PADA tanggal 26–27 Juli 2025 yang lalu, Zuriat Malako Kocik dari Desa Rantaubaru, Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, berkumpul dalam satu helaan napas sejarah dan cita. Mereka mendirikan kemah di atas pasir merah yang terbentang megah di tengah sungai, halaman alami kampung mereka, yang seolah menyulam kembali jalinan kenangan dan membingkai harapan baru untuk masa depan kampung halaman.
Para peserta datang dari berbagai penjuru negeri: dari Kota Pekanbaru yang riuh, Dumai yang bergelora, hingga Siak, Perawang, Kiap Jaya, Sekijang, Pangkalan Kerinci, Bandar Petalangan dan daerah lainnya. Mereka datang bukan untuk berpesta, tapi untuk merenung, menyapa masa silam, menikmati masa kini, dan merancang masa depan.
Sebuah spanduk terbentang, bertulisan: “Jangan tanya apa yang diberikan negeri ini kepadamu, tapi tanyakan apa yang telah engkau sumbangkan buat negerimu ini,” sebuah kutipan yang menyuarakan semangat pengabdian, mengelaborasi kalimat legendaris John F. Kennedy dengan nuansa tempatan.
Rantau Baru, sebuah kampung kecil yang selama ini seolah tertidur di pelukan sunyi, terletak tak lebih dari 74 kilometer dari Pekanbaru, hanya sekitar dua jam perjalanan darat. Secara geografis, desa ini berada di barat daya ibu kota Kabupaten Pelalawan. Terdiri dari tiga dusun, enam RW, dan dua belas RT, dengan luas wilayah mencapai ±10.000 hektare. Begitu dekat secara jarak, namun kerap terasa jauh dari sentuhan pembangunan.
Namun, di tengah keterasingannya, Rantaubaru menyimpan keindahan yang nyaris tak ternilai. Di musim kemarau, hamparan pasir merah kecokelatan muncul di tengah sungai, memanggil matahari senja untuk menyempurnakan lukisan alam. Ketika mentari mulai beranjak pulang, langit membakar jingga, dan anak-anak pun berlarian, menceburkan diri ke air bersama keluarga, menari dalam gelombang, menikmati alam tanpa batas.
Tak jauh dari tempat itu, mengalir tenang sebuah danau tua, rumah bagi ikan-ikan yang telah lama menjadi sahabat masyarakat: toman, jalai alias chana maru, tapah, selais, baung, tebingalan, barau, tetukul, belida, tilan, segombu, dan banyak lagi. Danau itu, laksana tambang rezeki yang terjaga, kini menjadi ruang hidup bagi janda-janda tua dan pencari nafkah yang telah renta. Di pinggir danau pun menjulang beberapa pohon rengas sebagai sialang, istana bagi lebah bersarang.
Pada 2025 ini, akses danau itu dijaga: pendatang dari luar kampung tak bisa sembarangan memasukinya. Di hari Ahad, kawasan ini dibuka sebagai destinasi wisata kampung. Penangkapan ikan pun diatur: tak boleh lagi memasang jaring sembarangan, tak boleh dipasang di tengah danau. Jaring dan alat tangkap ikan lainnya hanya boleh dipasang di pinggir danau, demi menjaga keselamatan danau, perahu pengunjung, serta kelestarian sumber daya.
Desa ini menyimpan sejarah agung. Dahulu kala, dua kemaharajaan Melayu besar pernah bertemu di dalam wilayah kampung ini: Maharaja Dinda, berasal dari Imperium Johor Lama, dan Raja Gunung Hijau yang diwakili oleh Raja Tan Gadi. Mereka menetapkan tapal batas adat: ke hulu dipakai hukum patih nan sebatang, pusaka pulang ke kemanakan, ke hilir tunduk pada syarak semata. Perundingan itu menjadikan kampung ini saksi bisu sejarah adat besar Melayu yang nyaris dilupakan.
Di Rantau Kobun yang dikenal juga sebagai Malako Kocik/ Kocit bersemayam orang-orang mulia seperti: Syekh H. Muhammad Aris, Syekh H Abdurrahman Thohir, Syekh H Ibnu Kutsir Mayung, Syekh H Abdussomad Ja’far, dan lainnya. Setiap 3 Syawal, ziarah kubur akbar digelar. Anak cucu para orang mulia dan para mursyid serta orang-orang yang bermakam di sana, bersama jamaah tarekat dari seluruh penjuru Riau dan daerah lain, datang bersimpuh di pusara mereka.
Tepat di seberang komplek pemakaman, mengalir sungai kecil bernama Boko-Boko, dari nama inilah muncul nama “Batin Sibokol-Bokol” berasal. Airnya jernih agak kehitaman, mungkin karena dedaunan yang meresap di dasarnya. Dahulu, diyakini air itu dapat menyembuhkan penyakit, baik diminum maupun digunakan untuk mandi oleh mereka yang sakit. Sebuah kearifan lokal yang sarat makna.
Di hulu tempat itu masih terdapat sejumlah anak sungai dan danau-danau molek yang berisi ikan-ikan yang banyak. Sebut saja Danau Teluk Air Bederas, Danau Karang, dan lain-lain.
Namun tak semua kisah tentang Rantaubaru begitu manis. Saat musim hujan tiba dan PLTA Koto Panjang membuka pintu airnya lebar-lebar, banjir bandang datang menghantam. Kampung ini bisa tenggelam selama empat bulan lebih, dengan ketinggian air mencapai 2,5 meter. Sekolah Dasar yang merupakan satu-satunya sekolah diliburkan, aktivitas lumpuh, dan masyarakat terjebak dalam kepiluan. Setelah air surut, ikan-ikan datang berlimpah, membawa rezeki, namun jalan-jalan yang rusak parah menyisakan derita lain. Jalan tanah berlubang dalam, sulit dilewati. Jika saja ada jalan beraspal, mungkin musibah banjir tak akan membuat kampung ini terasa terasing.
Di kampung ini juga belum ada sinyal seluler yang layak. Tak ada puskesmas. SLTP dan SLTA pun belum berdiri. Toilet umum masih langka. Seorang tamu luar pernah berkata kepada saya, “Kampung ini seperti Amazon,” katanya sambil tertawa kecil. Saya hanya bisa tersenyum getir.
“Kok masih ada kampung seperti ini pada abad ini ya?” lanjutnya.
“Sungguh dekat dengan ibu kota kabupaten, bahkan tak sampai seayun tupai dari Pekanbaru, tak sampai sepelempar jala dari Pangkalan Kerinci, tapi… begini keadaannya?”
Senyumnya terasa seperti ironi yang mengiris.
Lalu siapa yang patut disesalkan? Siapa yang harus dipersalahkan?
Entahlah. Tapi dalam sunyi, saya teringat kata-kata Thomas Mann, sastrawan besar itu, bahwa “Orang belumlah benar-benar malang, selama ia masih dapat memberi nama yang indah dan gagah pada kemalangannya.”
Mungkin begitulah Rantaubaru: kampung yang terus berharap, meski luka dan rindu kerap berjalan beriringan, beririsan. ***

