Kerdilkan Makna Nusantara

barau

“Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa.”

“Saya baru akan berhenti berpuasa makan palapa jikalau seluruh Nusantara bertakluk di bawah kekuasaan negara…”

Gajah Mada, Sumpah Palapa, 1331

ISTILAH nusantara yang dipahami Majapahit (1350-1389); seperti diterakan dalam kitab Negarakertagama : kawasannya mencakup sebagian besar Asia Tenggara, terutama pada wilayah kepulauan. Menggambarkan kesatuan geografi-antropologi kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan Australia, termasuk pulau dan tanjung di Malaysia.

Makna “nusantara” yang diberikan orang rumpun Melayu Asia Tenggara ~ khususnya Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam ~ sama dengan makna yang dimaksudkan Patih Gajah Mada ketika melaungkan Sumpah Palapa.

Bila mereka menyebut kata “nusantara” maknanya sama dengan “Bangsa Rumpun Melayu Raya”. Mereka yang bermastautin ~ berdiam, duduk, bertempat tinggal ~ di beberapa negara. Keberadaannya, meliputi pulau-pulau dan negeri-negeri rumpun Melayu di Asia Tenggara. Maknanya mungkin sama juga dengan Pan Melayu Raya.

Bukan sekadar Indonesia.

Sepuluh wilayah di nusantara yang harus mengakui kejayaan Majapahit, yang disebut Gajah Mada, beberapa memang berada di wilayah Indonesia sekarang ini.

Gurun maksudnya Lombok, Seran – kepala burung di Papua, Tanjung Pura di Kalimantan, di Haru dan Palembang di Sumatera, Dompo di Sumbawa – dekat Bima, Sunda di Jawa, Bali juga di Indonesia. Tetapi Pahang berada di Semenanjung di Negara Malaysia. Begitu juga Tumasik, sekarang sudah jadi Negara Singapura.

Orang Indonesia mengklaim nusantara itu hanya mereka saja. Negeri-negeri di bawah takluk Majapahit dulu yang jadi negara-negara sendiri bukan bagian nusantara. Sementara Melayu Malaysia dan Singapura senantiasa punya rasa, nusantara adalah mereka juga; bersama saudara-saudara mereka di kepulauan Asia Tenggara lainnya.

Sudahlah mengecil, lalu dikerdil pula.

Sekarang “nusantara” hanya nama untuk kota. Kota megah-politan yang ingin dibangun dalam sekelap mata. Baru diundang-undangkan di kertas, masih basah tintanya di atas meja. Dan, bisa saja cukup sampai di situ saja. Mangkrak. Seperti banyaknya megaproyek mangkrak milik negara lainnya. Seperti bertaburannya janji-janji mangkrak, yang ketika ucapkan ~ seperti ~ mengabaikan fungsi otak.

Bila memang betul-betul mangkrak, maka, terwujudlah di pulau yang besar ini monumen supernaga Nusantara Mangkrak.

Memindahkan pusat ibu kota negara dalam waktu seketika, dengan jarak yang bukan main jauh pula ~ seperti antarbenua ~ bukan semudah bengkakkan utang pada Cina. Apatah lagi di tengah badai kehancuran ekonomi negara tengah mendera. Diluluh-lantak pula pandemi Covid-19 yang belum jelas kapan berakhirnya.

Siapa yang tak sengsara?

Tidak ada, kecuali mereka segelintir mereka yang mengaut kekayaan tak terkira di tengah kesengsaraan rakyatnya.

Inilah satu puncak kebijakan paling memijak.

Tak semudah memproduksi mobil esemka bual untuk mengangkut ratusan ribu pegawai dari Jakarta jauh ke Kalimantan. Tak segampang meroketkan ekonomi dalam hayal untuk wujudkan ketersediaan perumahan dan pemukiman. Tak semudah jual aset-aset di Jakarta kepada para cukong ~ seperti tuan-tuan sebutkan ~ untuk berjalan efektif dan hebatnya pemerintahan ~ seperti tuan-tuan igaukan.

Mengerdilnya makna nusantara ~ seiring berjalan ~ mengerdil juga kedaulatan rakyat dan kedaulatan berbangsa.***

Baca : Musibah Diundang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.