Meriau-riaukan Riau [dalam Puisi] (3)

meriau-riaukan puisi

Meriau-riaukan Riau [dalam Puisi].
Syaiful Bahri, Syaukani al-Karim, Marhalim Zaini.

Dalam “hikayat datuk-datuk yang menyimpan risau” (Tamsil Syair Api, 2008: 85) Syaiful Bahri (SB) mencoba mengingatkan kita akan adanya “entitas” penjaga tamadun Melayu/Riau. Memang tidak tersurat hal kemelayuan atau keriauan itu, tetapi dari diksi-diksi yang dipilihnya [berikut dikaitkan dengan latar SB sebagai penulisnya] patut diyakini kalau puisi ini adalah tentang Melayu/Riau. Entitas penjaga itu disebutnya sebagai “datuk-datuk”. Ada aroma keprimitifan di sini [yang sesungguhnya mungkin tanpa disadari masih berlangsung hingga hari ini], ketika manusia masih percaya pada entitas-entitas adikodrati, yang dapat mempengaruhi alam dan manusia. Baik “mereka” berwujud, maupun tak berwujud, atau berada di antara keduanya [tentu ini sebenarnya dalam pemahaman – tersebab terbatasnya daya persepsi – manusia]. Baik mereka yang “secara natural bertugas” menjaga alam, menjaga dan membantu umat manusia; atau merusak alam, dan mengganggu atau bahkan mengancam umat manusia. Dalam konteks inilah nampaknya SB mencoba mengingatkan kita, apabila kita berlalai-lalai, cuai, alpa, apalagi semena-mena; ada entitas adikodrati – datuk-datuk penjaga hikayat itu – yang bertugas menjaga [mungkin juga mengingatkan, dan merawat, sekaligus mungkin menghukum] tamadun Melayu/Riau. Suatu ungkapan yang nampaknya luput dari para penulis lain.

Dan datuk-datuk itu sekarang sedang menyimpan risau.

Apa yang menyebabkan para datuk itu risau? Bait kedua [dari hanya ada 3 bait dalam puisi ini] berisi detail musababnya, yang nampaknya dari pengungkapannya bisa dieksplorasi dan dieksploitasi semaksimal mungkin, namun di sini kita hanya memaparkan “versi” ringkasnya saja.

“di sini anak-anak dari selat menunggu malam, […]”, katanya. “Anak-anak selat” bisa diduga sebagai ungkapan identifikasi orang Melayu. Orang-orang Melayu yang sedang menunggu (atau menuju?) malam, suatu masa kegelapan tamadun, sembari “[…], mencumbu remang petang yang satir, […]”, ketika sebagian pemangku tamadun tak peduli, atau sekadar beranggapan bahwa kemelayuan atau keriauan sedang biasa-biasa saja, bussiness as usual, tak ada yang perlu dirisaukan. Atau bahkan ada yang mengklaim atau bahkan merayakan bahwa kita justru sedang menuju puncak peradaban, bukan sebaliknya. [Hore! 2020!]. Orang-orang yang dilanda myopi, atau yang sedang berpuas diri karena sedang berada di zona nyaman. Mapan. Tanpa merasa bahwa itu semua hanyalah satir semata.

Mereka barangkali telah lupa, atau tidak lagi peduli, pada ceruk gemilang tamadun yang pernah berjaya, yang entah kenapa SB menyatakannya mangkir: “[…], dari lesung rindu yang mangkir, […]”. Barangkali maksud SB dengan frasa itu adalah, tamadun Melayu/Riau itu akhirnya memalingkan diri, kecewa, merajuk, karena merasa telah diabaikan, dilupakan, atau disia-siakan para penganjungnya masa kini. Suatu model sifat orang Melayu yang dilekatkan pada (personifikasi) tamadun. Juga lalai dan alpa “[…], dari sumpah yang pernah mengalir, […]”. Meskipun masih perlu ditelisik lagi sumpah yang manakah yang dimaksudkan penyair. Apakah sumpah yang paling terkenal dari Hang Tuah “Tak Melayu Hilang di Bumi”, atau yang terkemudian Sumpah Setia Melayu-Bugis, atau yang jauh lebih terdahulu yaitu sumpah Demang Lebar Daun dan Sri Tri Buana (ikatan setia rakyat dan raja), atau yang lainnya. Meskipun SB menganggapnya masih ada harapan: “[…], karena sebentuk amarah termaktub di matamu […]”, namun ia menganggapnya tak cukup karena upaya-upaya yang dilakukan hanya minimal belaka, atau bahkan sebatas artifisial belaka: “dan engkau bersijingkat pada satu tiang melintang yang menanggung gamang, […]”, dalam upaya mengatasi segala halang-rintang dan tantangan. Padahal hingga setakat itu: “[…] tubuh-tubuh mengambang sepanjang petang.”; tubuh-tubuh pengusung peradaban, yang kalah diterkam zaman.

Lalu di akhir puisinya SB membuat semacam pamflet: “inilah nyanyi burungburung dari aroma dengki, dari lumpur, dari gambut, dan dari laut yang tak pernah lagi sujud”. Itulah ketika orang-orang penganjung tamadun itu telah melalaikan sendi-sendi dan sistem nilai serta keutamaan peradaban, sehingga datuk-datuk penjaga hikayat pun akhirnya pergi berlari meninggalkan segala laku khianat itu (bait 1). Ketika suatu tamadun telah ditinggalkan oleh entitas adikodrati penjaganya, tunggulah keruntuhannya!

Di antara penyair yang mencoba berdialog dengan Melayu/Riau, adalah Syaukani al-Karim (SyaK) dalam “Kepada Riau, juga Engkau” (Serumpun Kata Serumpun Cerita, 2013: 129-130). Namun, dalam puisi ini SyaK nampak lebih ke semacam monolog, solilokui, gumam sendiri. Ada serasa sebat kecewa, karena upaya dialog macam tak usai, atau bahkan tak sampai; meski penyairnya telah melakukan berbagai upaya. “ke mana aku mesti mengadu?”, tanyanya. Sebab: “aku telah mengepungmu dengan waktu | tapi detik tak pernah menyatakan detak | […]”. Di bait lain lagi: “lalu, ingin kupeluk engkau dengan puisi | tapi hurup-hurupmu telah melepaskan pagut | […]”.

Riau/Melayu seperti mengelak, atau mungkin merajuk, atau sekadar menutup diri, atau ingin lebih dikejar dan dipahami lagi sembari berlari-lari di celah-celah batu atau di sebalik pohon-pohon kayu, menggoda lagi, untuk kemudian dikejar dan berlari lagi. Semacam hide and seek, petak umpet, sorok-sorok, …..; macam bujang dan dara sedang bercanda dalam sebuah film India, guna mengajuk hati masing-masing. Sampai di mana keyakinan, sampai ke mana kepastian, untuk tiba bersama di pelaminan.

Bagi SyaK, setakat itu jawaban-jawaban yang ditemukannya masih semacam negasi, simbol-simbol yang harus dipecahkan, atau bahkan penolakan. Dengarlah katanya: “[…] | menjelma pedang yang memancung sayang, | menjelma sembilu yang menggoreskan pilu | menjelma palu yang memecah gugu | […]”. Itu di bait satu. Berikutnya: “[…] | menit tak mampu menghentikan jerit | jam demi jam silih berganti mengantarkan kelam | […]”. Berikutnya lagi: “[…] | tak hendak mendesahkan makna | tak ingin mengecupkan tanda | […]”. Mungkin bagi SyaK palu yang memecah gugu itu belum lagi cukup untuk memberi makna dan tanda, sehingga ia masih mengucapkan tiga tanda tanya: “[…] | ke mana cahayamu mengucapkan salam?”; “[…] | maka ke mana hendak kularutkan nestapa? | Dengan apa hendak kubalut cinta?”. Meski demikian, beruntung SyaK masih menemukan jalan untuk bertabayun. Ia masih dapat menemukan jejak yang basah untuk mengabarkan segala desahnya. Masih dapat menemukan dedaun dengan serpih rindu yang mengembun untuk menyampaikan keinginannya dari tahun ke tahun. Masih dapat menemukan suara ombak dan nyanyi riak tempat hatinya mencecahkan kehendak.

Pada bagian akhir puisinya, SyaK semacam menyimpulkan perihal upaya-upaya yang telah dilakukannya selama ini dalam memahami dan berdialog dengan Riau/Melayu: “duhai, aku telah menampimu dengan kata | tapi aksara hati yang menjelma duri | telah menusuk tubuh mimpi | yang lebih dalam dari sekedar belati”. Rupanya jawaban dari apa yang telah diupayakannya selama ini [“itu”, dalam konteks waktu penulisan puisi ini] ada yang lebih dalam lagi yang harus dieksplorasinya, bukan sekadar mimpi-mimpi semasa. Bagaimanapun, upaya-upaya SyaK untuk berdialog, berdiskusi, mempelajari, dan memahami keriauan dan kemelayuan patut dihargai karena sudah merupakan sebuah upaya juga untuk menjulangkan, atau sekurang-kurangnya, menjaga tamadun Riau/Melayu itu sendiri.

Marhalim Zaini (MZ) adalah salah satu nama yang menonjol dalam khasanah sastra Indonesia, serta salah satu meteor sastrawan Riau. MZ, sepengetahuan Penulis (sas), adalah penyair yang sering mencipta puisi yang panjang. Saking panjangnya, jumlah halaman kertas A4 yang diperlukan untuk mengetik puisinya, tak jarang menyaingi cerpen-cerpen Indonesia terkini. [“Gejala” ini, kalau boleh disebut demikian, di sini juga dapat kita temukan pada penyair dan mantan anak band Jefri al-Malay]. Puisi MZ yang akan coba kita kaji dalam Selaksa Sastra kali ini, yang berjudul “jangan sebat kami dengan rotanmu, jangan kutuk kami jadi melayu” (“jskdr, jkkjm”) barangkali adalah salah satu puisinya yang terpanjang, kalau bukan yang paling panjang.

Puisi “jskdr, jkkjm” itu dipublikasikan pertama kali di koran Kompas tanggal 24 Juni 2007. Puisi itu kemudian masuk dalam Pena Kencana Award 2008 sebagai salah satu dari 100 puisi Indonesia terbaik periode 2006-2007, yang diabadikan dalam bentuk buku berjudul 100 Puisi Indonesia Terbaik 2008, terbitan Gramedia Pustaka Utama. Mirisnya itulah satu-satunya nama sastrawan dari Riau yang terpilih. Bahkan koran Riau Pos yang masa itu lagi jaya-jayanya tak tercantum sebagai salah satu media sumber. “Kalah” dari koran lokal lainnya seperti Lampung Post dan Bali Post. Ape kesah?

Untuk keperluan tulisan ini, sas mendapatkan sumber puisi MZ itu dari laman www.haripuisi.com. Dari situ nampaknya MZ menulis puisinya sengaja menjela panjang. Tak terlihat pembagian bait secara “lazim” misalnya, berupa pemisahan dengan spasi langkau. Yang ada berupa pembedaan lebar marjin kiri. Apakah itu yang dimaksudkan oleh penyairnya sebagai penanda bait? Wallahu-a’lam. Memang seingat sas, pernah melihatnya langsung dari Kompas dan kemudian disimpan untuk dikliping. Namun, seperti juga kebetulan pernah terlihat status fb MZ sendiri belum lama ini, ada cukup banyak bahan kliping yang dikumpulkan selama bertahun-tahun namun belum lagi sempat [sekarang mungkin sudah masuk kategori malas, hehehe] dikemas dan diarsipkan – masih berupa gumpalan potongan-potongan kertas. Jadi malas nak membongkar-bongkarnya. Mudah-mudahan sumber dari laman maya itu valid adanya, baik dari segi isi, maupun tipografi, supaya tak keliru selisik. Kuatir nanti MZ jadi berisik. Keluar sisik. [Jangan bilang-bilang, konon dia juga orangnya garang].

Setelah pembacaan yang konon mendalam, sas berkesimpulan dari sepanjang itu “jskdr, jkkjm”, sepertinya puisi itu dapat dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah mulai dari baris pertama hingga baris berisi “jangan digentel sagu rendang, mak-oi!”. Yang kedua mulai dari baris “kita ini orang sakit” sampai ke “aku sudah merangkulmu, puan”. Dan yang ketiga mulai dari baris “jadi siapakah dikau” sampai ke yang paling akhir “jangan kutuk kami jadi melayu!”. Bagian yang akan kita bahas sehubungan dengan tulisan ini hanyalah bagian yang kedua itu saja, di mana di dalamnya menurut sas, MZ melontarkan berbagai autokritik yang terasa lebih penuh dan padat (tumpat?) daripada bagian lainnya. Sedangkan pada bagian pertama menurut sas lebih menyangkut kepada problematika jatidiri sang penyair sendiri (barangkali ini semacam pendahuluan untuk menentukan posisi diri), sebagaimana pernah disitir oleh Agus Sri Danardana dalam tulisan “Memaknai ‘Solilokui Para Penunggu Hutan’ Marhalim Zaini” dalam jurnal Madah volume 7 Nomor 1 Edisi April 2016 hal. 1-10 (arsip digital, diunduh dari lamanmaya). Sementara bagian ketiga adalah semacam kesimpulan; yang biarlah terbuka.

