Pekanbaru Lancar: Mengatasi Kemacetan dan Jalan Rusak

JALAN adalah urat nadi perekonomian. Jalan perkotaan yang lancar akan meningkatkan kinerja perekonomian, dan tentu saja kenyamanan transportasi. Penanganan jalan perkotaan meliputi penataan jaringan jalan, pelebaran, peningkatan kualitas jalan (tidak berlobang), dan merapikan hambatan-hambatan samping yang mengganggu lalu lintas jalan.

Hirarki jalan arteri, kolektor, dan lokal diatur sehingga lalu lintas terdistribusi dan tidak menumpuk pada beberapa ruas jalan saja, sementara jalan lainnya sepi. Jalan-jalan paralel dan alternatif yang menghubungkan jalan-jalan utama perlu diperlebar dan diperbaiki untuk mencegah kemacetan dan penumpukan lalu lintas di jalan utama. Jalan alternatif yang harus diperlebar dan diperbaiki ini antara lain adalah Jl. Paus, Cempedak, Duyung, Rambutan, Inpres, Jl. Bhakti, Jl Duyung-Subayang, Pahlawan Kerja, Durian-Dharma Bakti, Rajawali-Melur, Ahmad Dahlan, Jl.Teropong-Cipta Karya, Suka Karya, Bangau Sakti, Rawa Mangun-Kelapa Sawit, Parit Indah, Bukit Barisan, Singgalang-Sepakat, Sekuntum, Patin-Kartikasari, dan jalan-jalan sejenisnya. Transportasi massal pun harus diatur sehingga bisa melewati jalan-jalan ini.

Selain itu, perlu membangun jalan poros baru atau memperlancar jalan yang ada untuk mengurangi kemacetan dan padatnya ruas jalan utama. Jalan-jalan yang perlu diteruskan ini antara lain adalah:

  • Jalan Teropong-Spg Cipta Karya-Jl.Bersama-Jl.Karya Masa- Spg. Jl.Kubang (Batas Pekanbaru – Kampar)
  • Jl. Karyawan-putus-Jl. Cendrawasih-Jl. Puja Kusuma-gg.Bersama-Jl. Cipta Karya-Jl. Saiyo-Jl. Swakarya-Jl. Muslimin-Jl.Taman Karya-Jl. Lumba2-Jl. Kubang
  • Pelebaran jalan menuju standar dilakukan dengan pelebaran jalan dan tembusan jalan kolektor dalam kota.

Perlu juga digesa untuk memperlebar ruas jalan nasional Pasir Putih, Jl. Kubang, dan Jl. Garuda Sakti. Ruas jalan ini sungguh sangat padat karena disamping melayani angkutan luar kota, jalan ini juga dipakai sebagai jalur transportasi masyarakat karena padatnya pemukiman di kiri kanan ruas jalan ini. Meskipun ini merupakan jalan nasional, Pemko bisa membantu untuk proses pembebasan lahannya dan mempersiapkan dokumen perencanaannya.

Jalan-jalan utama (arteri) juga perlu diperlebar pada beberapa tempat, khususnya di sekitar U-turn (putaran), seperti di putaran Awal Cross Sudirman, putaran Samsat Sudirman, simpang Tobek Godang, simpang SKA, simpang Arifin Ahmad/Sukarno-Hatta, dan lainnya.

Pemeliharaan rutin jalan dilakukan dengan merapikan bahu jalan dari semak, sampah, gundukan tanah, lobang, dan melancarkan aliran air ke jalan. Hal ini dilakukan supaya tidak ada genangan air di jalan yang mempercepat kerusakan jalan. Selain itu, pemeliharaan jalan dengan patching (tambal) aspal harus terus beredar setiap hari sepanjang tahun keliling kota dengan konsep “kerja 1 hari langsung kelar”, padatkan base, permukaan aspal patching harus dipadatkan dan rata dengan jalan yg ada. Tidak boleh ada penambalan yang berlangsung berhari-hari dan membahayakan pengendara. Penanganan genangan air di jalan harus dilakukan terlebih dulu sebelum perbaikan jalan dilakukan supaya hasil perbaikan jalannya bertahan lama.

Saat ini banyak jalan yang mengalami hambatan samping yang cukup besar karena aktifitas perdagangan, lapak, PKL, dan parkir kendaraan yang semakin maju ke arah jalan sehingga mengganggu arus lalu lintas. Hal ini harus ditertibkan, sebelum keadaannya semakin buruk dan lebih sulit untuk ditertibkan.

Jalan di sekitar persimpangan harus dilebarkan untuk memperlancar arus lalu lintas. Beberapa tempat yang pulau jalannya masih lebar di sekitar persimpangan, perlu “dipangkas” seperti di simpang Jl.Soekarno Hatta – Jl.Arifin Ahmad, simpang SKA, simpang Jl. SM Amin – Jl. T.Tambusai, simpang Pasar Pagi Arengka, dan beberapa tempat lainnya.

Jalur pedestrian (trotoar pejalan kaki) yang telah ada sepanjang Jl. Sudirman, Diponegoro, Pattimura, Arifin Ahmad, Gajah Mada, dan seputar Kantor Gubernur harus dirawat dengan konsisten, lubangnya ditutup, dibebaskan dari pedagang, dibebaskan dari pot bunga besar penghalang pejalan kaki, dan dibebaskan dari parkir di atas trotoar. Areal parkir dan gedung parkir di pusat kota harus disediakan. Dengan demikian kawasan pusat kota ini menjadi lokasi pejalan kaki yang nyaman dan pergerakan kendaraan bermotor menjadi minim. Pohon-pohon peneduh ditanam dan canopy dibangun di sepanjang trotoar sehingga memanjakan pejalan kaki. Pada jalan Tuanku Tambusai, Subrantas, Riau, Soekarno Hatta, dan SM Amin, areal antara tepi jalan (drainase) dan ruko selama ini menimbulkan kesan semrawut kota karena becek, semak, sampah, lobang, tiang reklame, dan warung-warung tak beraturan berdiri di atasnya. Areal ini akan diratakan, dipaving, paritnya dicover beton, ditanami pohon, dan ditata untuk areal parkir, pejalan kaki, dan sebagian untuk PKL sehingga kota akan rapi dan aktifitas perdagangan serta PKL akan hidup.

Pengembangan jalur sepeda juga perlu dilakukan sebagai alternatif transportasi yang ramah lingkungan, menyehatkan, dan mengurangi beban kepadatan lalu lintas yang ada.

Pelayanan Sistem Transportasi massal yang terpadu

Transportasi massal adalah salah satu persyaratan bagusnya transportasi pada sebuah kota. Beberapa manfaat transportasi massal adalah:

  • Mengurangi polusi udara
  • Mengurangi kemacetan lalu lintas, karena mengangkut penumpang dalam jumlah banyak
  • Mengurangi lahan parkir
  • Lebih hemat, cepat, aman, nyaman, dan efisien

Tetapi tentu saja, konektivitas (ketersambungan) transportasi massal ini sangat penting, mulai dari rumah, halte, pergantian kendaraan transportasi massal, sampai ke pedestrian yang nyaman. Karena itu, penyelenggaraan transportasi massal ini harus dilaksanakan secara komprehensif.

Transportasi massal diatur menurut hirarki (jenjang pelayanannya). Bus Trans Metro Pekanbaru melayani jalur jarak jauh arteri utara-selatan dan barat timur (20-30 km) saja. Bus kota yang lebih kecil (seukuran metromini) melayani jalur kolektor (10-20 km) yang memotong melingkar jalur arteri saja. Sedangkan untuk melayani jalan lokal dalam radius 10 km bisa menggunakan bus kecil atau oplet (angkot). Dengan demikian tidak akan ada rebutan penumpang antar moda angkutan umum ini.

Jika sistem angkutan massalnya sudah nyambung, maka bisa digunakan satu tiket untuk semua angkutan dalam rentang waktu tertentu, misalnya setiap 3 jam, sehingga akan lebih hemat.

Selain itu, perlu juga dirintis untuk persiapan jalur monorail Minas-Pandau (utara-selatan) dan Sikijangmati-Sungai Pinang (timur-barat). Jika tidak dirintis dari sekarang, maka Pekanbaru akan macet pada 2030 karena ketiadaan transportasi massal yang memadai seperti yang sudah dialami Jakarta dan Bandung. ***

Baca : Infrastruktur Terpadu: Perencanaan dan Konsistensi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.