Musyrik Kontemporer

SEBAGIAN kalangan menganggap pembahasan kemusyrikan pada saat ini sudah tidak relevan karena tidak ada lagi manusia yang menyembah berhala dan patung-patung. Mereka silap, bahwa kemusyrikan ada pada banyak sisi dan dimensi.

Dalam Islam, syirik merupakan dosa besar, yaitu mempersekutukan Allah Swt dengan sesuatu apapun dalam bentuk ibadah, keyakinan, maupun perbuatan.

Secara bahasa, syirik berarti menyekutukan atau menjadikan sekutu. Sedangkan menurut istilah syar’i, syirik adalah menyekutukan Allah Swt dalam hal rububiyah (penciptaan dan pengaturan), uluhiyah (ibadah), atau asma’ dan sifatNya.

Prilaku syirik ridak hanya merusak akidah tetapi juga dapat menghapus amal kebaikan sesesorang. Tersebab itulah Allah Swt dan Rasulullah Saw melarang keras perbuatan ini.

Beberapa bentuk kemusyrikan yang berkembang di zaman modern, di antaranya:

Pertama, ramalan. Hampir setiap saat konten-konten ramalan muncul di dunia maya, di media massa, terutama media sosial, dan lain-lain. Meyakini kebenaran ramalan adalah merusak akidah keyakinan kepada Allah Swt karena ada keyakinan lain bahwa peredaran planet ikut mengatur peristiwa dan kejadian di alam semesta, yaitu ada kekuatan lain selain kekuatan Allah Swt.

Kedua, praktik perdukunan. Hari ini dukun tidak lagi tampil ddengan nuansa lama, yaitu dengan penampilan yang acak-acakan, rambut panjang awut-awutan, tapi kini tampil bak selebritis dan para ulama. Saat ini terkadang sulit membedakan antara dukun dengan ustaz atau kyai, bila dilihat dari style dan prilaku luaran mereka.

Mereka pun tak mau disebut dukun, tapi lebih selesa disebut sebagai paranormal atau penasehat spiritual.

Mereka menerima jasa pengaduan orang-orang yang kesulitan ekonomi, karir, perjodohan, pelet, santet dan sebagainya. Orang-orang yang datang itu akibat lemah dan rapuh imannya. Orang yang datang tersebut sesungguhnya telah diingatkan Rasulullah Saw:

“Siapa yang menggauli perempuan haid atau lewat anus, atau datang ke dukun, maka sungguh ia telah kafir terhadap apa yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw (Alquran).” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmizi).

Ketiga, minta perlindungan kepada Jin. Masih banyak orang mendatangi tempat-tempat yang dianggap ‘keramat’, lalu mereka membawa persembahan, agar makhluk penunggu tempat tersebut mau memberikan kekuatan, perindungan, rezeki dan lain sebagainya.

“Bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa lelaki dari bangsa jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. al-Jin: 6)

Apa saja bahaya kemusyrikan?

Pertama, sebagai dosa besar. Pelakunya dimurkai oleh Allah Swt. Kalau Allah Swt murka, lalu apa gunanya hidup di dunia ini?

“Dosa terbesar di antara dosa-dosa besar adalah syirik, membunuh, durhaka kepada kedua orang tua, ucapan dusta atau kesaksian palsu.” (HR al-Buhkari)

Kedua, Kemusyrikan menghapus seluruh amal kebaikan.

“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu: ‘jika kamu mmepersekutukan Allah, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Az Zumar: 65).

Ketiga, kemusyrikan menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka.

“Sesungguhnya orang-orang yang mempersekutukan Allah, maka Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS al-Maidah: 72)

Kemusyrikan merupakan dosa terbesar yang akibatnya sangat besar bagi kehidupan manusia. Akibat dari kemusyrikan tidak hanya dirasakan saat di dunia, yaitu berupa hilangnya keberkahan hidup tetapi juga di akhirat karena akan terhalang dari rahmat Allah Swt, gugurnya amal kebaikan, dan akan berkampung di neraka.

Oleh karena itu, setiap muslim wajib menjaga akidahnya dengan selalu mentauhidkan Allah Swt, menjauhi segala bentuk praktik kemusyrikan, baik kecil mau pun besar, serta memperbanyak doa agar selamat dari prilaku syirik yang amat membahayakan tersebut.

Jangan percaya ramalan, jangan datang ke dukun, dan jangan pernah berteman dengan jin karena tuan dan puan tak akan sanggup.

“Jika engkau memohon sesuatu. Bermohonlah kepada Allah Swt. Jika engkau meminta pertolongan, maka mintalah Pertolongan kepada Allah Swt.” (HR at-Tirmizi).

Wallahu a’lam. ***

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews