Duta Pariwisata yang diterimanya dari Gubernur Riau Abdul Wahid hari ini (Selasa, 8 Juli 2025), seakan menjadi magnet serta harapan baru bagi bangkitnya dunia kepariwisataan di bumi Riau, khususnya bagi Kabupaten Kuantan Singingi melalui Pacu Jalur yang dihelat setiap tahunnya.
Sebagai masyarakat Riau, sudah sepantasnya kita merasa bangga dan bahagia, sebab tradisi Pacu Jalur kini telah mendunia melalui aksi manis Rayyan Arkhan Dikha dan para Togak Luan (anak Coki) lainnya yang diabadikan sedemikian rupa oleh para konten kreator melalui Tik Tok, Instagram, media massa dan media sosial lainnya. Namun kita jangan sampai lupa, bahwa merawat tradisi yang diwarisi para leluhur dan orang-orang tua kita sesungguhnya tidaklah mudah,- ia tentu memerlukan kesabaran, ketabahan dan keikhlasan yang tinggi, yang harus senantiasa dipupuk sejak usia dini lagi, seperti apa yang telah diisyaratkan sang Togak Luan Rayyan Arkhan Dikha, bahwa dari ujung sebuah jalur di Batang Kuantan yang tenang ia telah terpanggil hati dan nuraninya menjadi sang motivator setia, yang menggerakkan segenap kekuatan, kekompakan para pendayung jalur yang disemangatinya.
Selamat dan tahniah kepada Rayyan Arkhan Dikha, bocah cilik dari Desa Pintu Gobang, Kari, Kabupaten Kuantan Singingi yang telah mencuri perhatian kita semua, menjadi simbol pada kecintaan yang tulus akan budaya dan akar tradisi. Juga kepada seluruh peserta Pacu Jalur, lapisan masyarakat Kuantan Singingi dan segenap panitia yang telah sukses mengikuti dan menyelenggarakan Festival Pacu Jalur (FPJ) Tradisional Rayon III Kabupaten Kuantan Singingi di Tepian Rajo Pangean Tahun 2025.
Kita semua tahu, bahwa dari tepian Sungai Kuantan itu kini telah mengalir semangat dan aura cinta yang paling deras, mengalahkan setiap letih dan keringat dari para pendayung jalur. Suatu kecintaan yang tak akan pernah padam pada budaya lokal Pacu Jalur yang telah mendunia, yang hadir menyatukan hati dan pikiran-pikiran kita,- bahwa dengan budaya kita akan selalu bersatu, hidup dalam ikatan persaudaraan dan kebersamaan yang seutuhnya. Wallahu a’lam. ***
*) Marzuli Ridwan Al-bantany, sastrawan dan budayawan, bermastautin di Bengkalis, Riau






