Bekal Perjalanan Suci

Wahai Ananda dengarkan peri,
tunangan hidup adalah mati.
carilah bekal ketika pagi,
supaya tidak menyesal nanti.

(Tunjuk Ajar Melayu, Tenas Effendy)

MENUNAIKAN ibadah haji merupakan dambaan umat Islam di seluruh dunia. Ibadah ini menjadi rukun Islam kelima yang menyempurnakan pelaksanaan ajaran Islam dalam kehidupan kaum muslimin. Oleh sebab itu, haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju dan di Tanah Suci, melainkan juga perjalanan spiritual menuju kedekatan sejati kepada Allah Swt.

Meskipun menjadi cita-cita setiap muslim, namun tidak semua orang memperoleh kesempatan untuk menunaikannya. Ibadah haji memerlukan berbagai persiapan, dan perbekalan seperti kemampuan ekonomi, kesehatan fisik dan mental, serta pengetahuan mengenai tata cara pelaksanaannya. Namun demikian, faktor yang paling urgen dan menentukan adalah adanya panggilan dan izin dari Allah Swt. Tidak sedikit orang yang memiliki kekayaan, kesehatan, dan ilmu, tetapi belum memperoleh kesempatan berhaji hingga akhir hayatnya.

Dalam perspektif Islam, harta, kesehatan hanyalah sarana atau bekal lahiriah untuk melaksanakan ibadah haji. Adapun bekal utama adalah ketakwaan. Hal ini ditegaskan Allah Swt dalam Al-Qur’an:

“(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Siapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat (fusuq), dan berbantah-bantahan (jidal) dalam (masa) berhaji. Segala kebaikan yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Berbekallah kamu, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa ketakwaan merupakan fondasi dan bekal utama dalam pelaksanaan ibadah haji. Tanpa ketakwaan, ibadah haji hanya menjadi perjalanan ritual yang kehilangan esensi dan makna spiritualnya.

***

Ibadah haji dilaksanakan setelah umat Islam menjalani ibadah puasa Ramadhan, yang tujuan utamanya membentuk pribadi bertakwa. Dengan demikian, ketakwaan menjadi bekal spiritual (viaticum peregrinationis sacrae) yang sangat penting dalam menyempurnakan pelaksanaan rukun Islam kelima tersebut.

Secara sederhana, takwa dapat dimaknai sebagai sikap melaksanakan segala perintah Allah Swt dan menjauhi seluruh larangan-Nya dengan penuh kesadaran, cinta, harapan, dan rasa takut kepada-Nya. Dalam Al-Qur’an, kata takwa beserta berbagai derivasinya disebutkan sekitar 245 kali. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya konsep takwa dalam kehidupan seorang muslim.

Al-Qur’an menjelaskan sejumlah ciri orang bertakwa. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 2–5 disebutkan bahwa orang bertakwa adalah mereka yang beriman kepada Allah Swt; mempercayai perkara gaib; mendirikan salat; menginfakkan sebagian rezeki yang diberikan Allah; meyakini Al-Qur’an dan kitab-kitab sebelumnya; meyakini adanya kehidupan akhirat.

Sementara itu, dalam Surah Ali Imran ayat 133–134 dijelaskan bahwa orang bertakwa ialah mereka yang gemar berinfak, baik dalam keadaan lapang maupun sempit, mampu menahan amarah, memaafkan kesalahan orang lain, serta senantiasa berbuat kebajikan.

Pandangan mengenai takwa juga dijelaskan pula oleh Ali bin Abi Thalib. Menurutnya, ciri-ciri takwa meliputi: al-khaufu minal-Jalil, (takut kepada Allah Yang Maha Agung); al-‘amalu bi At-Tanzil (mengamalkan wahyu Allah Swt); ar-ridha bil-qalil (merasa cukup dan ridha atas pemberian Allah, walaupun sedikit); al-isti’dadu li yaumir-rahil (senantiasa mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian dan kembali kepada Allah Swt.)

***

Takwa memberikan manfaat besar dalam kehidupan dunia dan akhirat. Dalam kehidupan dunia, orang bertakwa akan memperoleh berbagai kemudahan dan pertolongan dari Allah Swt. Di antaranya: memperoleh jalan keluar dari berbagai persoalan hidup (QS. At-Thalaq: 2); memperoleh rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka (QS. At-Thalaq: 3); mendapatkan ketenteraman hati dan keberkahan hidup (QS. Ar-Ra’d: 28); memperoleh pertolongan dan perlindungan Allah Swt (QS. An-Nahl: 128); dimudahkan segala urusannya (QS. At-Thalaq: 4); menjadi hamba yang dicintai Allah Swt (QS. At-Taubah: 4).

Adapun manfaat takwa di akhirat antara lain: diselamatkan dari azab neraka (QS. Maryam: 72); dimasukkan ke dalam surga (QS. Ali Imran: 133); dimuliakan di sisi Allah Swt (QS. Al-Hujurat: 13); memperoleh wajah yang bercahaya pada hari kiamat (QS. Maryam: 85); mendapatkan keridaan Allah Swt (QS. Al-Bayyinah: 8).

***

Ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi juga perjalanan ruhani untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Untuk melaksanakan ibadah tersebut, seorang muslim memerlukan berbagai persiapan lahiriah, seperti harta, kesehatan, dan ilmu pengetahuan. Namun, bekal yang paling utama adalah ketakwaan.

Takwa menjadi inti dari seluruh ibadah dalam Islam, termasuk ibadah haji. Ketakwaan melahirkan keimanan, kesabaran, keikhlasan, kepedulian sosial, dan kesiapan menghadapi kehidupan akhirat. Oleh karena itu, keberhasilan ibadah haji tidak hanya diukur dari sampainya seseorang ke Tanah Suci, tetapi juga dari sejauh mana ibadah tersebut mampu ia laksanakan dan ia sempurnakan wajib dan rukunnya serta meningkatkan kualitas ketakwaannya kepada Allah Swt.

Manfaat takwa bagi jemaah haji

Pertama, membantu jemaah meluruskan niat sehingga ibadah haji dilaksanakan benar-benar karena Allah Swt semata. Kedua, mebersihkan hati dari dosa, kesombongan dan kecendrungan kepada segala keburukan. Ketiga akan berhati-hati menghindari perbuatan rafats, fusuq, dan jidal.

Keempat, menumbuhkan sikap sabar menghadapi berbagai cobaan dan ujian selama di tanah suci. Kelima, menumbuhkan sikap tawakal sehingga memunculkan ketenangan dalam menghadapi berbagai kesulitan saat melaksanakan dan menyempurnakan rukun dan wajib haji.

Keenam, takwa akan melahirkan sikap santun, saling peduli, saling menghormati sesama jemaah haji. Ketujuh, menumbuhkan persaudaraan sesama muslim tanpa membedakan suku, bangsa atau status. Kedelapan, takwa akan mendekatkan jemaah untuk memperoleh haji mabrur. Kesembilan, takwa akan memelihara jemaah untuk mengaplikasikan nilai-nilai luhur ibadah haji selama hidupnya. Wallahu a’lam. ***

Makkah Al Mukarromah, 21 Mei 2026

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews