Rumah

RUMAH awal manusia, sepintas lalu terlihat sangat sempit namun penuh damai. Rumah pertama itu adalah rahim ibunda yang panjangnya hanya sekitar  7, 5 cm dengan lebar 5 cm. Lalu manusia meninggalkan rumah mungil itu. Ia pun menetap di rumah dunia, yang mungkin kecil dan mungkin juga luas. Namun bagi kekanak, rumahnya sangat luas, yaitu semesta raya. Rumah yang dibuat ayah dan ibunya hanya tempat ia tidur, berlindung dari badai, dan barangkali hanya sekadar untuk makan minum dan menikmati canda mesra bersama ayah bunda serta sanak sedara.

Seiring berjalannya umur dan waktu, manusia pun mulai membuat rumah dalam ukuran-ukuran awam. Ia melupakan rumah besarnya. Mereka membuat rumah type 21, 36, 45, 54, 60, 70, 120 dan seterusnya, dan sebesar-besarnya. Manusia mulai membuat jarak dan ukuran yang menurutnya bisa seluas-luasnya dan sebesar-besarnya tapi ternyata pada hakikanya semakin mengecil dan menyempit.

Demi rumah luas dan megah menurut mereka itu, segala hal dibuat, segala cara dilakukan, termasuk cara yang tidak patut. Siang malam berusaha seolah tanpa batas. Rumah tak sekadar tempat istirahat, tempat berteduh dan berlindung kala hujan dan panas menghantam tapi sudah menjadi prestise, kebanggaan dan kesombongan. Rasa cinta dan sayang pada rumah serta yang ada di dalamnya pun kian bertambah besar. Ketika rasa cinta semakin besar maka saat itu rasa takut dan cemas pun semakin membesar. Khawatir rumah megahnya ditumbangkan angin. Takut rumahnya dimasuki maling padahal tembok pagarnya sudah hampir menusuk awan. Pada saat itu, rumah bukan semakin luas tapi semakin menyempit karena rumah diri hakikinya yaitu hatinya sedang kecil, sempit, kotor dan semrawut.

Rumah manusia yang awalnya hanya sepanjang dan selebar rahim ibunya suatu ketika juga akan mengecil. Rumah megah yang dijadikan sarana untuk eksistensinya itu pun perlahan namun pasti akan ditinggalkannya. Memang, awalnya mungkin ia bahagia di rumah ukuran besar, mewah dan megah itu namun seturut berjalannya masa, ia membutuhkan rumah kecil. Semakin tua, tenaganya semakin melemah. Ia mulai kesulitan memasuki setiap kamar dan menikmati setiap jengkal halamannya. Ia tak sanggup lagi menaiki lantai atas rumahnya.

Ketika anak-anaknya berajak dewasa dan membuat rumah mereka masing-masing maka tinggal ia sendiri atau bersama istri atau suaminya di rumah itu. Jika istri atau suami meninggal, mungkin ia tinggal bersama pembantunya.

Hari demi hari ia akan merasa rumahnya kebesaran. Apalagi jika pembantunya sudah meninggalkannya. Tinggallah ia sendiri di rumah itu. Rupanya yang ia perlukan saat itu hanya satu kamar tidur, satu meja makan, satu ruang tamu.

Saat itu ia mulai memerlukan rumah mungil yang hanya diperlukan untuk tidur, berlindung dari sengatan panas matahari dan gangguan makhluk lainnya. Syukur kalau ia sadar untuk menyiapkan bekal pulang ke rumah abadinya yang  hanya berukuran 2X1 meter itu. Ia pun akan selalu mengunjungi rumah Tuhan.

Jika dahulu rumahnya hanya didisi dengan sikap sombong, pongah dan merasa lebih daripada orang lain, maka rumahnya semakin terasa sempit dan sepi. Rumahnya akan seperti kuburan jika tidak diisi dengan ibadah. Ia akan dilanda kesunyian dan ketakutan tak bertepi. Ia pun akan berat menuju rumah Tuhan karena tak terbiasa ke sana. Ia mulai merana dalam kesunyian yang dalam. Ia mulai kesepian dalam rumah besarnya. Rumahnya yang selama ini dianggapnya sebagai surga tak lagi menjadi menyenangkan dan membahagiakan, justru menjadi neraka baginya.

Mungkin saat itu ia mulai berpikir untuk menjual rumahnya. Ingin membuat rumah mungil saja. Namun tak mudah menemukan pembelinya. Dijual murah sayang, dijual mahal tak laku. Biaya perawatan semakin mahal dan berat. Bangunannya di sana sini mulai kusam dan lapuk. Ia pun perlahan merasa seperti rumah yang dulu diagung-agungkannya itu. Awalnya cantik, megah, gagah, asri dan membanggakan. Namun perlahan semua berubah. Kuning, kusam, lapuk dan segera runtuh.

Dan yang pasti, rumah yang mati-matian dicintai itu pun akan ditinggalkan. Manusia akan tinggal di kuburan.

Bagaimana dengan rumah kita?  Bagaimana dengan rumah abadi kita, sudahkah mulai dipikirkan?

“Rumah bukanlah tempat asal Anda, rumah tempat Anda menemukan cahaya saat semuanya menjadi gelap.” – Pierce Brown ***

Baca: Sedarah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *