Artikeliris 0’Ngah Tabrani

barau

i

Yang belum di tangan
: itu angan-angan

Itu, hujah 0’Ngah Tabrani

Satu malam O’Ngah tidur di rumah sempit.
Di bilik yang sempit. Di sebuah kampung
yang baru dibangun. Jauh, ~ di pedalaman,
di ujung Sungai Embun, di antara dua bukit.

Bersama Bujang Melajak,
O’Ngah letakkan badan di situ.

Di lantai, kasur dibentangkan.
Di dinding, tali kelambu disangkutkan.

Bilik sempit berlambu pula.

“Jadi Nek Kelambai*1)–lah kite.” O’Ngah terkikik.

“Tidur nyonyak-nyonyak*2)-lah, O’Ngah!” Suara tuan rumah.

“Ye, Pak. Ye, Pak.”

“Banyak nyamuk kalau tak berkelambu, O’Ngah.”

“Ye, Pak. Ye, Pak.”

Tinggallah sempak tinggallah sendo.
Langsung ingat lagu Kutang Barendo.

Ehlahyoo…! Kutang barendo
Tampuruong sayak bobulu
Kodang-kodang ati deyen ibo
Tokonang maso dak oulu *3)

O’Ngah tak biasa tidur berkelambu.

“Biarlah jadi umpan nyamuk. U-uuu..!”

Untunglah masih ada lubang-lubang kecil
di cecelah atap dan dinding, mengirim sejuk
angin. Membawa hawa hutan yang dingin.

 

ii

Malam sudah larut. Pertemuan dengan masyarakat
baru saja usai. Pemuka sekampung kumpul semua.
Mengadukan nasib mereka; yang sangsai.

O’Ngah diundang. O’Ngah pun datang.

Untuk meredakan sesak dada mereka.

Ini. Orang-orang yang digesa segera pindah.
Beranjak dari dalam lembah. Sebelum bumi
~ kampung tua, warisan pusaka mereka, jadi
kawah dengan debit air melimpah-ruah.

Direlokasilah bersama kawanan gajah.

Gajah-gajah dan kawanan satwa dicarikan
hutan habitat baru. Manusia-manusianya
dibuatkan kampung-kampung baru.

Rimba dibuka belukar pun ditebang.

Rumah-rumah dibangun bersusun-susun.
Tetapi belum siap huni semua; tanah jalan
masih menguning; dinding rumah masih
bertelanjang bata; mereka diharuskan
menempatinya segera.

Waduk pembangkit listrik raksasa siap
dikerjakan. Semua harus menyingkir.

Kalau tidak?

Tenggelam.

Ini. Baru satu kampung, masih banyak
kampung lainnya.

Kirimkan kami semen, O’Ngah, untuk masjid
Kirimkan kami seng, O’Ngah, untuk atap

Tetek bengek begini pun ngadu ke O’Ngah

 

iii

Ketika minta tanah semua keluar janji manis
Waduk raksasa akan mengubah wajah daerah
Bangkitkan industri sawit sampai kayu lapis
Dijamin, kesejahteraan rakyat pun akan cerah

Usahkan rakyat, Jepang pun tergugah

Matahari terbit pernah sempat muram ~
ingin hentikan curahan duit miliaran;

(Lantaran ramainya berita di media
Nihon Keizai Shinbun, waduk akan
membuat kerusakan lingkungan)

akhirnya pun setuju proyek diteruskan.
Asalkan; penuhi tiga syarat mereka ajukan :

Itu tadi :

Gajah-gajah dan satwa lainnya, selamatkan
~ carikan habitat yang setara untuk mereka.

Manusia terdampak relokasi, sejahterakan
~ minimal harus sama di tempat yang lama.

Bersikap adil dan merata dalam pemindahan
~ jangan sampai menghilangkan hak warga

Apa di lapangan diselenggarakan rapi ?

Utusan ribuan Koto Tarondam mendatangi
Jakarta. Lakukan aksi : rendahnya ganti rugi

Matahari pun menerima aduan : persetujuan
pemindahan dilakukan dengan intimidasi.

Di kampung baru segala fasilitas umum
jauh panggang dari api ~ tak suai janji.

Yang begini : tak salah karena kalimatnya;
memang ‘ganti rugi’.

Jiko dodak katokan dodak
indak kami tatompi-tompi

Jiko indak katokan indak
Indak kami tanonti-nonti

Ehlahyoo…! Kutang barendo..! *3)

iv

Dedaun masih basah, jalan tanah kuning
masih lembab, ketika O’Ngah dan Bujang
Melajak tinggalkan Kampung Sibuak eks
Muara Mahat.

Selesai mengopi seusai sholat Subuh,
ketika gelap kan bertukar sinar matahari,
langsung tancap gas.

Orang kampung melambaikan tangan.
berharap belas

Keluar dari jalan kampung, tiba simpang
jalan Pekanbaru – Padang, tetiba disergap
banyak bendera merah putih – nyaris
pada setiap rumah – berkibar setengah tiang.
Lalu dari rumah ke rumah terdengar lagu :
telah gugur pahlawanku.

Betapa hatiku takkan pilu
Telah gugur pahlawanku
Betapa hatiku takkan sedih
Hamba ditinggal sendiri

Siapakah kini pelipur lara
Nan setia dan perwira
Siapakah kini pahlawan hati
Pembela bangsa sejati *4)

“Siapa orang besar yang meninggal?”

O’Ngah dan Bujang Melajak ingin tahu, tetapi
O’Ngah terus saja mengemudi Mercedes
benz dengan laju. Menuju Pekanbaru.

Di Rantau Berangin O’Ngah bukan sekadar
dapat kabar angin.

“Ibu negara kita meninggal dunia”.

Bu Tien.

Istri penguasa negara tiga dasawarsa.
Takdir baginya akhirnya tiba juga.

v

O’Ngah panti terbang
Bukan Robin Hood

Tapi siapa saja datang
minta asuhan dia sambut

Mulai renta gagah garang
sampai bayi besar berjanggut

O’Ngah bela dan perjuangkan !

Terlebih suku asli, miskin sekali;
terintimidasi di buminya sendiri;

Sakai, tanah yang dicaplok perusahaan
Petalangan, sawit yang ditanam atas kuburan

Akit, kehilangan terubuk oleh limbah industri
Talangmamak, bukit mereka yang digunduli
Duanu, meminta beasiswa pendidikan tinggi

Bonai, yang karam akibat punahnya hutan
Melayu: terkelupas daratan lepas pula lautan *4)

TKI-TKI yang dicampakkan Malaysia
di pesisir Riau, pernah mengadu
pun O’Ngah bantu.

Petani, nelayan, buruh O’Ngah punya kawan

Masih ingat Mr Derry, bule yang dulu
terlunta-lunta, tak tahu tempat dituju?

Tiada siapa-siapa tempat meminta
Kepada O’Ngah juga tempat mengadu

Bukan Derry saja, ada juga Amanda.
Satu duda, satu lagi janda beranak satu.
Tetapi mereka tidak pernah saling bersua.
Sama dari Eropa luntang-lantung di Pekabaru

 

vi

Geram. Negeri kaya raya.
Rakyatnya terlunta-lunta

O’Ngah pun ingin merdeka.

Dia kira itu mimpinya saja. Saat kongres
rakyat dibuka sebagian besar rakyat
ternyata punya tekad yang sama :

MERDEKA.. !!

Dari sumber daya kaya tetapi melarat
Dari sapi perahan tuyul-tuyul berdasi di pusat
Dari kurasan cecukong berebut jadi konglomerat

Dari serupa ayam mati di lumbung padi

Sang penyair Eddieruslan Pe Amanriza
langsung deklarasi dengan puisinya :

“Berpisah juga kita, Jakarta..!” *6)

Ternyata merdeka cuma di kertas saja.

O’Ngah !

Kenapa alih-alih merangsek, masuk Otda?

“Yang belum di tangan
: itu angan-angan.”

Itu, hujah O’Ngah Tabrani

Menunggu? Sangat. Terlalu lama.
Dari dalam pusat pula, kita tusuk Jakarta.

Tetapi Jakarta; sudah tebal tembok hasil
rampokannya. Tetap saja sukar menembusnya.

Oh, Jakarta !

 

vii

Di ujung bujangan Bujang Melajak
hari-hari bersama O’Ngah cukup banyak.

Kawankan pergi makan. Pergi ke seminar.
Cerita-cerita di ruang praktek dokternya.
Atau juga sekeladar mereguk angin malam
sekejab. Selalu saja ada guyonan.

Dengar Bujang Melajak putus tunangan
O’Ngah agak geram, tapi itu lagi, dia
lepaskan dalam guyonan.

Kawinlah engkau
Kalau engkau lekas kawin
lekas pula dapat anak

Dapat dijadikan kawan

Tak suka wanita? Itu soal
lain. Bisa dilepas cari lagi lain.
Takkan sudah tua baru dapat anak.

“Atuk..! Atuk..!” suara anak memanggil ayah.

Hahahaaa

O, betul juga

Sayangnya nasihat ini baru tiba
saat bujang melajak agak menua

Satu hari Bujang Melajak telepas cakap.

“Saya ‘dah dapat bidikan, Ngah. Orang Kubu.”

Baru disebut sekilas soal bidikan, O’Ngah
sudah merasa sok tahu. Hehee eh!

“Aku kenal budak tu. Orang kampung aku.
Biar aku pinangkan. Abah emaknya
kawan aku.”

Tiga hari kemudian alih-alih O’Ngah muncul
di tempat Bujang Melajak kerja. Seketika
melihat Bujang, dia langsung mendekat
seraya ~ lelagi ~ guyon belaka :

“Jang, aku ‘dah jumpe budak itu. Die tak
hendak dengan dikau dee. Kate die,
menyemakkan kelambu saje…”

Huhuhuuu .. O’Ngah !

Teteman sekeliling pun terkikik-kikik
~ geli, mendengar O’Ngah punya lagu.

Bujang Melajak? tersisipu mati kutu.

viii

Tahun-tahun berlalu
Bulan-bulan berlompatan
Hari-hari pun dimakan masa.

Umur bertambah usia berkurang.
Diri-diri semakin menua. Kesempatan
bersilaturahmi pun makin jarang-jarang.

O’Ngah sudah jarang di ruang dokternya
di Sudirman. Lebih banyak di universitasnya,
Riau ujung kalau tidak di rumahnya. Bujang
masih mengunjunginya sesekali walaupun
tidak sekerap biasa lagi.

O’Ngah sudah tidak selincah dulu. Masih
suka bercerita. Itu pun kalau dia terjaga.
Belakangan lebih suka tergolek di sofa.
Sesekali dia terbangun ketika mendengar
ada yang datang ruangan bilik kecilnya.

Terakhir-terakhir Bujang pun tak kuasa
membangunkannya. Badan yang menua
tak boleh diganggu istirehatnya. Biarlah
dengkurnya melepaskan semua lelahnya.
Setelah itu, semoga kembali
dengan kesegarannya.

ix

Bertahun-tahun badan yang lasak itu
terbaring tak berdaya.

Akhirnya tiba juga takdir itu
: kita pun pasrah menghadapinya

Hanya kepada-Nya : kita berserah

Innalillahi wa inna ilaihirojiuun

Kami terima kasihmu, O’Ngah

Telah menunjukkan cara; menyukuri
anugerah pada bumi; membela marwah
pada diri; menghargai napas tiap denyut nadi.

Kami terima kasihmu, O’Ngah

Bersimpuh kami, tengadah, bermunajad :

“Wahai jiwa yang tenang!

Kembalilah kepada Tuhanmu
dengan hati yang rida dan diridai-Nya.
Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah
ke dalam surga-Ku.” *7)

(Q.S. Al-Fajr [89]: 27-30)

————–
1. Nek Kelambai : sebuah dongeng Melayu. 2. Nyonyak : tidur lelap. 3. Kutang Barendo : lagu rakyat Kampar. 4. Telah Gugur Pahlawanku : Lagu perjuangan Bangsa Indonesia. 5. Sakai; Petalangan; Talangmamak; Bonai : suku asli di Riau yang tinggal di daratan. 5. Akit dan Duanu : suku asli di Riau yang tinggal di pesisir pantai. 6. Berpisah juga kita Jakarta : puisi penyair asal Riau almarhum Eddieruslan Pe Amanriza. 7. Q.S. Al-Fajr [89]: 27-30

Baca : Bukan Sekutu Kita