Risalah Jebat

Banteng Bersayap Kupu-kupu

Bismillah,
Risalah Jebat merupakan kitab puisi yang ditulis oleh Sulong A’dzam Shuhuf (nama lain dari Gde Agung Lontar). Kitab puisi ini diterbitkan oleh Komunitas Karang bekerjasama dengan ANAGRAM pada 2016. Ada delapan bagian yang disajikan: buai buaian, tiga bujang tanggung, berburu guru, mendam berahi, wangi teja, memburai badai, tarung dalam talam, dan dodoi si dodoi, selain prolog dan epilog. Inilah bentuk alih wahana atau transformasi teks yang dikerjakan Sulong dengan apik. Dalam penyusunan kitab ini, Sulong berpijak pada beberapa rujukan. Rujukannya antara lain Hikayat Hang Tuah (Departemen P & K, Jakarta, 1978; Hikayat Hang Tuah (Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 1965); Hikayat Hang Tuah: Analisa Struktur dan Fungsi (Sulastin Sutrisno, Yogyakarta, Gajah Mada University Press, 1982); Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu, A. Samad Said, Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pelajar Malaysia, 1986); Hikayat Hang Jebat (Cerpen karya Gde Agung Lontar, Logung Pustaka dan Akar Indonesia, 2004). Karena kitab ini berkaitan dengan kisah besar bangsa Melayu, tampak sekali Sulong berhati-hati mentransfernya menjadi kitab puisi. Tentu saja rujukan tersebut menjadi sandaran utama dalam penulisan kitab ini.

Jika membincangkan Hang Tuah, Hang Jebat sudah pasti terbabit dalam perbincangan. Begitu juga sebaliknya. Kedua pendekar Melayu ini ibarat dua sisi uang logam. Mana sisi yang lebih berharga? Tentu keduanya sama berharga. Sebagian beranggapan, Hang Tuah merupakan simbol kesetiaan. Kesetiaannya pada Sultan tiada taranya. Hang Jebat pula simbol kebenaran dan kesetiaan. Pembelaannya terhadap Hang Tuah demi kebenaran dan keadilan pun tiada taranya. Selain tertulis dalam sastra klasik Hikayat Hang Tuah dan Sejarah Melayu, nama kedua tokoh Melayu ini pun terus hidup dalam karya sastra modern. Sajak bertajuk Jebat karya Rida K. Liamsi, misalnya, merupakan bentuk lain dari hasil perenungan dan penafsiran yang dilakukan Rida K. Liamsi terhadap peristiwa amuk Hang Jebat. Kebenaran dan ketidakbenaran berkecamuk dalam diri Hang Jebat: telah kau hunus keris/ telah kau tusuk dendam/ telah kau bunuh dengki. Selanjutnya dalam bentuk prosa, ada cerpen bertajuk Sandiwara Hang Tuah karya Taufik Ikram Jamil (TIJ). Tentu saja ini penafsiran berbeda pula tentang kepahlawanan Melayu tersebut. Dalam cerpen Hikayat Kampung Asap karya Musa Ismail pun, tokoh Jebat dan Tuah dihidupkan kembali. Lalu, ada cerpen Amuk Tun Teja karya Marhalim Zaini dengan penafsiran berbeda juga. Dengan Risalah Jebat ini, Sulong menghidupkan kembali tokoh besar Melayu ini dalam bentuk puisi sebagai transformasi teks dari Hikayat Hang Tuah dan Sejarah Melayu.
Kitab puisi ini disajikan penulisnya dalam bentuk angka pada setiap tajuk. Tajuk buai buaian terdapat enam bagian, yaitu 1.1. s.d. 1.6. Sesuai tajuknya buai buaian berkisah tentang kasih sayang dan jati diri Hang Jebat, Hang Lekir, dan Hang Tuah yang masih belia. Beragam kerenah mereka bertiga tersaji dalam buai buaian. Tajuk tiga bujang tanggung berkisah tentang Hang Jebat, Hang Lekir, dan Hang Tuah dalam usia bujang tanggung dalam lima bagian, yaitu 2.1. s.d. 2.5. Kisah ketangkasan dan kepiawaian bela diri dapat kita temukan dalam bagian ini. Selanjutnya, tajuk berburu guru berkisah tentang ketiga sahabat tersebut merantau ke tanah Jawa untuk berguru. Bagian ini dikisahkan dalam delapan bagian, yaitu 3.1. s.d. 3.8.: berguru pula jangan percuma/ kepada guru haruslah berbahasa/ meski sudah berilmu jangan jumawa/ di atas langit masih ada sidratul muntaha (h.30). Kemudian, tajuk mendam berahi menyajikan lima bagian, yaitu 4.1. s.d. 4.5. Tajuk ini berkisah tentang perpindahan kerajaraan dari Bintan ke Malaka, kisah ketangkasan Hang Tuah, Hang Jebat, dan Hang Lekir, kisah pelayaran Sultan ke tanah Jawa dengan menaiki kapal mendam berahi, dan mempersunting puteri jelita Raden Galuh Chandra Kirana. Lalu, tajuk wangi teja dikisahkan dalam lima bagian, yaitu 5.1. s.d. 5.5. Bagian ini berkisah tentang kepulangan Sultan ke Malaka dan berjamu pesta, Hang Jebat menaruh hati pada Dang Wangi Baharu, bencana gempa melanda Malaka, Hang Tuah mempersembahkan Tun Teja kepada Sultan, dan hukuman mati untuk Hang Tuah.

Berikutnya, tajuk memburai badai terdiri dari lima bagian, yaitu 6.1. s.d. 6.5. Bagian puisi ini berkisah tentang kemarahan Megat Panji Alam dan Raja Inderapura karena Tun Teja dijadikan isteri Sultan Malaka yang berakhir dengan kekalahan Inderapura, Kerajaan Malaka semakin gemilang, pernikahan Sultan Malaka dengan anak raja Cina, Hang Liu. Oleh Hang Liu inilah, nama awal Tuah, Jebat, Lekir, dan kawan-kawannya diberikan nama Hang. Kekecewaan Jebat pun terlukis dalam bagian 6.3. ketika Malaka ditimpa bencana, tetapi pejabar negara kurang peduli. Kemurkaan Sang Batara Majapahit pun tak terelakkan karena puterinya Raden Galuh seperti diabaikan oleh Sultan. Tajuk tarung dalam talam mendapat tempat terpanjang dari penulis terdiri dari sembilan bagian, yaitu 7.1. s.d. 7.9. Di sinilah, kisah Hang Tuah semakin dipuja, tetapi Hang Jebat kurang suka dengan manajemen negeri. Rakyat seperti jalan sendiri. Peristiwa jerebu karena penebangan dan penjualan hutan oleh pejabat negara pun terlukis di sini. Lagi, Hang Tuah dititahkan untuk dibunuh karena fitnahan Patih Karma Wijaya. Terjadilah amuk Jebat dan perseteruan dengan Tuah. Sebelum Jebat gugur, dia berpesan kepada Tuah agar mengambil Dang Wangi yang sedang hamil ke Singapura. Terakhir tajuk dodoi si dodoi yang terdiri dari tiga bagian, yaitu 8.1. s.d. 8.3. Bagian ini mengisahkan kelahiran anak Hang Jebat dari Dang Wangi, Hang Nadim namanya. Penulis mengistilahkan Jebat baru. Pada bagian ini, penulis pun mengisahkan kematian Hang Tuah.
Kitab puisi Risalah Jebat pada hakikatnya mengangkat kembali kisah perseteruan Hang Tuah dan Hang Jebat. Dalam puisi ini, kita seperti bernostalgia kembali tentang kisah-kisah hebat tokoh legenda Melayu. Sebagai penyair, Sulong menyajikannya dalam bentuk puisi balada. Sulong mentransformasi bentuk prosa menjadi puisi balada. Puisi balada, menurut Waluyo, merupakan puisi yang berisi tentang orang-orang perkasa atau tokoh pujaan atau orang yang menjadi pusat perhatian. Puisi ini termasuk puisi naratif. Puisi ini bercerita atau penjelasan penyair (1991:135). Uniknya lagi, Sulong menghidangkan kitab puisinya itu seperti syair, pantun, perbancuhan syair dan pantun, serta puisi bebas (modern). Diksi-diksi yang disusun Sulong pun dapat kita simpulkan penuh pertimbangan mendalam. Keindahan-keindahan diksi begitu nyata dalam setiap larik yang digunakannya.

Risalah Jebat memberikan beberapa pesan secara universal, terkhusus bagi bangsa Melayu. Pertama, pembelaan dalam persahabatan bisa menjadi perseteruan karena berbeda sudut pandang. Kedua, pemimpin (negara) yang mengutamakan nafsu akan menyengsarakan rakyatnya. Ketiga, pengkhianat senantiasa mengintai dalam setiap lingkaran kekuasaan. Keempat, semestinya kesetiaan itu berpada-pada di tempat yang benar letaknya. Kelima, senantiasa berbuat adil. Keenam, yang kekal itu iman yang sempurna dan pekerti yang baik. Ketujuh, hendaknya memberikan pertolongan kepada orang/rakyat yanng teraniaya. Kedelapan, kebijaksanaan pemimpin itu karena hasil mufakat dengan pembesarnya. Mufakat yang benar akan melahirkan kebijak(-sana-an) yang benar pula. Pesan nyata kitab puisi ini dapat kita tangkap dalam epilog (h.155-156). ***

Alhamdulillah.
Bengkalis, Selasa, 10 Jumadil Akhir 1444 / 01 Januari 2023

Baca: patahan.ranting: Ikhlas

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews