TANTANGAN kurikulum baru, teknologi digital, dan karakter siswa yang semakin beragam menuntut guru untuk adaptif dan reflektif. Namun, perubahan itu tidak akan berarti tanpa perubahan pola pikir. Inilah yang menjadi latar pelaksanaan kegiatan masyarakat melalui format Workshop “Menumbuhkan Growth Mindset bagi Pendidik” di SMAN 1 Bukit Batu, Kecamatan Sungai Pakning, Kabupaten Bengkalis, Riau.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM 2025) yang dibiayai secara Mandiri oleh dosen-dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau (Prof. Dr. Firdaus L.N., M.Si., Prof. Dr. Suwondo, M.Si, Dr. Sri Wulandari, M.Si, Drs. Nursal, M.Si., Surtika, M.Pd, Muh. Risman Wahid, S.Pd., M.Si, dan Yustiny Andaliza Hasibuan, M.Si.)
Apa Itu Growth Mindset?
Istilah growth mindset pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Carol S. Dweck (2006). Konsep ini menekankan bahwa kemampuan seseorang bukanlah hal yang statis, tetapi dapat terus berkembang melalui usaha, strategi, dan dukungan lingkungan yang positif.
Guru dengan growth mindset percaya bahwa setiap siswa mampu berkembang jika diberi kesempatan dan umpan balik yang tepat. Sebaliknya, guru dengan fixed mindset seringkali melihat kegagalan sebagai tanda ketidakmampuan permanen, baik pada dirinya maupun pada siswanya. Workshop ini bertujuan memberdayakan para guru untuk berani berubah, mencoba, dan belajar dari kesalahan.
Worksop yang Menginspirasi
Workshop yang berlangsung pada 30 Agustus 2025 ini diikuti oleh 58 guru dari berbagai mata pelajaran. Kegiatan dilakukan dengan pendekatan partisipatif-reflektif, setiap peserta terlibat aktif sejak awal: mulai dari analisis kebutuhan, diskusi kasus, hingga refleksi hasil belajar.
Para guru diajak menganalisis contoh-contoh pembelajaran yang menunjukkan fixed mindset, kemudian menyusun strategi baru berbasis growth mindset. Mereka juga berlatih memberikan umpan balik positif, menggunakan bahasa yang mendorong siswa berani mencoba,
Angka yang Berbicara
Evaluasi kegiatan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Berdasarkan pretest–posttest, terjadi peningkatan pengetahuan guru sebesar 56%, dari kategori sedang ke tinggi.
Dari hasil angket Google Form, 89% guru menyatakan puas dengan pelaksanaan workshop. Sebagian besar menyebutkan bahwa materi sangat relevan dengan tantangan pembelajaran masa kini, 92% guru merasa materi disampaikan dengan jelas, 90% menilai metode pelatihan menarik dan mudah diikuti, dan 88% menyatakan kegiatan ini meningkatkan motivasi mereka untuk berubah.Tidak ada responden yang memilih “kurang setuju” atau “tidak setuju”.
Dampak Perubahan
Lebih dari sekadar angka, perubahan nyata tampak dari refleksi peserta. Banyak guru mengaku mulai mengubah cara pandang terhadap siswanya.
“Dulu saya cepat menyimpulkan siswa malas. Sekarang saya belajar melihatnya sebagai tantangan untuk mencari cara lain,” ujar salah satu guru peserta pelatihan.
Sebagian guru bahkan mulai membentuk komunitas reflektif di sekolah mereka, tempat mereka saling berbagi praktik baik dan pengalaman mengajar.
Makna Lebih Dalam
Worksop ini menunjukkan bahwa perubahan pendidikan tidak selalu harus dimulai dari kurikulum, tetapi dari cara guru berpikir dan memperlakukan proses belajar. Guru maupun murid bisa tumbuh jika diberi kesempatan.
Kegiatan di SMAN 1 Bukit Batu Kecamatan Siak Kecil menjadi bukti nyata bahwa investasi terbaik dalam pendidikan adalah pada pola pikir guru. Dengan growth mindset, guru tidak hanya mengajar, tetapi juga menularkan semangat pantang menyerah dan cinta belajar kepada siswanya.
Transformasi ini sejalan dengan semangat yang mengusung kebebasan belajar sebagai kunci perubahan pendidikan. Ketika guru berani mencoba hal baru, maka siswa pun akan berani belajar. Itulah efek domino dari growth mindset. SMAN 1 Bukit Batu memang “Bedelau Maciam Pulut…!” ***
*) L.N. Firdaus , Certified Excellent Trainer Professional (CETP®), Direktur Eksekutif Pusat Transformasi Minda Guru (CTMT), FKIP Universitas Riau


