Pertanggungjawaban

TANGGUNG jawab adalah kesadaran dan kewajiban seseorang untuk menanggung akibat dari segala perbuatan, ucapan, keputusan, maupun tugas yang telah dilakukan, yang diemban atau yang menjadi kewajibannya. Dengan kata lain, tanggung jawab bermakna kesediaan menerima konsekuensi, baik positif maupun negatif dari apa yang telah dikerjakan atau diembankan kepadanya.

Dalam hidup, manusia memiliki berberbagai tanggung jawab, di antaranya tanggung jawab pribadi, sosial kemasyarakatan, moral, dan agama.

“…Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra: 36)

“Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Hijr: 92-93)

“Setiap kamu adalah pemimpin, setiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hidup di dunia ini adalah amanah dari Ilahi yang mesti dipertanggungjawabkan. Hidup tak boleh beraja di mata, bersultan di nafsu. Tak bisa berbuat sesuka dan sekehendak hati. Semua memiliki aturan. Segalanya mempunyai rambu-rambu dan batas. Untuk itu hati-hati dalam hidup. Kalau hidup hanya sekadar hidup, apa bedanya manusia dengan hewan? Kalau hidup sekadar hidup dan tak punya aturan, apa bendanya manusia dengan binatang?

“Kalau hidup sakadar hidup, babi di hutan pun hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja,” demikan kata Buya Hamka.

Manusia pada awalnya memang hewan menurut ahli mantiq, namun hewan yang dapat berpikir atau yang dikenal dengan hayawan al-natiq. Manusia menjadi istimewa karena dibekali akal pikiran dan kearifan serta merasa semua yang dilakukannya akan dipertanggungjawabkan sehingga membuat ia hidup beradab dan menjadi khalifah fi al-ardh.

Bertanggungjawab merupakan salah satu keistimewaan manusia bila dibandingkan dengan makhluk lain.

“Tidak bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sebelum ia ditanya tentang: umurnya untuk apa dihabiskan; ilmunya untuk apa diamalkan; hartanya dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan; serta tubuhnya untuk apa digunakan.” (HR. Tirmidzi)

“Siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar zarrah, niscaya ia akan melihat (balasannya). Dan siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarrah, niscaya ia akan melihat (balasannya).” (QS. Al-Zalzalah: 7-8).

Hidup di dunia serba bertunangan, hidup di dunia serba berpasangan. Siang- malam, pagi- petang; muda-tua, sehat-sakit; kaya-miskin; sibuk-lapang; hidup- mati.

“Pergunakan lima hal sebelum datang lima hal; muda sebelum tua; sehat sebelum tiba sakit; kaya sebelum jatuh miskin; waktu luang sebelum sempit; hidup sebelum datang kematian.” (HR. Al-Hakim)

“Wahai muda kenali dirimu/ ialah perahu tamsil tubuhmu/ tiadalah berapa lama hidupmu/ ke akhirat jua kekal diammu//” (Hamzah Fansury)

Oleh karena kematian pasti datang maka persiapkan segalanya dengan sebuah nota pertanggungjawaban.

Agar proses pertanggungjawaban di pengadilan Tuhan nanti sukses dan berakhir indah maka tiada kata lain kecuali melakukan kebaikan dan kebajikan selama menjalani kehidupan. Melaksanakan semua yang diperintah Tuhan dan meninggalkan segala yang dilarang-Nya.

Jangan sampai, subuh, zuhur, ashar, maghrib dan ‘isya berlalu tanpa menempelkan kening di tikar sembahyang. Jangan sampai tak kenal batas haram, halal; baik dan buruk. Jangan sampai hidup melebihi ayam yang tetap tahu pulang ke kandang ketika azan maghrib menggema dari masjid tua di ujung kampung. Jangan sampai…

Wallahu a’lam. ***

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews