Bising
Seperti gaduh
Yang gemuruhnya
Tegaskan pada sunyi
Kalau riuh ada di sini
Tak mati-mati.
Di jalanan, di taman-taman
Perkampungan yang tak lekang
Oleh canda kanak dan
Mesin kendara
Masih ada harapan
Lebih keras bersuara
Bantai hening di kepala.
Meski tak tenang
Sukar lelap sebab bising
Terus berdendang tapi hidup
Adalah orkestra yang mendayu
Kadang ragu kadang lugu
Kadang belagu.
Selama di bawah mentari
Masih terang menyinari
Rekam jejak ini masih tersisa
Di sudut mata dan hati
Jadi mimpi-mimpi
Atau sekumpulan ilusi
Berbisik-bisik.
Jakarta, 2025
Yang Sudah-sudah
Biar terjaring tawa itu
Senyum yang madu
Dan lekuk tubuh memandu
Hasrat sepasang mata
Menulis lagu rindu.
Kala senja menjaja kenang
Ada hati yang terkekang
Bebas ingin kau pegang
Dekap tubuh ini
Begitu rindang.
Menari mencaci
Bercumbu perih
Malam-malam rintih
Desah yang tertindih
Oleh sedih bertubi-tubi
Masih ada tersisa
Selain gairah yang patah?
Atau memar yang parah?
Jakarta, 2025
Terus Terang, Kasih
Terus terang kasih
Ini bara sudah makin api
Matamu gelora jiwa
Terbakar menggebu-gebu
Cepat sambut sebelum
Padam aku!
Kasih terus terang
Bibirmu belai tubuh
Yang kadung rubuh
Bangkit dan bangun kembali
Sentuh jemari lintuh
Dari hati ke hati
Biar berlayar lagi menuju
Luas samudra menantang
Gelombang menentang
Badai mendera!
Jakarta, 2025
Putus (R)Asa
Saat kering dahaga
Bisa paksa
Tenggak air mata sendiri
Nyeri dalam kandungan
Dalam ingatan di kepala
Berduri-duri.
Desau angin terik mentari
Risau bersarang jadi pisau
Menyerang diri
Tiada yang melindungi
Aku sendiri bakal mati
Tersayat dungu dan dengki
Tapi langkahmu tegas
Untuk pergi
Tanpa pesan pasti biar embun
Yang rebah di daun kuning
Bersaksi
Pada sunyi dan sepi
Yang meluas dalam diri
Mengepul asap usai terbakar
Canda tawa selama ini.
Darimu kutemui
Batu merapuh luluh
Dan lumpuh.
Darimu kudapati
Bulan yang pucat pasi
Kabut tebal menyelimuti
Kasihku yang sudah di peti
Terkapar abadi.
Jakarta, 2025
Enigma
Dari matamu ke mataku
Mataku ke matanya
Semua berkata-kata
Segala berkaca-kaca
Perihal tangan yang saling
Genggam kini gugur dalam
Hitungan jam; itu semua
Tersimpan dalam kalender
Kusam yang menggerutu
Geram.
Mendung bersenandung
Guntur menegur ombak
Menari-nari menyeret diri
Makin dalam kian
Tenggelam; aku di matanya
Perahu karam.
Di matamu
Bagai hujan dan genang
Menetas kenang
Yang beku selama ini
Gigil dan ngeri
Bersenang-senang kini
Pandang langit
Yang letih yang rintih.
Jakarta, 2025
————————–
Ardhi Ridwansyah lahir di Jakarta, 4 Juli 1998. Puisinya Memoar dari Takisung dimuat di buku antologi puisi Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019. Karyanya termasuk 115 karya terbaik dalam Lomba Cipta Puisi Bengkel Deklamasi 2021. Puisinya juga dimuat di berbagai media cetak dan online, antara lain, labrak.co, litera.co.id, galeribukujakarta.com, ayobandung.com, Radar Cirebon, Radar Malang, koran Minggu Pagi, Harian Bhirawa, Dinamika News, Harian Fajar, koran Pos Bali, Riau Pos, Suara Merdeka, Radar Malang, Radar Madiun, Radar Banyuwangi, Radar Kediri, Nusa Bali, Suara Sarawak (Malaysia), koran Merapi, Pontianak Post, Harian Waspada, Radar Tuban, Babel Pos, Harian Analisa, Suara NTB, koran Haluan, Media Indonesia, Republika, situs Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF), Banten Raya, Bangka Pos, dan Rakyat Sumbar. *
Baca: Puisi-Puisi Karya Dzakwan Ali






