Waktu

perempuan air mata

Kasih Tertinggal di Bulang Linggi

Bismillah,
Hamba menerima hadiah sehimpun puisi bertajuk Kasih Tertinggal di Bulang Linggi karya Bambang Kariyawan Ys (BK), sastrawan Indonesia asal Riau. BK menghimpun sebanyak 82 puisinya dalam antologi yang diterbitkan oleh Soega Publishing (2022) ini. Paling tidak ada tiga hal paling dominan yang Hamba temukan dalam sehimpun puisi tersebut. Pertama, puisi menandai sejarah. Kedua, puisi menandai tempat. Ketiga, puisi menandai peristiwa/benda. Semua penandaan tersebut berada dalam tamadun Melayu. Namun, ada satu yang menarik bahwa ketiga hal dominan tersebut dibungkus dalam diksi-diksi waktu, baik secara konkret maupun abstrak. Orientasi waktu dalam sehimpun puisi BK ini sangat kuat. Ini bermakna bahwa BK sangat memperhatikan tentang pentingnya waktu bagi kehidupannya secara pribadi maupun secara umum.

Waktu atau masa menjadi sumpah Yang Maha Pencipta. Allah Subhanahuwataala bersumpah dengan nama waktu. Wal Asr (Demi Waktu), Wal Fajr (Demi Waktu Fajar), dan Wad Dhuhaa (Demi Waktu Duha). Kata Imam Syafi’i, waktu ibarat pedang. Jika engkau tidak menebasnya, maka dialah yang akan menebasmu. Kata Nelson Mandela (Politikus Afrika Selatan), kita harus menggunakan waktu dengan bijaksana dan selamanya menyadari bahwa waktu selalu siap untuk berbuat benar.

Waktu bisa menjadi senjata tajam yang akan merugikan kita. Bijaksana dalam kehidupan merupakan suatu bentuk memanfaatkan waktu dengan benar. Dengan waktu, kita memang mesti cerdas. Mabuk ilmu, mabuk berbuat baik, mabuk ibadah, dan mabuk semua hal elok yang seharusnya kita kebat dalam waktu yang fana. Yang fana adalah waktu, begitu puisi Sapardi Djoko Damono. Kata Ernest Hemingway, orang cerdas terkadang terpaksa menghabiskan waktu untuk mabuk karena kebodohannya.

Sehimpun puisi ini merupakan bentuk pengakuan BK sebagai penyair. Sebagai penyair berlatar pendidikan sejarah dan menggeluti dunia sosiologi, tentu saja sehimpun puisinya ini sangat kental dengan sisi latar belakang pendidikannya. Sebagai unsur ekstrinsik karya sastra, latar penulis ikut memberikan kekuatan pada karyanya. Lebih jauh, aspek sosiologi pun berkelindan dengan keluarga, masyarakat, bangsa, etnis, ideologi, dan sebagainya. Pada hakikatnya menurut Hamba, menulis puisi itu mencatat tanda-tanda Ilahi. Tanda-tanda itu bisa tentang apa saja, termasuk sejarah, tempat, dan gender. Tanda-tanda sejarah Melayu dalam sehimpun puisi ini dapat kita pahami dalam puisi Marwah Peri Regalia yang menandai tokoh sejarah Engku Puteri Raja Hamidah. Puisi Kelana Angin menandai tokoh sejarah Raja Haji Fisabilillah. Puisi Tuah menandai tokoh Hang Mahmud, Dang Merdu, Hang Tuah. Puisi Perapal Azimat menandai tokoh Megat Sri Rama. Puisi Tempias Disanggah Dusta menandai tokoh Wang Anom (Wan Anom/Dang Anom?). Puisi Sumpah Berdarah menandai tokoh Sultan Mahmud Syah II. Puisi Lelaki Pemanas Waktu menandai tokoh Seri Bija Wangsa. Puisi Penadah Embun menandai tokoh Mahdewi, dan beberapa puisi lainnya juga menandai tokoh-tokoh dalam lintasan sejarah bangsa Melayu. Tokoh Raja Ali Haji ditandai dalam puisi Lelaki Pemanggul Gurindam. Di samping itu, BK pun menandai tokoh-tokoh Indonesia seperti Muhammad Yamin dalam puisi Syair Beraroma Mawar, STA (Sutan Takdir Alisyahbana) dalam puisi Pengunyah Kalimat, dan tokoh S. Gegge Mapppangewa (penulis) dalam puisi Membaca ”Daeng”.

Selain tokoh sejarah, BK pun menandai tempat, peristiwa, atau benda (bersejarah) dalam sehimpun puisinya. Bulang Linggi, Bintan, Malaka, Gunung Ledang, Taming Sari, Sumpah Palapa, Sawahlunto, Andalas, Indonesia, Tumasik, Leighton, Ombilin, Tanah Hitam, Tandikek, Makam Datuk Museng dan Maipa Deapati, Sungai Sidang, Sungai Mesuji, Lembah Anai, Senapelan, dan beragam tempat, peristiwa, atau benda lain. Tempat, peristiwa, atau benda beraroma Melayu itu melekat bersahaja dalam larik-larik puisi yang dirangkainya. Misalnya larik Menatap Tumasik bertemankan bait-bait kisah masa lalu dalam puisi Bocah Beraroma Badai (h. 14) yang berlatar peristiwa Singapura Dilanggar Todak.

