SABTU, 9 Mei 2026 lalu RIAUPOS.CO menyampaikan berita perihal sudah setahun berbagai elemen masyarakat Riau menyatakan kesepakatan memperjuangkan Daerah Istimewa Riau (DIR), yang pertama kali digaungkan pada 20 Mei 2025 lalu. NA (Naskah Akademik) dan RUU (Rancangan Undang-Undang) mengenai DIR pun telah diserahkan ke DPR RI. Perjuangan ini bersifat konsitusional.
Namun, kalau dikatakan DIR pertama kali digaungkan pada 20 Mei 2025, sebenarnya kurang tepat. Jauh sebelum itu, Siak Raad (Dewan Siak; yang pada masanya dapat dianggap sebagai representasi Prov. Riau & Prov. Kepulauan Riau, plus sebagian Sumatra Timur pada masa kini) dalam rapat paripurna tanggal 29 Oktober 1949 dengan suara bulat memutuskan untuk status “Daerah Istimewa” dalam kerangka Republik Indonesia.
Terlepas dari kontroversi sejarah yang menyelimutinya, tuntutan RIAU menjadi Daerah Isrimewa adalah sesuatu yang asali.
Waktu berlalu; banyak rngkaian perjuangan untuk menuntut status RIAU yang layak. KRR I (Kongres Rakyat Riau pertama) pun berlangsung pada 1956, yang menghasilkan Prov. Riau (juga Sumatera Barat dan Jambi). Kemudian dalam momentum Reformasi, KRR II dilaksanakan pada 2000, yang menghasilkan otonomi daerah yang “diperluas”, relatif untuk seluruh daerah di Indonesia. Kita lihat, hasil perjuangan RIAU pada akhirnya tidak melulu untuk dirinya sendiri, melainkan juga berdampak positif pada banyak daerah lainnya.
Sebelum KRR II (yang dimenangkan opsi merdeka!), Tabrani Rab sebagai tokoh pejuang rakyat Riau, di antara berbagai peristiwa penting lainnya, pada 15 Maret 1999 sempat mengumandangkan RIAU BERDAULAT, sebagai salah satu tiang pondasi yang kokoh. Kepada Allahyarham puisi sulong a’dzam shuhuf yang berjudul “Risalah Autonomos Khasun Federal Dominus Istimewa dan Mahardika !” ini kami persembahkan.
Risalah Autonomos Khasun Federal Dominus Istimewa dan Mahardika
:Ongah Tab
sulong a’dzam shuhuf
Berkatalah Autonomos
Mari kita susun hidup kita yang tak selari ini
Untuk anak-cucu kita yang kebulur sebelum mereka lahir
Kau urus apa dapat apa
Aku urus ini dapat inidanitu
Tidak! Sergah Khasun
Tak cukup
Bagi kami tiadalah elok selain keelokan kami
Perlu hitung-hitungan tersendiri
Kaji-kaji, puja-puji, untung-rugi
Kami bukan ketimun bungkuk meskipun ada yang bengkok
Ada rupa ada harga
Federal beranjak tegak, acung jari dengan segak
Tak cukup cuma harga, kami adalah permata
Dah lah, sudahlah sudah
Kami urus kami, engkau urus engkau
Hal-hal yang sepakat sahaja, kita urus bersama
Supaya jelas duduk perkara; karena kita memang beda
Datang Dominus dengan tunjuk terhunus
Meski permata tapi ingatlah pula
Kami sudah nyaris habis segala
Perut bumi semerata tanah air udara dan alam minda tergadai
habis semesta pada mereka
“Maka hari ini”
“Kami putuskan”
“Untuk menentukan nasib kami sendiri”
“Kami telah mulai menukilkan sejarah kami”
“Dalam lembaran yang baru”
Istimewa tersenyum, bangkit dengan sedikit tegun
Merapal risalah turun temurun
Tentang kegemilangan tamaddun berpantun,
Tentang kegetiran setempurung kepurun,
Tentang kekayarayaan semerata kebun,
Tentang kepedihan nan menggelegakkan ubun-ubun
Kita adalah Marwah, yang tak dapat ditakar-takar
Mari tegak segak dengan tegar
Jangan cuai dibujuk layu ditukar
Sebab kita bangsa yang besar!
Merdeka!
Sorak Mahardika
Kita telah memilih, lepaskan belenggu!
Kita bukan katak dalam tempurung
Kita bukan Sisyphus dan batunya
Kita bukan Lebai Malang dan sungainya
Tapi, “Kita dari pedih yang sama”
Mari, bebaskan jiwa, satukan kata
Mungkin
“Akan berpisah jua kita akhirnya, Jakarta!”
Payungsekaki, September 2022.
Mari kita sikit “bermain-main” :
Ulasan ChatGPT Sebagai Kritikus Sastra
Puisi ini punya ambisi yang cukup besar: ia mencoba mempersonifikasikan beberapa konsep politik/ketatanegaraan (“Autonomos”, “Khasun”, “Federal”, “Dominus”, “Istimewa”, “Mahardika”) sebagai tokoh-tokoh yang berdebat dan menyampaikan manifesto masing-masing. Secara estetika, ia berada di wilayah puisi-politik yang dekat dengan pidato, risalah, dan alegori.
Penilaian kuantitatif
Aspek
Nilai (…/10)
Diksi = 8.0
Imaji & metafora = 7.5
Orisinalitas konsep = 8.5
Musikalitas/bunyi = 8.0
Struktur & komposisi = 7.0
Koherensi makna = 6.5
Kekuatan emosional = 7.5
Kedalaman gagasan = 8.0
Skor keseluruhan = 7.7/10
Jika dipoles lebih lanjut, menurut saya potensinya bisa mencapai kisaran 8.5/10.
A. Yang kuat
1. Konsep alegorinya menarik dan tidak generik
Masing-masing figur mewakili posisi ideologis berbeda:
Autonomos → otonomi/pragmatisme pembagian urusan.
Khasun → identitas dan kekhasan.
Federal → federalisme atau pembagian kewenangan.
Dominus → kedaulatan penuh/self-determination.
Istimewa → legitimasi sejarah dan kebudayaan.
Mahardika → kemerdekaan dan pembebasan.
Ini membuat puisi terasa seperti drama parlementer atau sidang sejarah yang dipadatkan menjadi puisi.
Bagian:
Kami urus kami, engkau urus engkau
Hal-hal yang sepakat sahaja, kita urus bersama
cukup efektif karena langsung mengingatkan pada prinsip federalisme tanpa perlu menjelaskannya secara teoritis.
2. Ada energi retoris yang kuat
Puisi ini sering terdengar seperti orasi.
Misalnya:
Kita adalah Marwah, yang tak dapat ditakar-takar
Mari tegak segak dengan tegar
Jangan cuai dibujuk layu ditukar
Sebab kita bangsa yang besar!
Secara bunyi, repetisi akhiran -ar memberi daya dorong yang kuat.
Demikian juga:
Maka hari ini
Kami putuskan
Untuk menentukan nasib kami sendiri
ritmenya seperti pembacaan deklarasi politik.
3. Permainan bunyi cukup hidup
Contoh:
Kaji-kaji, puja-puji, untung-rugi
atau
Merapal risalah turun temurun
Tentang kegemilangan tamaddun berpantun
Ada perhatian terhadap aliterasi dan asonansi. Ini membuat teks tetap puitik walaupun sarat gagasan.
B. Yang menurut saya masih lemah
1. Simbol-simbolnya belum cukup dibangun
Nama-nama seperti:
Autonomos
Khasun
Dominus
Mahardika
terasa menarik, tetapi pembaca belum diberi cukup petunjuk emosional atau naratif untuk mengikat diri pada mereka.
Akibatnya, puisi kadang terasa seperti:
serangkaian pidato tokoh konseptual
daripada perjalanan dramatik yang utuh.
Misalnya setelah “Federal”, tiba-tiba muncul “Dominus”, lalu “Istimewa”, lalu “Mahardika”. Pergantian tokoh cukup cepat sehingga pembaca harus terus menebak posisi masing-masing.
2. Beberapa larik terasa lebih slogan daripada puisi
Contoh:
Kami urus kami, engkau urus engkau
atau
Kita telah memilih, lepaskan belenggu!
Secara makna jelas, tetapi secara puitik belum sekuat bagian lain yang lebih imajinatif.
Bandingkan dengan:
Perut bumi semerata tanah air udara dan alam minda tergadai
yang jauh lebih kaya secara citraan.
3. Kepadatan referensi membuat fokus emosional terpecah
Di akhir muncul:
Kita bukan Sisyphus dan batunya
Kita bukan Lebai Malang dan sungainya
Menarik karena menggabungkan mitologi Yunani dan folklor Melayu, tetapi kemunculannya agak mendadak.
Pembaca bisa bertanya:
Mengapa Sisyphus?
Mengapa Lebai Malang?
Apa hubungan spesifik keduanya dengan konflik yang sedang dibangun?
Referensi tersebut memperluas cakrawala puisi, tetapi belum sepenuhnya terintegrasi dengan narasi utama.
C. Bagian yang paling berhasil
Bagi saya, bagian Dominus adalah puncak puisi:
Kami sudah nyaris habis segala
Perut bumi semerata tanah air udara dan alam minda tergadai
habis semesta pada mereka
Di sini abstraksi politik berubah menjadi pengalaman kolektif yang terasa konkret: sumber daya, ruang hidup, bahkan “alam minda” ikut tergadai.
Lalu dilanjutkan dengan deklarasi:
Untuk menentukan nasib kami sendiri
Kami telah mulai menukilkan sejarah kami
Dalam lembaran yang baru
Transisinya kuat dan meyakinkan.
D. Kesan keseluruhan
Saya membaca puisi ini sebagai puisi alegori politik tentang spektrum hubungan kekuasaan: otonomi, identitas lokal, federalisme, kedaulatan, keistimewaan historis, dan kemerdekaan. Kekuatan utamanya terletak pada gagasan yang luas, retorika yang hidup, serta permainan bunyi yang cukup terjaga.
Kelemahan utamanya bukan pada bahasa, melainkan pada koherensi dramatik: tokoh-tokohnya menarik, tetapi belum semuanya berkembang menjadi karakter puitik yang memiliki bobot emosional setara dengan bobot ideologisnya.
Jika saya menilai sebagai karya puisi kontemporer yang serius, saya akan memberi 7,7/10. Dari sisi orisinalitas gagasan, nilainya bahkan bisa mendekati 8,5/10, karena tidak banyak puisi yang mencoba membangun perdebatan ketatanegaraan dalam bentuk alegori seperti ini. (240526). ***



