APAKAH karya sastra Melayu lama berpengaruh pada sastra Melayu modern?
Pengaruh Karya Sastra Melayu Lama Terhadap Karya Sastra Melayu Modern.
Sejarah Melayu atau Sulalatus Salatin karya Tun Sri Lanang yang merupakan nama pena dari Tun Muhammad dipandang paling terkenal dan berpengaruh dalam keberlangsungan sastra Melayu terutama teks tertulis karya-karya pengarang berikutnya. Disebut terkenal karena sangat banyak jumlah kajian yang telah dilakukan pada naskah ini. Naskah yang ditulis Tun Sri Lanang pada 1612 M itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh John Leyden. Terjemahan ini terbit pada 1821 M setelah ia meninggal dunia. Sesudah itu banyak sekali dikaji oleh para sarjana dari berbagai belahan dunia.
Kitab Sejarah Melayu ini besar peranan dan pengaruhnya karena, pertama begitu luas geografi dan cakupan teksnya; kedua, panjang rentangan waktu di dalamnya; serta ketiga banyak sekali aspek kehidupan berbagai puak dan suku bangsa yang telah direkamnya.
Sejarah Melayu yang mengandung muatan sejarah, fiksi dan khayal ini mendedahkan tentang Alexander The Great atau Iskandar Zulkarnain, Raja Kida Hindia, Raja China, Raja Mojopahit, Raja Malaka, Raja Pasai serta sejumlah raja-raja yang ada.
Apakah karya yang lahir dari tokoh tradisi, tokoh adat, ulama dan pengarang anonim serta kitab Sejarah Melayu dan karya-karya sesudahnya mempengaruhi karya-karya anak Melayu seusudahnya, terutama pengarang Riau?
Pengaruh itu tetap ada walaupun tidak signifikan, terutama cara menggunakan dan mengungkapkan kata-kata serta cara menyajikan kisah, dan sebagian cara itu masih digunakan oleh pengarang di Riau. Namun pengaruh langsung seperti tidak terlihat. Yang paling tampak jelas adalah spirit kemelayuan. Selain itu adalah pengucapan lidah Melayu yang petah (fasih), yang masih diwarisi hingga kini. Orang-orang Melayu memiliki pola pengucapan yang khas, dan memiliki pola yang beragam dalam menyampaikan pesan.
Selain itu juga, sebagai rumah alam kata-kata, Melayu tetap menjadi rumah besar lahirnya karya-karya yang kaya dengan kata-kata, diksi dan metafor serta perisa dan pribahasa. Khusus Riau, sastrawan Melayu Riau tetap terdepan melahirkan karya-karya yang bernas serta memiliki kekayaan diksi, metafor dan lain-lain tersebut, baik yang bermastautin di Riau maupun yang berada di tempat lain. Ini menunjukkan orang Melayu cerdas. Bukankah bahasa merupakan buah kecerdasan?
Mazhab Riau.
Menurut UU Hamidy (2013: 160), ada tiga warna mazhab Riau:
Pertama, masa silam, yakni karya-karya yang terinspirasi dari peristiwa sejarah masa lalu serta gambaran kehidupan puak Melayu tardisional; kedua, warna Islam.
Meskipun tidak sekental pada gelombang pertama, tetapi tetap lestari dalam karangan pengarang Riau; ketiga warna masa kini. Warna ini bercabang dua, pertama mengenai keresahan yang ditimbulkan oleh kerusakan alam semula jadi; kedua tentang kezaliman yang mendera kehidupan Puak Melayu di Riau, baik oleh tangan kekuasaan pemerintah pusat sejak pemerintahan Soeharto maupun oleh pemerintah sekarang (pusat dan daerah). Hemat saya, warna masa kini yang disitilahkan UU Hamidy tersebut, yang dikenal dengan sastra perlawanan memang muncul pada dekade terakhir ini, setidaknya pada era 80-an, dan itu mengacu pada peristiwa politik di mana masyarakat Riau merasa dalam penindasan sehingga lahirlah karya-karya yang memberontak seperti karya Taufik Ikram Jamil, Abel Tasman, Syaukani Alkarim, Marhalim Zaini, Hang Kafrawi, Griven H Putera dan lain-lain.
Tradisi pengarang Riau dalam gelombang pertama lebih banyak mengambil bentuk puisi dengan penampilan hikayat dan syair, di samping gurindam dan pantun. Syair dan hikayat kemudian berkurang, lalu akhirnya muncul bentuk novel (roman) oleh Suman HS tahun 1930-an. Dalam gelombang kedua, novel dan puisi semakin dominan, meskipun cerpen juga mulai berkembang melalui surat kabar Haluan terbitan Padang.
Di Jakarta, puisi pola mantra dengan pelopor Sutardji Calzoum Bachri yang telah membuka wawasan estetika baru dalam perpuisian Indonesia. Sementara di Riau tampil Ibrahim Sattah dan lain-lain.
Di gelombang ketiga, menurut UU Hamidy puisi pola mantra memang tidak lagi begitu kentara, terutama sejak meninggalnya penyair Dasri Almubary. Namun begitu ragam puisi semakin banyak: ada pola puisi bebas, puisi pola surat, pola gurindam dan sebagainya. Di samping itu, jenis cerita jenaka ternyata juga terpelihara dengan baik.
Hemat saya, ciri khas mazhab Riau (kalau memang sudah ‘dita’linkan’) adalah pertama dan utama kegemulaian, kelenturan atau keelokan bahasa, serta mudah dipahami oleh siapapun dari latar kebudayaan apa dan di manapun. Inilah yang menjadi akar tunggang penyebab bahasa Melayu disebut sebagai lingua franca. Sehingga bahasa Melayu menjadi bahasa ibu dari berbagai negara, terutama di kawasan Asia Tenggara hari ini.
Peta Sastra Riau Terkini.
Matinya beberapa surat kabar cetak membuat sulit mendeteksi karya mana yang bernas. Menjamurnya media online dan media sosial membuat orang bebas berkarya dengan selera masing-masing. Orang sudah agak mulai melupakan sastra serius. Ini amat memprihatinkan. Karya sastra hanya menjadi mainan dan timang-timangan para sastrawan semata. Ia tak dapat lagi berfungsi pokok, yaitu sebagai dulce dan utile, yaitu yang menghibur dan memberi manfaat bagi orang lain. Masyarakat tak begitu peduli. Apalagi ekonomi masyarakat awam kian merosot. Karya yang muncul berupa digital barangkali hanya dinikmati anak-anak generasi milenial semata yang melek teknologi.
Akan tetapi beberapa hari lalu, publik sastra Riau digembirakan dengan munculnya dua nama sasatrawan muda Riau yang masuk 10 besar dalam lomba penulisan cerita pendek dan finalis baca puisi piala HB Jassin. Nita Lestari di bidang penulisan cerpen dan Calya Syakirah dalam bidang baca puisi..
Apa yang Harus Dilakukan ke Depan?
Pertama, melakukan penerbitan, seperti koran, majalah maupun buku dalam bentuk tunggal maupun antologi bersama yang menjadi barometer atau ruang untuk menakar dan mengukur kebernasan suatu karya. Buku, majalah, surat kabar ataupun media online ini mesti dilakukan kurasi yang ketat seperti pernah dilakukan media cetak di masa lalu bagi karya-karya sastra. Bentuk media boleh digital maupun cetak.
Kedua, menaja berbagai lomba karya sastra dan kritiknya, baik lomba penulisan maupun pembacaan. Ini dilakukan baik oleh lembaga pemerintahan maupun lembaga swsata lainnya.
Ketiga, pemerintah dan pihak swasta memberikan suntikan dana, dan penghargaan dalam bentuk award atau bantuan operasional untuk berkarya bagi penggerak dan pegiat sastra dan budaya, terutama Melayu di Riau.
Keempat, pemberdayaan kelompok-kelompok diskusi kebudayaan. Dari segi kuantitas dan kualitas, grup-grup diskusi seni sastra budaya amat diperlukan untuk membangkitkan kembali semangat berkarya dengan perisa Melayu. Toh, bukankah tidak ada ruginya berkarya dengan style Melayu? Justru Melayu telah memperlihatkan dan membuktikan sumbangannya bagi dunia dalam mengisi dan memaknai kehidupan, terutama spiritnya dan kemolekan bahasanya.
Akibat berseraknya media online dan media sosial, dan siapa saja boleh serta dapat menerbitkan karyanya maka menjadi penulis tidak lagi menjadi suatu kebanggaan, prestise bagi orang-orang tertentu, termasuk sastrawan Melayu Riau. Di antaranya Abel Tasman. Ia memilih pensiun jadi sastrawan, ujarnya suatu kali ketika melihat semua orang dapat menerbitkan karya mereka, baik dalam bentuk novel, kumpulan cerpen, antologi puisi maupun karya-karya lainnya. Sebab di zamannya Abel berkarya, bukunya baru terbit setelah karya tersebut memenangkan lomba. Penghargaan diperoleh melalui hadiah lomba dan royalty penerbit. Hari ini justru terbalik, penerbit dibayar penulis untuk menerbitkan dan mencetak karyanya. ***