Autokritik MZ atas problem kemelayuan dan keriauan dibukanya pada bagian kedua itu dengan pernyataan yang cukup menghentak: “kita ini orang sakit”! Ini sebenarnya pernyataan yang cukup keras; namun anehnya kaum yang dikatakan begitu nampaknya tenang-tenang saja, paling hanya riak yang terdengar. Pernyataan seperti itu biasanya bermakna hanya “sedikit” di bawah gila – meski kalau mau diterlisik lebih jauh, bisa saja benar-benar bermaksud gila! Kalau pada kaum lain, mungkin badik celurit atau karambit sudah bermain. Tapi sas segera sadar, MZ mengatakan kita. Dia cukup aman. Ini jadi mengingatkan salah satu paradoks Yunani Kuno yang terkenal yang berbunyi: “Parmenides yang berasal dari Elea mengatakan bahwa semua orang Elea adalah pembohong”. Tunggu dulu, siapa yang pembohong?

Kenapa MZ mengatakan kita ini orang sakit? Karena kita ini “[…] | orang yang suka merindu | suka bersiul lagu pilu | […]”. Kalau dibaca begitu saja, memang orang bisa jadi bertanya: memang kenapa kalau suka merindu dan bersiul lagu pilu? Itu hal yang biasa dan lumrah, bukan? Bahkan dari situasi demikianlah banyak tercipta puisi dan lagu mendayu. Tapi yang dimaksudkan MZ adalah dalam konteks problem kemelayuan dan keriauan. Rindu pada masa lalu yang pernah gemilang, pilu pada keadaan rumpang sekarang, rindu ingin marwah kembali menjulang, pilu pada ….

Dalam wacana tamadun Melayu ada yang unik. Sebenarnya Melayu itu terbagi seven – istilah bual kedai kopi. Ada banyak sekali “pembagian puak” Melayu, dengan berbagai ragam identifikasi dan batasan yang ingin dibentangkan, tetapi uniknya semua mengaku kalau dialah “yang paling Melayu”. Uniknya lagi, dalam setiap wacana ketamadunan, setiap Melayu [merasa berhak] untuk mengklaim suatu kegemilangan tamadun Melayu di mana pun itu; meskipun lintas geografis, lintas geo-politis, maupun lintas zaman. MZ dalam puisi ini memang tak pernah memaparkan dengan jelas tentang kegemilangan itu, tetapi itu dapat kita tilik dari pilihan diksi dan simbolik yang muncul. Beberapa di antaranya: “[…] | tersebab kau teramat jelita | dan mulutmu bau surga | […] | yang berjoget di atas dulang | yang pinggulnya menjulang | bau wangi bunga tanjung | […]” yang secara tepat dalam konteks rindu terdapat dalam bagian pertama.

Pada bagian kedua boleh dikata autokritik semata. Tentang pilu itu: “mata kita pedih | karena sedih atau letih | kitab-kitab bau darah | hidung kita gatal | karena kesal atau sesal || lagi-lagi perang | kita diserang | bayang-bayang | yang kian rumpang”; katanya. Sementara di bagian pertama MZ sempat mengatakan: “yang namanya hikayat, tuan | tak sedap, ya disedap-sedapkan…”.

Seperti ada beban sejarah yang terbaca di situ. Di satu sisi tentang sejarah/mitos kegemilangan; di sisi lain tentang kemelayuan yang juga berisi sejarah atau mitos kemuraman, kerumpangan, kehiperbolikan, kepengkhianatan.

Autokritik MZ terbentang panjang pada bagian kedua itu, yang di antaranya cukup kita petik di sini: “jangan cium aku, puan | asin ini temasik punya | yang kawin orang benua | kita cuma jadi hamba | nanti dosa masuk neraka | jangan peluk aku, tuan | tubuh ini melaka punya | yang kawin orang eropa | kita cuma jadi hamba | nanti terbuang dari surga | […] || tengoklah selatan | tongkang-tongkang datang | orang-orang main kompang | alangkah senang jadi gelombang | dapat melenggang mengantar pulang || […] || tapi orang kampung suka pesta | hujan di timur hujan di utara | tiada sesiapa peduli bencana | maka lekas-lekas kita ke kota | naik sampan atau sepeda | sama-sama mengayuh lupa | … | makan sumpahlah kita | lari dari majelis orang tua | asalku asalmu dari durhaka | sejarah yang fitnah semata | tapi kita tak pernah jera | sebab kita pinang muda | masak belum, mentah pula | “kami kutuk jadi melayu, kalian!” | dan hanyutlah maki hamun | …”

Inilah sementara yang dapat kita telisik dari puisi panjang MZ ini, karena kalau diperturut bisa berjela-jela Selaksa Sastra kali ini. Kait-mengait dalam topik ini (autokritik) sudah ada dalam pembahasan-pembahasan sebelumnya, dan insyaallah akan dilengkapi pula pada nomor-nomor berikutnya.

(bersambung)

Baca : Meriau-riaukan Riau [dalam Puisi] (2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.