Waktu yang Salah
awal yang terlihat bersatu padu berujung dengan akhir yang bercerai-berai
berlindung di balik kata harmonis
mata lelah tak dapat membendung tangisan rindu
enggan berbagi kabar baik
sengaja memancing kecemburuan untuk merayakan hari perpisahan
jika diperjelas hubungan ini akan segera karam
sangat jelas membutakan akal sehat
jalan pikiran berputar seperti gasing
datang di waktu yang salah
memilih kabur setelah mengetahui sifat asli lelaki kardus
di sebrang sana ada belokan tajam yang sedang menyamar sebagai terang bulan
kemudian tergantikan dengan kata semoga
melihat diri sendiri dari atas ke bawah tanpa terkecuali
patah hati sungguh pedih
rasa sedih, kecewa, murka masih melekat dalam diri
tanpa ragu mencampurkan semua emoji ke dalam papan ketik
Ketapang, 10 Juni 2026
Dinding Batin
menaruh harapan pada manusia sama dengan menciptakan eliminasi
hal ini sudah tercatat dalam surat kabar
manusia memang gampang bosan paling anti dengan kebatilan
manusia selalu ceroboh tentang efek pengasihan pada setiap bagian dinding batin
terlalu mengekang hingga merusak komunikasi
tak ada salam dari ruang konsultasi
Ketapang, 11 Juni 2026
Mengadili Hari Akhir
hari baik jarang terlihat tapi sering menyelinap
seperti dirahasiakannya awan kepada hujan
oh, lihatlah tubuh kering kerontang ini dipaksa menghafal nama-nama obat
tumbuh tenteram di era kemunafikan
kasam ikut andil membebani kompensasi
mungkin nanti terserap badai pasir hitam
membelah sepi
memikat api yang mencederai tangan kanan
harus dibalas sama dengan yang ada disini
pindah berkala sebelum penghancuran bait pertama ditiadakan
Ketapang, 24 Juni 2026
————————————–
Amanda Amalia Putri, lahir di Banyuwangi. Mengisi waktu luangnya dengan menulis puisi. Puisi-puisinya termuat di Banera.id, Bantenhejo.com, biliksastra, darus.id, KBA News, Madurapers, Mbludus.com, MediaKTM, NOLESA.COM, Riausastra.com, Salik.id, pronesiata.id, Sanggam.id, SumenepNews.com, dan sepenuhnya.com. Beberapa puisinya termuat dalam buku antologi bersama antara lain: Pengembara Rindu (2020), Senandung Bait Cinta Pertama (2023), Gugur Cinta ke Pelukan Rindu (2023), Rahasia Hati Yang Tak Pernah Terucap (2023), Simpul Rasa (2023), dan Aku di Garis Penantian (2024), Jejak Masa lalu (2025), dan Luka yang tak Bersuara (2025). *
Baca: Puisi-Puisi Karya Muhammad Febriansyah





