Sastra dan Kebudayaan Islam

SASTRA merupakan karya lisan dan tulisan yang memanfaatkan kata-kata indah dan menghibur (dulce) untuk menyampaikan pesan yang bermakna dan berguna (utile) dalam rangka mencerahkan akal budi manusia.

Bicara sastra dan kebudayaan Islam, tak terlepas dari Alquran yang di samping berfungsi sebagai petunjuk bagi umat manusia juga merupakan mukjizat terbesar nabi Muhammad Saw.

Islam sejak awal adalah agama ilmu dan peradaban. Wahyu pertama yang turun adalah perintah membaca, “Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq.” Membaca adalah pintu ilmu, dan ilmu melahirkan peradaban. Salah satu pilar kebudayaan dan peradaban Islam yang agung adalah sastra, baik dalam bentuk syair, prosa, maupun tulisan ilmiah.

Begitu besarnya perhatian Islam terhadap sastra, maka sesuatu yang berkait kelindan dengan sastra menjadi menjadi nama-nama surat dalam Alquran, seperti al-Syuara’ (penyair), al-Naba’ (berita besar),dan lain-lain.

Alquran sendiri turun dengan bahasa sastra yang paling indah, penuh balaghah, majas, dan keindahan retorika. Keindahan sastra Alquran menundukkan para penyair Quraisy yang paling fasih, sehingga mereka tidak mampu menandinginya. Mereka tidak mampu membuatnya walau sebait saja. Maka jelaslah bahwa sastra bukan sekadar hiburan, melainkan sarana dakwah, ilmu, dan peradaban.

Sebagian isi Alquran adalah kisah. Pengungkapan kata dan kalimat dalam Alquran bersifat sastrawi. Kata yang dipakai dalam Alquran merupakan kata-kata yang tertapis, tersuling dan terbaik serta memiliki makna pesan yang luar biasa. Alquran mendedahkan kisah-kisah yang seperti karya “prosa”, seperti terdapat pada kisah Nabi Yusuf AS dan Zulaiha serta nabi Sulaiman AS dan Ratu Bilqis.

Selain menyajikan karya “prosa”, Alquran juga memuat banyak “puisi”, baik dari segi bentuk maupun isi.

Alquran menjadi pusat inspirasi untuk lahirnya karya sastra bagi para sastrawan, terutama sastrawan muslim.

Rasa sastrawi dalam menyampaikan pesan itu pun diikuti nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya. Ketika para sahabat menggali parit khandaq, nabi Muhammad Saw mendendangkan syair-syair penggugah semangat. Apa yang dilakukan nabi itu juga diteruskan oleh para sahabat. Kemudian diikuti oleh umat beliau sesudahnya. Tradisi sastra itu pun berlanjut kepada ulama. Setelah itu kebudayaan dan peradaban Islam yang ditransformasikan melalui dunia pendidikan tak pernah sepi dari sastra.

Kitab-kitab karya para ulama banyak sekali berisi syair-syair indah. Kitab Al-Barzanji misalnya merupakan syair kehidupan nabi Muhammad Saw yang merupakan hasil sayembara yang ditaja Shalahuddin Al-Ayubi untuk membangkitkan rasa cinta kepada baginda Muhammad Saw. Pun kitab Alfiyah Ibnu Malik tentang ilmu tata bahsa Arab pun berisi syair-yair indah. Kitab al-Sulam al-Munawraq dalam ilmu mantiq; Matan al-Rahabiyah dalam ilmu Faraidh, Matan Hidayat al-Shibyan dalam ilmu tajwid dan kitab-kitab lainnya.

Hampir semua ulama muslim menguasai sastra walaupun tidak terkenal sebagai sastrawan. Hampir semua karya intelektual muslim pada masa lalu dalam berbagai disiplin ilmu menyelipkan syair-syair dalam syarahan (penjelasan) matannya (isi kitab).

Imam Al Ghazali ketika meninggal dunia, orang menemukan di samping jasadnya yang kaku sebuah syair atau yang dikenal dengan Qashidah Al Ghazali:

Katakan pada para sahabatku, ketika mereka melihatku mati, menangis untukku dan berduka bagiku. Janganlah mengira bahwa jasad yang kau lihat ini adalah aku.

Dengan nama Allah, kukatakan padamu, ini bukanlah aku, Aku adalah jiwa, sedangkan itu hanyalah selonggok daging. Jasad itu hanyalah rumah dan pakaianku sementara waktu.

Aku adalah harta karun, azimat yang tersembunyi, Dibentuk oleh debu, yang menjadi singgahsanaku,

Aku adalah mutiara, yang telah meninggalkan rumahnya,….

Dalam bidang tasawuf, syair-syair banyak ditulis intelektual muslim, seperti Ibnu ‘Athaillah al-Iskandari dalam kitab al-Hikam, atau Maulana Jalaluddin Rumi dalam beberapa kitabnya, begitu pula Fariduddin Atthar, Muhammad Iqbal dan sederet pujangga muslim lainnya.

Sejarah mencatat banyak ulama besar juga seorang sastrawan. Imam Syafi’i dikenal dengan syair-syair hikmahnya. Jalaluddin Rumi menulis syair-syair tasawuf yang menggetarkan hati. Para pujangga di Andalusia menorehkan karya sastra yang memadukan ilmu, agama, dan keindahan, hingga menjadi cahaya bagi Eropa.

Pengaruh itu pun sampai pula kepada ulama dan inteletual nusantara. Di negeri Melayu muncul Hamzah Fansury, Raja Ali Haji, Abdurrahman Shiddiq, Buya Hamka, dan lain sebagainya.

Sastra menempati posisi yang terbilang penting dalam sejarah peradaban Islam. Sejarah sastra Islam dan sastra Islami tak lepas dari perkembangan sastra Arab. Sebab, bahasa Arab merupakan Alquran. Bahasa Arab dalam bentuk klasiknya atau bentuk Qurani mampu memenuhi kebutuhan religius, sastra, artistik dan bentuk formal lainnya. Sastra Arab atau al-Adab al-‘Arabi tampil dalam beragam bentuk prosa, fiksi, drama, dan puisi.

Sastra Islam bukan hanya indah, tetapi juga mendidik jiwa, membangun akhlak, dan memperkuat kebudayaan dan peradaban. Ia menjadi media penyebaran ilmu, memperkuat ukhuwah, dan menanamkan nilai ketauhidan.

Oleh karena itu, sebagai umat Islam kita perlu menghidupkan kembali tradisi sastra yang Islami. Kita gunakan tulisan, syair, maupun karya-karya ilmiah yang sastrawi sebagai sarana dakwah dan pencerahan umat.

Oleh karena itu, jelaslah bahwa tanpa sastra, ilmu tidak bisa diwariskan dengan baik. Sastra menjadikan ilmu mudah dipahami, dinikmati, dan disebarkan lintas zaman dan lintas peradaban.

Sastra dalam Islam adalah sarana untuk membangun kebudayaan dan peradaban yang bermartabat. Jika digunakan dengan benar, sastra mampu menanamkan iman, akhlak mulia, dan semangat persatuan umat.

Rasulullah Saw bersabda dalam sebuah hadis riwayat Bukhari:

Dari Ubai bin Ka’ab, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya terdapat hikmah di antara (bait-bait) syair.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 85, sahih)

Artinya, sastra yang baik dapat mengajarkan kebijaksanaan. Oleh karena itu, gunakan potensi sastra, literasi, dan budaya menulis sebagai bagian dari ibadah, dakwah, dan pembangunan umat.

Wallahu a’lam. ***

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews