Tanah

Guru

Bismillah,
Senja di kebun. Kicau burung dan pekik kera bagai puisi memecah sepi. Dua hari menjelang kenangan Hari Sumpah Pemuda.
”Ini tanah kita. Warisan zaman berzaman. Juga tanah air kita. Di Kote ini, warga bersembunyi dari serangan Jepang,” kenang Emak ketika kami duduk santai di pondok kebun di Kote itu. ”Jangan sejengkal pun tanah ini tergadai sebab tanah adalah marwah kita bangsa Melayu,” pesan Emak.

Kata bangsa Yunani, tanah itu pedon. Bangsa Latin menyebutnya solum. Pesan Emak itu mengisyaratkan bahwa tanah merupakan warisan penting. Bahkan, manusia pertama diciptakan dari tanah. Dahsyatnya, semua akan kembali ke tanah. Tanah menjadi penting karena fungsinya sebagai sagang bagi kehidupan di bumi. Tanah bagai Emak dan Abah bagi kehidupan kita.

Tanah menyimpan kesejahteraan. Tanah menjadi kebun dan sawah. Bahan mentah industri juga ada yang menggunakan tanah. Bahkan, tanah pun bisa menjadi sumber energi bagi kehidupan. Karena itu, kata Emak, jagalah tanah ini dengan sekuat tenaga. Pelihara tanah dari ketercemaran benda asing dan orang asing. Jangan sampai tanah kita ini dirampok oleh orang asing.
”Jangan sampai tanah kita mengalirkan air mata,” Emak menegaskan.

Semua orang ingin menjadi zamindar. Hanya segelintir orang bisa meraihnya dengan mudah. Sebagian lagi, jangankan nak jadi tuan tanah, nak menegakkan rumah pun tak bisa karena tak punya tanah. Kata Emak, bersyukurlah kita masih punya tanah. Tak merempat sana-sini. Di tanah ini, kita masih bisa bernaung dan mencari nafkah. Tidak sedikit orang memperoleh hak tanah dengan merampas atau merampok. Berapa banyak tanah orang kita dirampok oleh perusahaan zamindar itu.

Tanah beragam rupa. Sumber dari Republika.id. menjelaskan, shalshaalin, yaitu tanah liat kering berkaitan dengan penciptaan manusia. Sha’idan juruza, yakni tanah tandus sebagai ujian terhadap manusia. Sha’idan zalaqaa, yakni tanah yang licin karena basah disirami hujan. Sha’idan thayyiba, yakni tanah yang suci untuk bertayamum. Ada pula tanah suci yang dihormati di muka bumi yang disebut haraman aaminan, termasuk kesucian Palestina yang disebut al-ardhal muqaddasah.

Selain mengingatkan kehidupan, tanah pun mengingatkan kita akan kematian. Hidup di dunia, di atas tanah, beragam perangai kita lakonkan. Kita nak nama baik menjadi kenangan. Hancur badan di kandung tanah, budi baik dikenang juga. Kita tak mau hidup menanggung malu. Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup bercermin bangkai.

Tanah air menjadi suatu kekuatan lain. Makna frasa ini melahirkan jati diri suatu bangsa. Nasionalis dan pengkhianat bisa lahir dari tanah air. Jika nasionalis lahir dari tanah air, maka ia rela bertumpah darah satu, tanah air Indonesia seperti dalam Sumpah Pemuda. Jika pengkhianat lahir dari tanah air, maka akan melahirkan tanah air mata seperti makna terkandung dalam puisi Tanah Air Mata karya Sutardji Calzoum Bachri: Tanah airmata tanah tumpah darahku/ Mata air air mata kami/ Air mata tanah air kami….Di balik gembur subur tanahmu/ Kami simpan perih kami/ Di balik etalase gedung-gedungmu/ Kami coba sembunyikan derita kami/ Kami coba simpan nestapa kami/ Kami coba kuburkan dukalara/ Tapi perih tak dapat sembunyi/ Ia merebak ke mana-mana. Puisi ini melukiskan betapa dahsyatnya penderitaan rakyat karena tanah airnya telah berubah menjadi tanah air mata. Kesuburan dan etalase gedung mewah tak sanggup menahan air mata, perih, derita, nestapa, atau dukalara. Namun, air mata bisa membangkitkan kekuatan. Derita dan dukalara itulah akan menjadi kekuatan sesungguhnya untuk meruntuhkan keangkuhan dan keserakahan: Kalian sudah terkepung/ Tak ’kan dapat mengelak/ Tak ’kan dapat ke mana pergi/ Menyerahlah pada kedalaman air mata kami.

Sama halnya dengan Wiji Tukul. Puisinya berjudul Tanah (1989) menggugat keadilan tentang tanah. Puisi ini menggambarkan bahwa tanah telah ditanami oleh cerobong asap besi. Rakyat seperti para petani tak lagi punya tanah yang layak untuk ditanami: tanah mestinya dibagi-bagi/ jika cuma segelintir orang yang menguasai/ bagaimana hari esok kaum tani// tanah mesti ditanami/ sebab hidup tidak hanya hari ini/ jika sawah diratakan/ rimbun semak pohon dirubuhkan/ apa yang kita harap/ dari cerobong asap besi. Puisi protes ini menjelaskan derita rakyat yang tak bertanah di negeri sendiri. Tanah hanya dikuasai para zamindar. Tanah sebagai masa depan dan kehidupan rakyat. Industri tak bisa menjamin kesejahteraan rakyat. Namun, kata Emak, tanah mesti kita jaga apalagi tanah air. Sejauh mana pun kita merantau, tambah Emak, jangan lupa kembali ke kampung halaman. Fakhrunnas MA Jabbar dalam puisinya bertajuk Tanah Airku Melayu (2008): di sini / kuberdiri/ di tanah airku/ di ranah melayuku/ …. sejauh-jauh mata memandang/ di ranah melayu ditukikkan/ sejauh-jauh kaki melangkah/ di ranah riau dihentakkan/ sejauh-jauh hati ’kan terbang/ di ranah melayu dihinggapkan.

Di mana pun, tanah menjadi tumpuan. Tanah adalah tapak untuk tegak. Tak heran jika tanah jadi sumber sengketa, baik dalam keluarga, masyarakat, maupun negara. Demi tanah (air), kita rela bertumpah darah. Kita mati-matian melawan perampasan tanah, termasuk tanah ulayat. Cerpen Bukan Kabut karya M. Badri dan cerpen Sengketa Tanah Ulayat karya Sy Bahri Judin dalam jurnal penelitian sastra Metasastra (Juli 2018) yang ditulis oleh Marlina menyimpulkan bahwa kedua cerpen tersebut menggambarkan secara nyata kondisi hutan dan kondisi masyarakat di Riau. Masyarakat harus kehilangan hutan dan tanah ulayat. Cerpen tersebut mengkritik pemerintah dan perusahaan perkebunan yang seharusnya bertanggung jawab terhadap kebakaran hutan dan perampasan tanah ulayat dari masyarakat Riau.

Budayawan Tenas Effendi dalam Tunjuk Ajar Melayu menulis: Adat hidup memegang adat, tahu menjaga tanah ulayat. Berumah tidak merusak tanah. Adat hidup memegang amanah, tahu menjaga hutan dan tanah. Berladang tidak merusak tanah. Apa tanda hidup beriman, tahu menjaga kampung halaman. Siapa merusak hutan dan tanah, akalnya bengkok hati serakah. Tanah orang tidak berakal, hutan dirambah tanah dijual (1994:603-604).

Zamindar berebut tanah. Negara-negara ingin merampas tanah. Sesungguhnya kita memperebutkan kampung halaman. Bukankah semua akan kembali ke tanah. Sudah beribu abad kita berlagak dalam kaca hampa/ Tertimbun tanah juga kita akhirnya (Puisi bertajuk Kita dalam Tak Malu Kita Jadi Melayu, 2019:84). Mari kita timbus api dalam diri/ dengan tanah-tanah, diri kita sendiri (Puisi bertajuk Kita 2 dalam Tak Malu Kita Jadi Melayu, 2019:114).

”Ingat sumpah kalian! Jangan makan sumpah. Bertumpah darah satu, tanah air Indonesia!” pesan Emak sebelum kami pulang dari kebun.***
Alhamdulillah.
Bengkalis, Selasa, 29 Rabiul Awal 1444 / 25 Oktober 2022

Baca: Kepala