Sastra dan Melayu, Melayu dan Sastra (1)

PUNCA sebuah karya sastra ialah kehidupan. Dan sejarah sebagai suatu catatan peristiwa adalah kehidupan dapat saja dipandang sebagai salah satu bagian dari punca. Maka dengan memanfaatkan bahasa dapatlah kesustraan dipandang sebagai puncak yang bertolak dari punca tadi. (Hasan Junus, 1997: 121)

Sastra bagi Melayu ibarat sayur dan garam. Serasa tak menjadi sempurna kemelayuan itu jika tak ada sastra di dalamnya. Kehidupan orang Melayu tak pernah lepas dari sastra. Denyut nafas orang-orang Melayu itu adalah sastra. Tersebab itulah maka orang-orang Melayu dalam kesehariannya sangat akrab dengan pantun, petatah petitih, syair, gurindam, seloka, cerita rakyat dan bentuk sastra lainnya.

1. Melayu dan Sastra.

Sastra dan Melayu, Melayu dan sastra adalah dua kata dan peristiwa yang tak dapat dipisahkan. Seolah tidak Melayulah orang itu kalau ia menyukai dan tak bergelimang dengan sastra dalam hidupnya walaupun itu tanpa disadarinya.

Mulai dari ayunan, anak-anak Melayu sudah diakrabkan dengan sastra, seperti diayunkan atau dibuai dengan Nandung, Baghandu, Nyanyi Panjang, Kayat, Koba dan tradisi-tradisi sastra lisan lain di belahan negeri Melayu.

Sastra hidup daalam berbagai gerak kebudayaan Melayu. Pantun misalnya selalu terselip dalam berbagai upacara, baik kegiatan formal maupun non-formal. Tak terasa sebagai upacara Melayu kalau tak tak ada pantun, petatah petitih dalam ucapan-ucapan mereka.

Sebagaimana diketahui bahwa sastra Melayu itu berada dalam dua genre, yaitu lisan dan tulisan. Sebelum munculnya tradisi tulisan, orang Melayu sudah akrab dan hidup bersama sastra lisan, berupa hikayat, koba, nyanyi panjang, mantra dan lain sebagainya. Baik dalam bentuk nyanyian, foklor biasa ataupun legenda.

2. Sastra Melayu Lama.

Sastra yang berkembang di Riau juga lisan dan tulisan. Yang berperan dalam sastra lisan, terutama di Provinsi Riau itu adalah, pertama tokoh tradisi seperti tukang nyanyi, koba, kayat, dukun, bidan, bomo, pawang, kemantan, para jagan sialang, dan guru silat. Karya sastra mereka dalam bentuk mantra dan petuah.

Kedua, tokoh adat, yaitu datuk dan para ketiapan. Karya mereka dalam bentuk petatah-petitih pada upacara perkawinan dan pada tradisi penanaman nilai-nilai adat budaya kemasyarakatan bagi anak kemenakan.

Ketiga ulama. Karya mereka dalam bentuk doa-doa bernuansa sastra serta kisah-kisah para nabi dan rasul yang mengandung nilai sastra dan penuh hikmah.

Keempat pengarang anonim. Karya mereka terlihat pada berbagai cerita rakyat dan legenda termasuk asal usul suatu negeri.

Pada masa lalu, yang berperan dalam tradisi tulisan di Riau adalah para intelektual yang mulai menulis dalam bahasa Melayu beraksara Arab atau Arab Jawi/ Arab Melayu, baik dalam bentuk media kitab/buku maupun majalah dan surat kabar. Selain itu juga terdapat naskah tulisan campuran Arab dan latin. Pun terdapat juga naskah bertulisan latin.

Hari ini lebih banyak dalam bentuk tulisan latin yang dimuat di berbagai media, baik di media bersifat cetak maupun digital.

3. Periode Perkembangan Sastra Melayu

Menurut Mahmud Muhsinin (2019), ada tiga periode perkembangan sastra Melayu, yaitu periode Hindu-Budha; periode awal Islam; dan periode kalsik.

Periode Hindu-Budha merupakan periode dari abad 7 hingga abad ke-14. Pada periode ini wilayah Sumatera dan Semenanjung Malaka dalam pengaruh Hindu-Budha. Pada periode ini bangsa Melayu mulai mengenal bentuk membaca dan menulis. Karya sastra yang berkembang pada masa ini didominasi oleh hikayat-hikayat dari Hindu-Budha.

Periode awal Islam merupakan periode masuknya Islam ke nusantara. Pada masa ini sastra Melayu mulai diislamisasikan, mereka mengenal Islam dengan budayanya. Periode ini di abad ke-14 sampai abad ke-16.

Periode klasik sastra Melayu. Periode ini di abad ke 16 sampai abad ke-19. Di masa ini karya-karya sastra Melayu menunjukkan jatidirinya sebagai sastra bagian dari budaya dunia Islam. (Bersambung)

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews