Ihwal Nyanyi Panjang

Renungan Milad

“ORANG yang tidak mengetahui sejarah, asal usul, dan budaya masa lalunya seperti pohon tanpa akar.” Marcus Garvey

Riau merupakan salah satu mata air peradaban Melayu. Dari rahim negeri ini tumbuh aneka tradisi seni budaya yang tinggi nilainya. Di antara sumbangan terbesar bidang kesenian dan kebudayaan bagi bangsa ini adalah bahasa Indonesia yang cikal bakalnya berasal dari bahasa Melayu Riau (Riau-Kepri).

Kejelitaan bahasa Melayu Riau itu datang dari berbagai dialek daerah. Hal itu dapat dirasakan melalui bahasa tutur, bahasa lisan atau pun bahasa tulisan yang berkembang dalam masyarakat Riau.

Dalam bahasa lisan, sejumlah kisah indah penuh makna dapat dinikmati dari berbagai bentuk karya seni sastra, seperti dalam nyanyi panjang, kayat (hikayat) dan koba yang memuat nilai-nilai luhur, dan merupakan bagian dari local wisdom.

Tradisi sastra lisan yang berkembang di daerah pedalaman dan sebagian diwarisi secara turun temurun dalam masyarakat Kabupaten Pelalawan yang dikenal dengan nyanyi panjang, memiliki kemiripan dengan istilah koba di Rokan. Di Siak dan Kuantan dikenal dengan kayat. Para ‘tukang’ atau ‘pebilang’ nyanyi panjang, tukang koba, dan kayat ini di antaranya adalah Ganti, Taslim (Rokan), Kundang (Siak), Jumat (Kuantan), Mak Pilih, Nurdin, Mak Itam (Pelalawan), dan beberapa lagi.

Nyanyi panjang, koba, dan kayat berisi cerita atau kisah yang menghibur, berguna dalam kehidupan, dan pengisi kekosongan rohani masyarakat. Ia merupakan cerita atau kisah yang dinyanyikan oleh si pencerita. Tema cerita bermacam-macam, di antaranya tentang nilai-nilai kepahlawanan tokoh, mitos, legenda, tata hukum adat, petatah-petitih, tunjuk ajar atau nasehat Melayu, ilmu dan petuah serta lain sebagainya. Salah satu contoh nyanyi panjang adalah Bujang Tan Domang: Sastra Lisan Orang Petalangan yang dibukukan H Tenas Effendy, Balam Ponganjuw yang dibukukan Herman Maskar, dan sejumlah judul lain yang dibukukan oleh sastrawan-budayawan Riau lainnya.

Kenapa disebut Nyanyi Panjang? Pertama disebut nyanyi karena kisah itu dinyanyikan atau berirama saat ditampilkan si pencerita di depan audiensnya. Kedua, disebut panjang karena kisah itu berdurasi lama atau panjang waktunya, disampaikan mulai dari satu malam sampai bermalam-malam baru tuntas isi keseluruhannya.

Dalam nyanyi panjang terdapat istilah bebalam. Apa itu bebalam atau babalam? Berasal dari kata balam. Yaitu sejenis fauna yang hidup dalam hutan masyarakat adat Melayu Riau dan lainnya. Fauna jenis burung ini banyak sekali terdapat dalam kisah-kisah atau cerita rakyat Melayu, baik yang dinyanyikan maupun diceritakan secara penuturan biasa. Burung ini selalu bersenandung atau bernyanyi, dan sangat akrab dengan kehidupan masyarakat Melayu, utamanya kaum Peralangan. Oleh karena kehidupan orang Melayu amat dekat dengan lingkungan hutan dan segala flora-faunanya maka diambillah prilaku fauna ini untuk istilah dalam kegiatan berpantun sebelum mengisahkan cerita dengan cara dinandungkan atau dinyanyikan tersebut.

Selain itu, banyak pula pantun-pantun pengantar atau pembuka dalam nyanyi panjang itu menggunakan kata balam atau burung balam.

Bebalam atau babalam itu sendiri adalah ungkapan pantun yang disampaikan si pencerita sebelum menyampaikan isi cerita secara lengkap-pepat kepada penikmatnya. Bebalam atau babalam dalam buku Bujang Tan Domang di antaranya dapat dilihat sebagai berikut: Indang donai…// Ai…..// Buah lakom di dalam somak/ padi seumpun ditimpo bonto/ salamualaikum kepado sanak/ kami bepantun membuka ceito// Indang donai…// Anaklah balam mati belago/ talinyo togang bepasak batu/ jawatlah salam nan dai ambo/ jadi pengonang ko anak cucu/. Indang donai…// Aaaai…// Cailah pancang untuk alamat/ ambou-an balam muko tingkap/ ondak menguku balam di utan/ balam di sangke dilambungkan/ poganglah janji dengan amanat/ ati nan mabuk bawak meucap/ konanglah ai nan kemudian/ isuk badan kan betanggungan// Indang donai…// Aaii….//

Indang donai…// Ai…..// Buah lakom di dalam semak/ padi serumpun ditimpa bento/ Assalamualaikum kepada sanak/ kami berpantun membuka cerita// Indang donai…// Anaklah balam mati berlaga/ talinya tegang berpasak batu/ jawatlah salam dari hamba/ jadi pengenang ke anak cucu/. Indang donai…// Aaaai…// Carilah pancang untuk alamat/ hamburkan balam muka tingkap/ hendak mengukur balam di hutan/ balam di sangkar dilambungkan/ peganglah janji dengan amanat/ hati nan mabuk bawa mengucap/ kenanglah hari yang kemudian/ besok badan kan bertanggungan// Indang donai…// Aaii….//

Pada Ahad (9/10/2022), Dewan Kesenian Pelalawan (DKP) Taja Festival Bebalam Tingkat SD dan SMP Sempena hari jadi Kabupaten Pelalawan ke-23 Tahun 2022 di panggung utama lapangan IPAL PDAM depan gerbang Tanjung Putus Pangkalan Kerinci. Menurut Ketua Dewan Kesenian Pelalawan, H Herman Maskar, SPd, MSi, kegiatan ini diikuti sejumlah pelajar SD dan SMP se-Kabupaten Pelalawan dalam rangka memotivasi pelajar untuk mencintai khazanah seni budaya yang lahir, tumbuh dan berkembang di Kabupaten Pelalawan. Selain itu, katanya, festival bebalam nyanyi panjang ini dilakukan sesuai dengan pembinaan yang diminta oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan setelah mendapatkan sertifikat warisan budaya tak benda (WBTB) yang telah diakui keberadaannya di Pelalawan.

Hemat saya, apa yang dilaksanakan Dewan Kesenian Pelalawan ini sejatinya menginspirasi dinas kebudayaan, dinas pendidikan dan dewan-dewan kesenian di Provinsi Riau untuk melakukan hal serupa, seperti Dinas Pendidikan dan Dewan Kesenian Siak, Rokan Hulu, Rokan Hilir, Kuantan Singingi, serta lainnya, karena tradisi ini pernah ada dan berkembang dalam masyarakat di wilayah tersebut. Hal ini dilaksanakan dalam rangka melestarikan budaya bangsa serta memotivasi dan menanamkan nilai-nilai adat budaya Melayu kepada peserta didik yang merupakan generasi penerus bangsa, sekaligus menjadi identitas kolektif masyarakat atau jatidiri bangsa sebagai sebuah negara bangsa (nation state).

Meminjam ungkapan UU Hamidy dalam buku Teks dan Pengarang di Riau (1998: 153) bahwa suatu seni budaya akan dapat bertahan dan berkembang jika seni budaya itu dapat dipelihara dan dihayati dari generasi ke generasi berikutnya. Jika seni budaya seperti sastra lisan Melayu tidak lagi dikenal dan terlepas dari medan budaya generasi muda, maka besar kemungkinan seni budaya itu akan terputus dari sejarahnya lalu tenggelam dalam perjalanan puak atau suku bangsa tersebut.

Selain itu, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota melalui dewan-dewan kesenian dan dinas pendidikan serta dinas kebudayaan kabupaten/kota sejatinya memberikan perhatian khusus kepada tukang nyanyi panjang, koba dan kayat, hal ini dapat dimplementasikan dalam bentuk anugerah atau santunan setiap bulan agar mereka dan keluarga merasa terhormat dan dapat hidup layak. Hemat saya, negeri ini salah satunya berhutang budi kepada para penyimpan, penghapal dan tukang nyanyi panjang tersebut karena mereka masih menyimpan mutiara kebudayaan yang sangat berharga. Dan, jumlah mereka pun kini semakin berkurang, dan barangkali dapat dihitung dengan jemari.

Agaknya begitulah… ***

Baca : Sang Panutan