Oleh: L.N. Firdaus
Certified Excellent Trainer Professional (CETP®), Direktur Eksekutif Pusat Transformasi Minda Guru (CTMT), FKIP Universitas Riau
SENIN pagi, 13 Oktober 2025, aula SMP Negeri 2 Dumai tampak berbeda. Tujuh belas tahun lalu penulis pernah menjadi Tenaga Ahli Pengembangan Sekolah Bertaraf Internasional SBI-SMP Negeri 2 Dumai (September 2007-Agustus 2008).
Suasana hangat dan penuh semangat terasa ketika 71 peserta yang terdiri dari 91,8% guru dan 8,2% tenaga kependidikan (GTK) mengikuti pelatihan bertajuk “Membangun Profesionalisme GTK dengan Pola Pikir Bertumbuh untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran dan Satuan Pendidikan.” selama sehari penuh.
Hasil angket evaluasi (google form) dari 61 peserta yang merespon menunjukkan bahwa kegiatan ini sangat relevan dan berdampak positif. Sebanyak 95% peserta menyatakan tema pelatihan sangat sesuai dengan kebutuhan guru masa kini, sedangkan 98% peserta menilai penyampaian narasumber sangat inspiratif dan mudah dipahami. Kepuasan peserta yang mencapai 95,1% menunjukkan keberhasilan kegiatan ini dalam menyentuh dimensi kognitif dan emosional guru.
Salah satu peserta menulis: “Pelatihan ini membuka kesadaran bahwa guru profesional bukan yang paling tahu, tetapi yang mau terus belajar.” Dari 61 responden evaluasi, hampir seluruhnya mengaku mengalami perubahan cara pandang terhadap profesinya.
Lebih dari 90% peserta menyatakan akan menerapkan growth mindset dalam praktik sehari-hari di sekolah. Salah satu peserta menulis: “Saya akan menjadi teladan dengan menunjukkan bahwa kegagalan bukan akhir, tapi bagian dari pertumbuhan.”
Mayoritas peserta menilai pelatihan ini menyentuh hati dan memotivasi. Hampir seluruh responden mengusulkan agar kegiatan seperti ini dilaksanakan secara berkelanjutan dan dengan durasi yang lebih panjang (tidak cukup hari sehari penuh). Sebagian berharap ada pendampingan lanjutan agar penerapan growth mindset benar-benar menjadi budaya di sekolah.
Rangkuman hasil evaluasi menunjukkan: 95% peserta menilai pelatihan bermanfaat bagi peningkatan profesionalisme. 98% menyatakan narasumber menyampaikan materi dengan inspiratif. 94% menyebut pelatihan membangkitkan semangat untuk berubah. 92% berharap kegiatan serupa dilakukan rutin setiap semester.
Pelatihan di SMP Negeri 2 Dumai ini membuktikan bahwa perubahan pendidikan tidak selalu membutuhkan program besar. Sesungguhnya, transformasi pendidikan tidak dimulai dari kurikulum, tetapi dari kesadaran guru. Saat guru tumbuh, siswa pun akan tumbuh.
Dari seluruh hasil evaluasi, dua kata kunci yang paling sering muncul adalah “bermakna” dan “berkelanjutan.” Para guru berharap kegiatan ini tidak berhenti di satu kali pelatihan, melainkan menjadi gerakan perubahan yang konsisten di SMP Negeri 2 Dumai. Pendidikan tidak akan berubah hanya dengan kebijakan baru; perubahan sejati dimulai dari minda guru yang terbuka untuk tumbuh. ***






