Adiwiyata

binatang jalang

Bismillah,

SEJAK kecil setiap pagi Emak dilatih Nenek mengutip sampah. Tangannya memegang sebatang kayu yang runcing. Dengan kayu itu, tangan Emak terlatih menancapkan setiap lembar sampah seperti daun yang telah gugur. Sampah-sampah itu bagai tusukan sate di batangan kayu. Kadang-kadang, Emak memegang sapu lidi. Dengan sapu lidi, Emak membersihkan semua sampah di perkarangan rumah. Di sekolah pun, Emak tetap didik untuk menjaga lingkungan. Itu sudah membudaya dalam jatidiri Emak. Sikap dan perbuatannya itu telah mendarah daging. Jangan heran jika saat sudah menjadi nenek buyut seperti sekarang, Emak tetap mau membersihkan perkarangan rumah. Sikap menjaga lingkungan inilah yang ia turunkan kepada kami.

Lain padang lain belalang. Begitulah kenyataannya. Jika ada suatu keramaian, sampah-sampah bergelimpangan begitu saja. Masih saja tangan-tangan jahil membuang sampah tidak pada tempatnya. Mereka tidak punya inisiasi untuk mengumpulkan sampah pada satu tempat yang patut. Ketika antrean, sampah berserakan. Ketika ada hiburan, sampah pun berserakan. Bahkan, sering kali saya menemukan seseorang membuang sampah bungkusan makanan di jalan raya ketika sedang di atas kendaraan. Perihatin!

”Bersih itu penting. Bersih itu sebagian dari iman,” Emak berpesan.

Alam memang patut kita jaga. Menjaga alam bukan cuma tugas pasukan kuning di jalanan. Semuanya patut menjaga alam atau lingkungan. Kita mulailah dengan lingkungan masing-masing. Apalah susahnya membuang sampah masing-masing ke tempatnya? Saat makan makanan berbungkus, kita semestinya tahu ke mana akan menempatkan bungkusannya. Tangan kita tidak akan mau sembarangan menghumban sampah jika kita menyadari bahwa kita adalah manusia.

Kita bukanlah simpanse. Kita bayangkan. Simpanse diberikan pisang masak. Ia akan membuka kulit pisang dan memakan isinya. Apa yang terjadi setelah itu? Kulit pisang dilemparkan begitu saja. Manusia yang sejati tentu saja melemparkan kulit pisang itu ke tempat sampah. Jika tidak ada tempat sampah, ia akan mencari akal bagaimana agar kulit pisang tersebut tidak dihumban sekehendak hati. Akankah kita sama seperti simpanse?

Generasi terkini patut berkarakter menyayangi lingkungan. Mereka patut berjati diri sebagai pencinta lingkungan. Dengan karakter tersebut, akan lahir generasi kreatif dalam hal membela kelestarian lingkungan. Lingkungan terbela, alam terjaga. Kita patut bersyukur karena sudah sejak 1975 karakter peduli terhadap lingkungan hidup sudah tercetus. Selanjutnya hingga sekarang, program ini terus berjalan melalui Kementerian Lingkungan Hidup. Untuk tingkat kabupaten, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang melaksanakan kegiatan ini. Kegiatan berkaitan membela lingkungan hidup ini diberi nama Peduli Berbudaya Lingkungan Hidup Sekolah (PBLHS).

Program ini sangat positif. Beberapa langkah yang mesti dilakukan oleh pihak sekolah. Pertama, mencari informasi dan memahami hakikat serta pengetahuan tentang PBLHS atau penghargaan sekolah adiwiyata. Kedua, mendaftarkan sekolah untuk proses penilaian. Ketiga, mempersiapkan instrumen dan dokumen yang relevan. Keempat, mempertanggungjawabkan kenyataan di lapangan ketika Tim Penilai berkunjung ke sekolah.

Selama menjai Tim Penilai PBLHS ini, berbagai persoalan kami temukan di lapangan. Pertama, masih ada sebagian pihak sekolah berpola pikir negatif terhadap program ini. Misalnya, mereka mengaitkan hadiah apa yang mereka peroleh. Kedua, masih kurangnya pemahaman tentang program PBLHS. Ketiga, kekurangmampuan pihak manajemen sekolah dalam hal mengatasi berbagai kendala di sekolah. Misalnya, kendala banjir dan hewan ternak. Keempat, masih ada yang berorientasi bahwa PBLHS itu berkaitan dengan hal fisik semata. Padahal, rohnya adalah bagaimana menanamkan sikap Peduli dan Berbudaya pada Lingkungan Hidup di Sekolah sehingga bisa mendarah daging sampai ke lingkungan sekitar. Persoalan ini menjadi catatan penting dalam menanamkan kecintaan kepada lingkungan di lembaga pendidikan.

Karakter yang terpenting, yaitu membangun kepedulian atau kepekaan terhadap lingkungan. Lingkungan bukan cuma alam sekitar, tetapi juga lingkungan sosial dan budaya. Jika karakter peduli sudah terbangun, maka perlu upaya membudayakannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk penerapan dan pembiasaan. Dia akan menjadi adat, menjadi petuah bagi kelangsungan hidup. Bak kata Tunjuk Ajar Melayu: Tanda orang memegang adat, alam dijaga, petuah diingat. Tanda ingat kepada Tuhan, menjaga alam ia utamakan. Jatidiri yang penuh dengan budaya peduli terhadap lingkungan akan menjernihkan hati dan menyadarkan diri: Tanda orang berhati busuk, merusak alam ia kemaruk. Tanda orang tak tahu diri, merusak alam setiap hari (1994:607 dan 609).

”Jangan sampai sebagian dari iman kita hilang melayang,” Emak mengakhiri.***

Alhamdulillah.
Bengkalis, Selasa, 05 Zulhijah 1443/05 Juli 2022

Baca : Aur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.