STQH Nasional Kendari: Gema Al-Qur’an dan Hadis dari Ujung Timur Nusantara

Menjejak Tanah Sulawesi Tenggara

SENJA itu, 10 Oktober 2025, pukul 19.00 WITA, roda pesawat menyentuh landasan Bandara Haluoleo, Kendari. Udara malam menyambut lembut, membawa aroma asin laut dan semilir angin dari pepohonan yang mengelilingi kota. Di dinding bandara, spanduk hijau bertuliskan “Selamat Datang Peserta STQH Nasional di Kendari” banyak sekali terbentang megah, seolah menyapa setiap tamu dengan senyum keislaman.

Sepasang muda-mudi berbusana adat Sulawesi Tenggara berdiri di gerbang kedatangan. Senyum mereka merekah, tangan mereka ringan mengalungkan kain selamat datang kepada ketua kafilah yang baru tiba. Saya beruntung dijemput seorang sahabat, belum lama kenal tapi sudah akrab rasanya. Malam itu kami singgah di rumah makan khas Sulawesi. Ikan bakar, udang krispi, sepiring cah kangkung, terung bakar dan sambal khas tanah Celebes menjadi santapan pembuka perjalanan yang tak akan terlupa.

Di Tengah Gema STQH dan Warna Budaya

Keesokan paginya, 11 Oktober, saya meninjau kafilah Provinsi Riau di Hotel Horison. Suara lantunan ayat suci dari seorang qariah muda asal Rokan yang sedang latihan mengalun lembut, seolah menembus relung kalbu. Suara itu tidak hanya indah, tetapi menghadirkan kesejukan ruhani seperti embun yang jatuh di tengah padang gersang.

Menjelang siang, saya beranjak menuju Tugu Religi, ikon kota Kendari yang menjadi pusat pelaksanaan STQH. Matahari menyengat, namun tidak mengusik semangat panitia dan pedagang yang tengah mempersiapkan arena. Stand pameran dari berbagai provinsi Indonesia berdiri berderet, memperlihatkan ragam kuliner dan busana adat Nusantara, potret kecil dari keberagaman yang terjalin dalam satu iman.

Petang menjelang, saya singgah ke Museum Taman Budaya Kendari. Di sana terpampang tulisan: “Pameran Kaligrafi Internasional 2025.” Di dalamnya, warna dan huruf berpadu menjadi doa visual.

Pameran ini menjadi salah satu rangkaian kegiatan Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadis (STQH) Nasional ke-28, menampilkan 200 karya kaligrafi dari 50 negara di seluruh dunia. Pameran berlangsung selama sepekan, mulai 11 hingga 18 Oktober 2025. (sultra.fajar.co.id, 11/10/25)

Saya bertemu seorang sahabat lama, seorang kurator sekaligus kaligrafer. Ia memperkenalkan saya kepada Gori Yusuf Husen, seniman kaligrafi dari India. Dengan senyum tulus, ia menghadiahkan sebuah karyanya, lengkap dengan pin bertuliskan Jakarta International Calligraphy (JIC). Ketika foto penyerahan itu saya wa-kan kepada maestro kaligrafi Indonesia, Dr. Didin Sirojuddin AR, ia menulis singkat, “Ini karya terhebat.”

Selain Gori Yusuf Husen, saat itu hadir juga Dr Zaheda Khanam, Sarita Subhascandra Gal dan Iqra Zafar yang merupakan kurator dan seniman kaligrafi asal India.

Menjelang senja, asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sulawesi Tenggara membuka pameran secara resmi. Ruangan itu penuh karya, tapi sepi pengunjung. Barangkali karena kurangnya publikasi, atau bisa jadi karena kaligrafi, seni yang memadukan keindahan dan ketekunan spiritual, belum sepenuhnya mendapat tempat di hati masyarakat.

Malam tiba. Kota Kendari bersolek. Di arena utama STQH, lampu-lampu berpadu dengan cahaya bulan. Ribuan pengunjung memadati kursi dan tribun. Gema Al-Qur’an berkumandang, menggema di langit Kendari, menandai dimulainya perhelatan suci ini.

Di Balik Lomba dan Diskusi Intelektual

Tanggal 12 Oktober pagi, saya kembali ke arena STQH khusus untuk menyimak lantunan seorang qori cilik asal Riau. Suaranya bening, seperti sungai yang baru lahir dari hulu. Bersama pelatihnya, dan beberapa hadirin kami menyimak dengan rasa takjub dan syukur.

Langkah kaki membawa saya ke Kanwil Kemenag Sulawesi Tenggara, tempat berlangsungnya lomba Karya Tulis Ilmiah Hadis (KTIH). Di ruangan itu, peserta tampak tenggelam dalam kitab, buku dan layar laptop. Jari-jemari peserta menari di atas tuts, sebuah simfoni sunyi antara teks suci dan nalar ilmiah. Saya berbincang dengan salah seorang pelatih, seorang dosen, yang juga penulis seperti saya. Kami berbagi pandangan tentang dunia tulis-menulis di arena keislaman; percakapan yang hangat, seolah dua ruas bambu bertemu buku.

Siang menjelang petang, Hotel Claro Kendari menjadi pusat pertemuan Rapat Koordinasi LPTQ se-Indonesia. Ketua LPTQ Nasional, Prof. Abu Rokhmad yang juga Dijen Bimas Islam Kemenag RI memimpin jalannya diskusi. Banyak topik mengemuka: masa depan STQH, regulasi MTQ, nasib para juara setelah masa aktifnya berakhir, bonus para juara, hingga transparansi pengelolaan dana hibah. Pertemuan itu lebih dari sekadar rapat, ia adalah ruang refleksi untuk masa depan pembinaan tilawah dan syiar Al-Qur’an di tanah air.

Senja, Laut, dan Doa di Ujung Kendari

Sore itu, saya menumpang mobil menuju Pantai Toronipa Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe. Pengemudinya, anak muda Kendari yang ramah dan tulus, menjadi kawan perjalanan yang menyenangkan. Di kiri jalan, perbukitan hijau menatap tenang. Di kanan, laut biru terbentang luas, kapal-kapal berlabuh, rumah-rumah terapung menunggu senja. Dari kejauhan tampak Masjid Al-Alam yang berdiri anggun di atas air, ditemani jembatan Teluk Kendari yang melengkung seolah-olah joran pancing yang ditarik ikan.

Saya tiba di Toronipa ketika matahari bersiap pulang ke peraduan. Pasir merah menyambut langkah. Ombak kecil berkejaran, dan saya berendam sebentar, menikmati air laut yang hangat. Di hadapan mata, langit dan laut berciuman di cakrawala, sepotong surga yang dititipkan Tuhan di bumi Sulawesi.

Tiba-tiba saya teringat sebuah baliho di dinding kanwil kemenag tadi yang bertuliskan “Kita Beda Tapi Rukun.” Kalimat sederhana itu tiba-tiba terasa dalam. Seperti pesan Ilahi tentang hakikat keberagaman.

Malam pun turun. Lampu-lampu kapal berkelip di Teluk Kendari. Kami berhenti di sebuah masjid tepi laut untuk menunaikan Maghrib, lalu menikmati ikan bakar dan sayur daun kelor, cita rasa laut dan tanah yang berpadu dalam satu piring kedamaian.

Pagi berikutnya, 13 Oktober, saya menatap Masjid Al-Alam yang terapung di atas laut. Langit biru memantul di air yang tenang. “Benar,” saya berbisik, “Indonesia ini memang sepotong surga.” Dalam perjalanan menuju bandara, saya dan pengemudi berbincang tentang banyak hal, tentang agama, pemimpin, dan masa depan negeri.

Pukul 10.30 WITA, pesawat lepas landas meninggalkan Kendari. Dari jendela, laut, bukit, gedung dan rumah-rumah perlahan mengecil, tapi gema Al-Qur’an dari STQH tetap terasa bergema di dada.

Selamat Tinggal Kendari. Sampai jumpa di lain waktu. ***

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews