OLEH: SAMAD BEHRANGI
[bagian 3]
LITTLE Black Fish terbangun awal di pagi hari itu dan melihat ke atas, beberapa ikan mungil sedang mengoceh. Ketika mereka melihatnya sudah terbangun, mereka berkata dengan serempak,
“Selamat pagi!”
Little Black Fish segera mengenali mereka dan berkata,
“Selamat pagi! Ternyata kalian mengikutiku!”
“Ya.” jawab satu di antara mereka. “Tapi kami masih takut.”
“Bayangan tentang burung pelikan tak juga mau pergi.” kata yang lain.
“Kalian terlalu cemas.” kata Little Black Fish. “Seharusnya tidak perlu takut terus menerus seperti itu. Mulailah keluar dan ketakutan kita akan lenyap seluruhnya.”
Tetapi begitu mereka keluar, mereka merasa tiba-tiba air di sekeliling mereka meninggi dan sesuatu yang mengatup sudah berada di atas mereka. Gelap di mana-mana, dan tak ada jalan untuk melarikan diri. Little Black Fish segera sadar bahwa mereka sudah terperangkap dalam kantung seekor burung pelikan.
“Teman-teman,” katanya, “kita sudah terperangkap di dalam kantung pelikan, tapi masih ada kesempatan bagi kita untuk melepaskan diri.”
Semua ikan imut mulai menangis. Mereka berteriak dalam tangisnya,
“Tak ada jalan untuk melarikan diri! Ini semua salahmu! Kau sudah memengaruhi kami dan membuat kami terjebak ….”
“Sekarang burung ini akan menelan kita semua, dan kemudian kita akan mati.” kata yang lainnya.
Tiba-tiba terdengar suara tawa yang menakutkan menembus ke dalam air di dalam kantung itu. Itu adalah suara sang pelikan.
“Ikan-ikan imut yang rupanya sudah kutangkap! Ha ha ha …. Sungguh, aku merasa bersedih untuk kalian. Tenanglah, aku tak akan menelan kalian. Ha ha ha ….”
Mendengar itu ikan-ikan imut itu mulai berharap,
“Yang berhormat Tuanku Pelikan! Kami sudah lama sekali mendengar segala hal tentang kehebatan Tuan. Bila Tuan sungguh begitu berbaik hati untuk membuka sedikit saja paruh Tuan yang termasyhur ini, yang dengan demikian memungkinkan kami untuk keluar, kami akan senantiasa berterimakasih kepada Tuan.”
“Aku tidak ingin menelan kalian sekarang.” sahut sang pelikan. “Aku masih memiliki simpanan beberapa ikan lainnya. Lihatlah ke bawah.”
Beberapa ikan besar dan kecil tampak bertebaran di dasar kantung.
“Yang berhormat Tuanku Pelikan!” isak ikan-ikan imut lagi. “Kami tidak melakukan apa pun. Kami tidak bersalah. Little Black Fish ini yang telah membuat kami terjebak ….”
“Pengecut!” teriak Little Black Fish. “Apa kalian menangis seperti ini karena kalian pikir burung yang culas ini bakal bermurah hati?”
“Kau tak tahu apa yang kaukatakan.” sahut ikan-ikan imut. “Tunggu dan lihat sajalah …. Tuan Pelikan yang terhormat ini akan memaafkan kami dan akan menelan kamu!”
“Tentu saja aku akan memaafkan kalian.” kata sang pelikan pula. “Tapi dengan satu syarat.”
“Syarat Anda, Tuan!” pinta ikan-ikan imut penuh semangat.
“Cekik ikan kecil yang usil itu, dan setelah itu maka kalian akan mendapatkan kebebasan kalian.”
Little Black Fish beranjak ke pinggir dan berkata pada ikan-ikan imut itu.
“Jangan percaya! Burung pembohong itu ingin membuat kita semua saling berkelahi. Aku punya sebuah rencana ….”
Tapi ikan-ikan imut itu sudah begitu ingin menyelamatkan diri mereka sendiri sehingga membuat mereka tidak dapat berpikir jernih. Mereka terus merangsek ke arah Little Black Fish yang sudah terpojok di bagian belakang kantung pelikan itu, dan saling bicara perlahan.