BK bukan cuma menandai tokoh, tempat, peristiwa, atau benda beraroma Melayu dalam puisinya. Penyair yang berprofesi sebagai pendidik ini pun suka bermain dengan diksi sejarah. Dalam puisi Tuah, terdapat larik mempertegas persahabatan Hang Tuah: Bersama empat Hang mengukir uliran sejarah (h.4). Larik Titis bahagia bersama lelaki pengemban sejarah dapat kita temukan dalam puisi Tempias Disanggah Dusta (h. 6). Dalam hitungan, paling tidak ada 15 judul puisi menggunakan diksi sejarah. Hamba jadi ingat dengan Jas Merah (Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah), kata Bung Karno. Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta, Suyatno mencatat terdapat 50 diksi sejarah dalam pidato tersebut sebagai bukti betapa pentingnya sejarah. Dalam puisi BK, diksi sejarah mengalami beragam frasa seperti haluan sejarah, pada sejarah yang kantuk, aroma sejarah, kelindan sejarah, kuasa sejarah, mencari sejarah di bilik sunyi, dan sebagainya yang memperkaya makna diksi sejarah tersebut.

Puisi Kasih Tertinggal di Bulang Linggi mendapat tempat istimewa karena diangkat sebagai judul besar buku ini. Bulang Linggi merupakan pelabuhan di Kota Tanjung Uban, Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Pulau Bintan ini merupakan tanah kelahiran BK. Wajar saja puisi ini menjadi istimewa. BK mendeskripsikan kenangan-kenangan indah dan luka dalam puisi ini dengan diksi senja. Kenangan indah itu dapat kita pahami dalam bait berikut.
Kasih …
Senja itu terlalu jingga untuk kulepas
Kala buaian arusnya membawa kapal itu ke seberang
Melepas kenangan-kenangan yang pernah kita rajut di sini
Di Bulang Linggi …
Tempat menanti dan dinanti (h.1).

Melalui puisi ini, BK berkisah tentang keindahan dermaga Bulang Linggi dan kisah kasih. Puisi seperti kesaksian tentang kisah yang pernah dialami oleh penyair dengan mengambil tempat di dermaga Bulang Linggi. Namun, BK pun meluahkan kritikannya melalui puisi ini tentang suatu kesan duka, yaitu ketertinggalan. Kedukaan itu dilukiskan dengan larik Senja kali ini terlalu berbeda…. Cerita tentang angin laut beraroma gersang/ Mengirimkan puisi-puisi buih tentang ketertinggalan (h.1). Di samping mengisahkan kenangan manis, puisi ini juga mengungkapkan kekesalan tentang ketertinggalan tanah kelahiran penyair.

BK menandai sejarah, tempat, peristiwa, dan benda dalam sehimpun puisinya. Penyair ini membungkusnya dengan diksi waktu, baik langsung maupun tidak. Terdapat sebanyak 49 puisi menggunakan diksi waktu dan turunannya. Satu puisi pendek yang setiap lariknya menggunakan diksi waktu secara tidak langsung dapat kita simak dalam puisi Waktu Patah berikut yang menggambarkan manusia terpasung dan dikalahkan waktu.
Pagi gerah
Siang rinding
Malam sengat
Jam gagu
Menit menduda
Detik pasrah
Patah … (h.67).
Diksi waktu langsung dapat kita ungkai dalam puisi-puisi BK dengan beragam frasa. Beragam frasa tersebut tentu menghasilkan beragam makna berbeda pula, baik denotasi maupun konotasi. Dalam puisi BK, kita akan menemukan frasa pusaran waktu (h.2), bilur waktu (h.3), rumput-rumput waktu (h.5), gelayut waktu (h.6), pemanas waktu (h.8), merenjiskan waktu (h.15), dan sebagainya. Ragam turunan diksi waktu itu dapat kita temukan juga dalam puisi BK ini berupa frasa/kata senja, hari, Jumat, tahun, masa lalu, zaman, petang megang, kala itu,malam, dan sehimpun kata penunjuk waktu lainnya. Kata-kata tersebut–sadar atau tidak–telah membungkus semua penandaan sejarah, tempat, peristiwa, dan benda dalam puisi-puisi BK. BK seperti ingin mengatakan bahwa kita semua berebut dengan waktu dalam penguasaan sejarah, tempat, peristiwa, dan benda. Aku sendiri memanggul sejarah/ Bersaksi atas segala rasa/ Ambisi, intrik, dan perebutan waktu (h.16).

Semoga kita tidak ditebas waktu.***

Alhamdulillah.
Bengkalis, Selasa, 24 Jumadil Akhir 1444 H / 17 Januari 2023.

Baca: Pulang

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews