Oleh: Yulputra Noprizal
TIBA nomor antrean Yalmianto. Komputer menyebut namanya. Dan Yalmianto memasuki poli 1. Setelah Yalmianto duduk, psikiater menanyakan keluhan Yalmianto. Biasanya dengan Bu Yani, Yalmianto hanya menyampaikan, tidak ada keluhan. Makan enak dan tidur enak. Lantas, diberi resep obat yang akan ditebus di bagian apotek–masih di rumah sakit jiwa. Sekarang Yalmianto bertemu psiakiater lelaki. Namanya Pak Zalbendri.
“Apak perhatikan di komputer, yang membuat Yal rawat inap sekali lagi di sini karena Yal terus-menerus mengingat masa lalu. Apa yang Yal pikirkan tentang masa lalu Yal?” kata Pak Zalbendri.
“Aku terkenang masa kuliah dulu, Pak,” kata Yal.
“Itu kan sudah lama,” kata Pak Zalbendri.
“Tiap malam aku teringat masa-masa bersama kawan-kawan kuliah. Mengobrol dan bergurau di kampus. Rasanya aku menyesali diri, kok aku berhenti kuliah dulu. Kawan-kawan kuliahku begitu ramah, kami satu sama lain friendly. Tidak seperti masa SMA-ku yang suram. Di Jawa kawan-kawanku menerimaku apa adanya. Masa SMA, aku sering kena palak. Dan kawanku banyak yang mencontek. Aku tidak bahagia. Beda dengan kawan-kawan kuliahku. Masa-masa kuliah itulah yang terus terkenang olehku, Pak,” kata Yal.
“Terus apalagi.”
“Aku juga terkenang seorang perempuan kawan kampus. Hati kami begitu dekat. Kami pernah berciuman. Walau dia sudah punya pacar, dia tidak keberatan bercengkrama denganku. Dia juga yang membuat aku menyesal meninggalkan kampus. Dia rancak dan perangainya elok. Dia begitu pandai mengambil hatiku. Aku pernah ke rumah dan sudah berkenalan dengan ayah-ibunya. Tiap malam aku membayangkan masa-masa kami akan bersatu. Baru-baru ini, kulihat di medsos ia sudah putus dengan pacarnya yang sewaktu kuliah dulu. Dialah pikiranku selain masa-masa indah dengan kawan-kawan sewaktu kuliah,” kata Yal.
Tak biasanya psikiater bertanya panjang-lebar. Hari itu aku jadi tahu keluhan Yal, mengapa ia sering termenung sebelum rawat inap untuk kedua kalinya. Rawat inap Yal terjadi tujuh tahun lalu. Tahun keenam ia rawat jalan penyakit Yal kambuh, ia harus dirawat inap lagi, selama 30 hari. Padahal obat Yal waktu itu cuma tinggal satu dan diminum sekali 3 hari. Aku dan Ibu di rumah menangis membawa Yal waktu itu ke Kota Padang. Pada rawat inap pertama Yal didiagnosis depresi. Pada rawat inap kedua Yal terkena bipolar.
Ketika sudah setahun rawat jalan, psikiater baru menunjukkan apa sebenarnya masalah Yal. Dengan begitu, aku–kakak laki-lakinya–menjadi lega.
“Jalannya tak perlu Yal pikirkan masa lalu itu. Yal sudah tinggal di sini, tidak mungkin masa lalu itu diulang atau dijemput,” kata Pak Zalbendri.
Yal terdiam dan melihat ke arahku, yang duduk di sampingnya. Mendengar keluhan Yal aku iba benar. Bagaimana ia dulu berjuang untuk sembuh, sampai hanya memakan obat satu tablet sekali tiga hari. Tapi karena Yal bermain medsos dan berjumpa dengan kawan-kawan kuliahnya di sana, agaknya itu yang menyebabkan sakit Yal kembali. Dan kami, aku dan ibu, tak menyangka Yal harus dirawat-inap lagi.
“Satu lagi, dari dulu Yal tidak pernah gembira. Bawaan sedih melulu,” kata Pak Zalbendri setelah sebentar suasana hening. “Ada apa Yal, kok sedih saja dari dulu.”
“Ada dua orang kawanku sewaktu kuliah dulu yang menusuk dari belakang. Ia hendak memacari Fita, cewek yang kusebutkan tadi. Selain Fita sudah punya cowok Fita sama sekali tidak menyukai mereka. Aku yang dekat dengan Fita mereka tidak tahu. Kedua kawanku ini mendatangi kosan Fita malam hari. Hendak memerkosa Fita. Fita sekelas denganku, dan meneleponku untuk datang ke kosannya. Setibanya aku di kosan Fita aku menyaksikan kedua kawanku ini mengedor-gedor pintu kamar Fita. Saat aku datang, mereka berhenti. Betapa kaget-nya aku melihat perangai mereka–kedua kawanku ini termasuk dekat denganku, tapi beda jurusan kuliah. Aku berkelahi dengan mereka, tapi aku kalah. Untungnya mereka cepat kabur, sehingga mereka tak jadi memerkosa Fita.”
