Air

Guru

Bismillah,
Jika nak menjadi obat bagi kehidupan, maka kita sebaiknya menjadi air. Bening. Raga tahan dari kegersangan dek air yang mengalir. Jiwa menjadi tenang sebab kebeningan Ilahi terus bercahaya. Kebeningan air merupakan molekul-molekul yang lahir dari setiap ucap yang kita semburkan. Raga dan jiwa yang kita sentuh dengan lisan akan membangunkan molekul-molekul air sesuai ucapan.

Kalau nak menjadi penyakit bagi kehidupan, kita juga bisa menjadi air. Bumi akan hampa tanpa air. Jiwa dan raga akan kering dan pecah tanpa air. Pepohonan meranggas terkulai. Air tercemar limbah, kehidupan punah. Air melimpah ruah, kehidupan ranah. Jadilah manusia bermarwah walaupun kita datang dengan air hina.

Tak perlu kita menyalahkan hujan ketika air bah menerjang. Tak perlu juga kita menyalahkan kemarau di saat kekeringan memanjang. Jadilah air hujan kalau nak membahagiakan kehidupan. Air dari langit itu membangkitkan imajinasi eksotis tatkala bersentuhan dengan tanah dan rerumputan. Kucuran air itu ibarat misteri yang mengilhami. Ada rasa lega, tenang, dan penuh sensasi ketika menyaksikan air yang mengalir dari pegunungan dan terjun ke lembah.

”Kita adalah air. Teruslah mengalir bersama tanah. Sebab, kita pun tanah. Kita mesti menyusuri lembah-lembah, menerobosi celah-celah, dan memberikan kebahagiaan kepada alam,” kata Emak sambil menciduk air dari perigi di perkarangan rumah.

Hamba masih ingat sifat air. Air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Sifat ini mengingatkan kita untuk selalu rendah hati, bukan rendah diri. Sifat ini bisa saja kita kiaskan kepada pemimpin. Sebagai pucuk negeri, pemimpin selayaknya tidak melupakan akar, batang, dahan, ranting, dan dedaunan. Pandangan tetap ke bawah bagai sifat air yang senantiasa meresap dan mengalir ke tempat rendah. Namun, air tetap memiliki jangkauan luas dan dalam. Pemimpin pun hendaknya seperti itu.

”Jika suatu saat diberikan amanah sebagai pemimpin, kalian ingatlah sifat air itu. Kalau air di hulunya jernih, air di muaranya ikut jernih. Kalau air di hulunya keruh, air di muaranya ikut keruh,” Abah berperibahasa berpesan kepada Hamba ketika duduk santai di bangku depan rumah.

Seandainya kita hendak menjadi pemenang, air bukanlah pecundang. Kelembutan dan kejernihannya menjadi ibrah bagi kehidupan. Air punya tujuan akhir. Muara merupakan tujuan utama. Di mana pun berada, air tetap fokus untuk mencapai muara. Sekalipun dari puncak gunung, air akan terjun untuk melewati berbagai halangan. Air akan bertembung dengan bebatuan. Selama perjalanannya, air akan berhadapan dengan berbagai suasana yang mengerikan. Sampah, longkang, kekayuan, dan beragam rintangan akan dihadapi air dengan penuh kelembutan.

Kalau nak belajar menyesuaikan diri, cuma air yang patut menjadi guru. Cara air beradaptasi sungguh luar biasa. Kata Emak, lain padang lain ilalang. Tempat dan suasana di mana kita berada akan berbeda-beda. Karena perbedaan itulah, kita perlu cara untuk menyesuaikan diri agar tetap bisa masuk sesuai dengan tempat dan suasana itu. Dengan sifat kelembutan, air bisa menyesuaikan diri dalam tempat apa pun. Air akan meresap dan mencari celah agar dirinya bisa diterima pada suasana dan wadah apa pun bentuknya. Tentu saja air akan mengikuti bentuk wadah yang ditempatinya. Memang sifat kelembutan air merupakan kekuatan luar biasa.

Air mengalah, tetapi tak pernah kalah. Air mampu menyapu api dengan kedinginannya. Air sangguh membersihkan kotoran dengan kejernihannya. Makhluk Allah yang lembut itu mampu meloloskan dirinya dari semua pasung kehidupan. Bahkan dengan kelembutannya, air mampu memorakmorandakan kehidupan makhluk lain. Air bisa mereputkan besi atau pun batu. Air akan terus mencari jalan keluar ketika berhadapan dengan beragam halangan. Semakin lama mendiamkan diri, air akan semakin jernih bercahaya dan semakin bersih suci. Perjalanan air merupakan perjalanan yang menaklukkan semua hambatan dengan kelembutan. Air selalu sampai pada tujuan.

Air memiliki kekuatan luar biasa. Dalam lembutnya, air mampu menaklukkan benda-benda keras. Hamba jadi ingat dengan kisah ibnu Hajar si anak batu. Nama aslinya Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Kinani Al-Asqalani yang lahir pada 773 H dan wafat pada 852 H. Di kalangan pelajar (santri), dia dikenal sebagai pelajar yang bodoh. Padahal, kita tidak ada yang bodoh. Semuanya punya kelebihan dan kekurangan memasing. Suatu saat ketika ia minta pulang ketika sedang belajar, Ahmad terpaksa berhenti di goa karena hujan. Karena lama belum reda, dia masuk ke goa semakin dalam. Telinganya menangkap gemericik air. Ahmad bergegas melihatnya. Matanya melotot menyaksikan tetesan air di atas bongkahan batu. Batu itu berlubang sebab tetesan air dalam waktu lama. Dari peristiwa alamiah inilah, Ahmad memperoleh pelajaran bahwa otaknya akan bisa membekas jika terus belajar dalam waktu lama. Dari peristiwa batu berlubang inilah, dia digelar dengan Ibnu Hajar.
Jadilah air sebab air tak ’kan pernah menyerah! ***

Alhamdulillah.
Bengkalis, Selasa, 13 Rabiul Akhir 1444 / 08 November 2022

Baca: Batu