Tokoh  

Hebat! ASN Disdik Bengkalis Tulis 13 Buku

Dalam kesibukannya sebagai ASN Disdik Bengkalis, Musa Ismail masih produktif menulis buku.

LAMANRIAU.COM, BENGKALIS – Memang jarang seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Bengkalis menulis karya berupa buku. Di antara yang jarang itu, ASN Dinas Pendidikan Kabupaten Bengkalis, Musa Ismail saat ini melahirkan 13 karya tulis dalam bentuk buku.

Musa menulis buku dalam bentuk cerita pendek (cerpen), puisi, novel, dan esai. Untuk saat ini, karya-karyanya antara lain 5 buku cerpen, 3 buku esai, 1 buku puisi, dan 4 novel. Beliau menulis karya tersebut dalam rentang waktu 2002 hingga 2022.

”Menulis itu suatu proses. Ini merupakan proses yang panjang. Tak terbayangkan saya bisa menulis. Tapi, ini semua berkat motivasi guru saya, UU Hamidy, ketika kuliah dulu,” kenangnya.

Kalangan umum beranggapan bahwa menulis itu suatu bakat. Ada juga yang berpendapat bahwa latar belakang pendidikan bahasa (Indonesia) itu faktor penentu dalam menghasilkan karya tulis. Namun, sastrawan yang satu ini menolak anggapan tersebut.

”Menulis itu bukan bakat dan bukan karena latar pendidikan tertentu. Yang terpenting, menulis itu adalah hasil dari berlatih dan bersabar. Karena itu, rumus saya menulis adalah berlatih menulis, berlatih menulis, berlatih menulis, lalu bersabar.”

Menurutnya, menulis itu sangat penting. Sesuatu topik yang kita tulis, insya Allah ada manfaatnya bagi diri sendiri dan orang lain. Dengan menulis, kita bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Selanjutnya, menulis berarti kita mencatat bahwa kita pernah hidup di dunia ini dan tak pernah mati selama tulisan kita itu masih terarsip dengan baik. Menulis itu suatu karya. Nisan kita adalah karya. ”Dengan menulis juga, kita telah meramaikan gerakan literasi bangsa ini,” katanya.

Riau dan Kepulauan Riau merupakan negeri yang memiliki sejarah literasi gemilang. Begitu pula halnya dengan Kabupaten Bengkalis. Generasi muda mesti meneruskan sejarah literasi gemilang ini.

Sebagai generasi milenial atau generasi digital, generasi muda selayaknya memanfaatkan teknologi untuk menumbuhkembangkan literasi yang positif. Melalui teknologi dan ruang gerak yang tanpa batas ini, sudah sepatutnya generasi saat ini menghasilkan karya-karya literasi yang masif.

Karena itu, menurut penulis ini, keberadaan komunitas-komunitas literasi (budaya) pun sangat penting. Komunitas-komunitas ini bisa dihidupkan di sekolah-sekolah, kampus, lembaga masyarakat, lembaga atau perkantoran, rumah ibadah, atau sejenisnya. Membangun komunitas sangat mudah, tetapi menggeliatkannya itu perlu perjuangan yang ranggi.

”Komunitas-komunitas ini bisa melakukan pertemuan berkala untuk mengasah kemampuan berliterasi,” begitu pandangannya.

Ternyata, aktivitas menulis itu telah mengantarnya memperoleh penghargaan. Penghargaan yang pernah diraihnya, yaitu Anugerah Sagang Kategori Buku Pilihan (2010) dan Penghargaan Pemangku Prestasi Seni (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau, 2012). ***

Editor: Fahrul Rozi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.