“Lalu,” kata Pak Zalbendri.
“Bibirku yang berdarah dirawat Fita dalam kamarnya. Di sana kami berpelukan. Dan hatiku begitu tak terima, bagaimana kedua kawanku ini, orang yang khianat. Tidak tahu diri. Masa-masa itu juga terkenang olehku. Pokoknya masa-masa indah semua. Dan tindakan kedua kawanku ini malam itu terus-menerus menghantuiku. Itulah kukira menyebabkan aku tidak pernah gembira. Sedih terus bawaannya. Kawan yang menyalib di tikungan, yang menusuk dari belakang. Kurasa yang menyebabkan aku sedih, juga karena tidak bisa bertemu Fita lagi. Sebab sesudah kejadian itu perasaanku ke kampung saja. Dan benar, sampai di rumah (kampung) aku berhalusinasi, berdelusi, dan aku kehilangan minat untuk kembali ke Jawa. Namun, setelah keluar dari rawat inap yang pertama, aku tiba-tiba kangen kawan-kawan kuliah yang sejurusan, kangen Fita, dan berandai-andai, seandainya dulu tidak memutuskan pulang kampung, aku tentu sudah hidup bersama dengan Fita. Mengingat kedua kawanku itu, aku sedikit traumatik, Pak.”
“Ya sudah Yal. Pokoknya mulai dari sekarang lupakan masa lalu sewaktu kamu kuliah dulu. Lupakan semuanya. Dan jangan sedih terus bawaannya. Tapi ngomong-ngomong, Yal sekarang kerjanya apa?” kata Pak Zalbendri.
“Toko p&d, Pak. Grosir dan eceran,” kata Yal.
“Sudah hebat itu.”
Pak Zalbendri menuliskan resep obat Yal. Dan Yal diingatkan, bahwa semuanya tergantung Yal. Obat sifatnya hanya membantu saja terhadap kesembuhan Yal di kemudian hari.
***
Habis mengambil obat, Yal naik ke mobil yang kukendarai. Aku bertanya pada Yal dulu sewaktu pulang dari Jawa. Kukatakan kau kena doktrin, tidak kata Yal. Kalah debat, tidak juga, kata Yal. Masalah cewek. Yal jawab tidak. Ternyata ketika kutanya di atas mobil mau pulang ke Pesisir Selatan, Yal mengaku sudah bersetubuh dengan Fita. Waktu baru-baru pulang dari Jawa dulu, kutanyakan pada Yal, “Apakah kau sudah melakukan hubungan suami-istri dengan perempuan?” Yal jawab waktu itu tidak.
Yal memang orangnya tertutup, termasuk kepada kami, aku dan ibu. Sekarang setelah kutanyakan semuanya tentang perkuliahannya di atas mobil, Yal menceritakan semuanya. Tanpa menutup-tutupi hal yang selama ini ia simpan.
“Mentalmu lagi jatuh waktu itu Yal, makanya kau kehilangan minat untuk kembali ke Jawa, kembali kuliah,” kataku.
“Sudah lupakan semuanya permasalahan kamu di Jawa itu. Tatap masa depan. Habis nanti umurmu nanti bolak-balik rumah sakit jiwa,” lanjutku.
Hampir tiba di perbatasan Kota Padang dengan Kabupaten Pesisir Selatan, aku menghentikan mobil. Aku meminta Yal turun untuk membeli soft drink, teh. Ketika turun nampak sekali pandangan optimis di wajah Yal.
Aku dan Ibu memang selalu mendoakan kesembuhan Yal. Menyaksikan wajah Yal sewaktu turun dari mobil, harapan akan kesembuhan Yal semakin besar. Dalam hati aku berkata, jangan sampai Yal dirawat inap untuk ketiga kalinya. ***
—————————
Yulputra Noprizal, lahir di Air Haji pada 11 November 1985. Penyuka dan penikmat sastra. Alumni SMA 5 Padang (2000-2003), pernah berkuliah di Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran tahun 2004-2007. Berpropesi sebagai pedagang di Rimbo Panjang, Kampung Koto Panai, Nagari (Desa) Air Haji, Kecamatan Linggo Sari Baganti, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. *
Baca: Kembali






