Tubuh dan Kepemimpinan (1)

Pospeda Riau

Dan pada dirimu sendiri maka apakah kamu tidak perhatikan? (QS. 51: 21)

PEMIMPIN merupakan unsur amat penting dalam masyarakat. Orang Melayu menyebutnya: “Bila rumah tidak bertua, celaka datang bala menimpa. Bila negeri tidak beraja, alamat hidup aniaya menganiaya.”

Pemimpin seakar kata dengan pimpin. Kata pimpin adalah upaya seseorang membantu anak kecil atau orang yang lemah saat ingin berjalan. Artinya, ketika seseorang menjadi pemimpin, maka ia merupakan orang yang selalu memimpin atau menuntun kaum yang lemah dalam menjalani kehidupan. Orang yang perlu pimpinan itu adalah masyarakat. Yang memerlukan bimbingan itu adalah rakyat, maka seorang pemimpin mestinya memimpin, menuntun, membimbing. melindungi dan menyayangi masyarakat atau rakyatnya saat ia menjadi pemimpin.

Adalah aneh bin ajaib jika seorang pemimpin memusuhi rakyatnya. Kalau itu dilakukannya maka ia telah menyalahi kodratnya, telah menyia-nyiakan amanah yang diembannya, yang semestinya mewujudkan yang dipimpinnya sejahtera lahiriah dan batiniah.

Dalam ungkapan Melayu disebutkan bahwa seorang pemimpin itu: umpama kayu di tengah padang, rindang daunnya tempat berteduh, kuat dahannya tempat bergantung, besar batangnya tempat bersandar.

Dahulu, para kaum Hawa nenek moyang orang Melayu memanggil suaminya dengan sebutan ‘tuan junjungan’ atau disingkat menjadi tuan. Kata tuan junjungan itu menyiratkan banyak hal. Di antaranya begitu tingginya posisi suami bagi seorang istri. Lelaki (suami) itu merupakan pelindung bagi kaum perempuan (istri). (QS. 3: 34). Selain itu, kata junjungan merupakan sesuatu yang istimewa. Junjungan merupakan kayu penopang untuk tetanaman merambat seperti kacang panjang, pare dan lain-lain. Fungsi kayu junjungan itu amat banyak. Pertama ia sebagai penopang agar tumbuhan tersebut tidak jatuh ke tanah akibat beban berat karena tempat melilit dan bergantung. Mula-mula hanya tumbuhan tersebut yang melilit dan bergantung kepada kayu junjungan, berikutnya adalah bunga dan buahnya. Semakin banyak buahnya semakin berat beban kayu junjungan tersebut. Biasanya makin lebat buahnya, makin lebat pula daunnya, dan makin kencang pula angin yang akan menerpanya.

Artinya ketika pilihan hidup ingin menjadi pimpinan atau kepala ini dan itu dalam lembaga tertentu, maka beban, tantangan dan tanggung jawabnya semakin besar. Ya, semakin banyak ancaman dan tantangan yang akan muncul. Untuk itu perlu disiapkan seperangkat alat pendukung agar kuat untuk tempat bergantung, dan kokoh ketika dihantam badai.

Oleh karena itulah banyak mutiara kata Melayu untuk seorang pemimpin dalam masyarakat Melayu. Sebenarnya kata-kata mutiara itu dapat direnungi sendiri oleh manusia yang mau menggunakan akal pikirnya. Ketika ia melihat betapa ajaib dan dahsyat dirinya maka ia pun dapat melihat banyak hal sebagai pelajaran dan pengajaran dalam kehidupannya, termasuk dalam hal kepemimpinan.

Manusia dianugerahkan Tuhan multi perangkat yang amat urgen dan berharga. Kepala yang padanya menempel mata, telinga, hidung, mulut, dagu dan lainnya. Kemudian dada. Di dada banyak sesuatu yang urgen maujud di sana. Di dalamnya terdapat jantung, hati, dan lain-lain. Kemudian manusia punya perut, punya tangan, kaki dan lain-lain. Semua itu menjadi simbol bagi eksistensi manusia.

Jika mau belajar pada semua perangkat istimewa itu maka dalam menata dan mengisi kehidupan, manusia akan sukses.

Seorang pemimpin diberikan Ilahi mata. Apa guna mata? Melihat, meneliti, menengok, menyaksikan sesuatu. Seorang pemimpin mesti menajamkan matanya. Orang Melayu menyebut; kalau anak dituakan orang, tajamkan mata, nyaringkan telinga, lapangkan dada. Banyakkan jaga daripada tidur. Artinya, seorang pemimpin mesti memandang sesuatu dengan jelas dan detil. Mesti melihat kondisi dan segala ihwal seluruh masyarakat yang dipimpinnya. Seorang pemimpin boleh punya banyak mata atau banyak pertimbangan dalam membuat suatu kebijakan. Seorang pemimpin pun boleh banyak mata-mata (spion) atau informan.

Akan tetapi jangan terlalu percaya pada spion (spionase) karena mata-mata atau informan itu juga punya kepentingan untuk dirinya terkadang untuk nafsunya, maka pandangan mata-mata juga tidak selamanya obyektif. Jangan terlalu mengandalkan spionase. Oleh karena itu, maka mata zahir dan mata batin, matakepala dan matahati seorang pemimpin itu sendiri mesti diasah atau dipertajam agar jelas melihat semua persoalan dan solusinya tanpa ada intervensi dari pihak mana pun.

Bagaimana cara seorang pemimpin mempertajam matanya? Konon, dalam hal tertentu, mata manusia yang paling tajam adalah mata bayi. Kabarnya ia mampu melihat sesuatu yang gaib. Siapa bayi itu? Dialah manusia yang suci dari dosa. Untuk itu, pertajam mata dengan cara menyucikannya, dengan cara melihat, menengok dan membaca sesuatu yang diridhai Tuhan. Jangan tengok dan lihat sesuatu yang tak dibenarkan oleh nilai agama.

Selain punya mata yang tajam, pemimpin juga dituntut memiliki telinga yang nyaring. Artinya ia mesti dapat mendengar dengan baik. Pertama, ia mau dan mampu menjadi pendengar yang baik dari segala keluh kesah yang dipimpinnya. Ketika orang-orang yang dipimpinnya datang untuk mengadu, mengeluh dan mengekspresikan keluh kesahnya, seorang pemimpin mesti menyimak pengaduan mereka dengan sabar, tenang dan sepenuh perhatian. Jangan mentang-mentang menjadi tampuk pimpinan, lalu masyarakat yang datang langsung diceramahi dengan kata bertele-tele dan berjujai-jujai. Itu namanya penguasa bukan pemimpin. Seorang pemimpin nustahak belajar menjadi pendengar yang baik.

Kedua, pemimpin harus mendengar segala informasi yang bukan hoax. Mesti mampu menyaring segala informasi. Jangan terlalu cepat percaya pada satu sumber. Artinya semua informasi yang ia peroleh bersumber dari sesuatu yang terpercaya.

Bagaimana cara menyaringkan telinga? Jangan dengarkan sesuatu yang tidak baik yang membuat kenyaringan telinga terganggu oleh kebisingan nafsu buruk, keserakahan, dan ambisi tak terkendali. (Bersambung)

Baca : POSPEDA Riau 2022