“Pengecut!” teriak Little Black Fish dengan suara tertahan. “Apa pun yang terjadi, kalian sudah terperangkap dan tak punya jalan untuk melarikan diri. Kalian juga tidak cukup kuat untuk menyakitiku.”
“Kami harus mencekikmu!” kata ikan-ikan imut itu. “Kami menginginkan kebebasan!”
“Kalian sudah kehilangan perasaan kalian! Meskipun kalian mencekikku, kalian tetap tidak akan dapat keluar. Jangan terpedaya oleh tipuannya.”
“Kau berbicara seperti itu hanya untuk keselamatan dirimu sendiri.” kata ikan-ikan imut itu pula. “Sebaliknya kau tidak memikirkan kami sama sekali.”
“Dengar, akan aku jelaskan caranya.” Little Black Fish memelankan suaranya. “Aku akan berpura-pura mati. Kemudian, kita akan lihat apakah setelah itu sang pelikan akan melepaskan kalian atau tidak. Tapi, bila kalian tidak setuju dengan cara ini, aku akan membunuh kalian semua dengan belati ini atau merobek kantung mulut pelikan ini dan melepaskan diri, sementara kalian ….”
“Cukup!” potong satu dari ikan-ikan imut itu. “Aku sudah tidak tahan lagi. Owee …, owee …, owee ….”
“Mengapa kalian membawa-bawa si cengeng ini?” bentak Little Black Fish ketika melihat ikan imut itu menangis. Lalu dia mengeluarkan belatinya dan memegangnya di hadapan mereka. Tak berdaya, ikan-ikan imut itu akhirnya setuju dengan ide Little Black Fish. Mereka kemudian berpura-pura berkelahi, lalu Little Black Fish berpura-pura mati. Yang lainnya setelah itu pergi menghadap sang pelikan dan berkata,
“Yang berhormat Tuanku Pelikan! Kami telah mencekik Little Black Fish yang usil ….”
“Kerja yang bagus!” tawa sang pelikan puas. “Sekarang, sebagai hadiah, kalian boleh pesiar ke dalam perutku!”
Ikan-ikan imut itu tak punya pilihan. Secepat kilat mereka melorot masuk ke dalam tenggorokan sang pelikan dan lenyap. Tapi, pada saat yang sama Little Black Fish mengayunkan belati, merobek dinding kantung itu dengan satu serangan, dan segera keluar melarikan diri. Sang pelikan menjerit dalam kesakitan dan menabrakkan kepalanya ke permukaan air, tapi dia tidak lagi dapat mengejar Little Black Fish.
Little Black Fish berenang cepat terus dan terus dan makin jauh hingga siang hari itu. Sungai sudah melewati gunung-gunung dan lembah-lembah dan sekarang sedang mengalir melintasi sebuah dataran. Beberapa sungai kecil lainnya bergabung dari kanan dan kiri, membuat alirannya kian bertambah besar. Little Black Fish sangat menyukai keluasan sungai itu.
Akhirnya dia sadar sungai itu sekarang tidak berdasar lagi. Dia berenang kesana kemari dan tidak dapat menyentuh apa pun. Ada begitu banyak air yang membuat Little Black Fish bagai hilang di dalamnya! Tidak peduli seberapa jauh dia berenang, masih air yang tak berakhir. Tiba-tiba, dia menyadari sesuatu yang besar, makhluk yang panjang datang menyerbu dari arah depan seperti kecepatan kilat. Ada pedang bermata dua di depan mulutnya. ‘Ikan todak!’; Little Black Fish tersadar. ‘Dia dapat membuatku jadi berkeping-keping dengan seketika!’.
Dengan cepat Little Black Fish melompat dan berenang ke permukaan. Setelah beberapa waktu dia menyelam lagi dan melihat-lihat ke dasar. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan kawanan beribu-ribu ekor ikan.
“Kawan,” kata Little Black Fish, “aku baru di sini. Aku datang dari jauh. Di mana kita sekarang ini?”
Sang ikan memanggil temannya dan berkata,
“Lihat! Ada satu lagi ….” Kemudian menjawab ke arah Little Black Fish. “Kawan, selamat datang di laut.”
Yang lainnya berkata,
“Semua sungai dan kali mengalir ke sini, kecuali beberapa yang berujung ke rawa-rawa.”
“Kalau berminat kau boleh bergabung dengan kelompok kami kapan pun kaumau.” kata satu di antara mereka pula.
Little Black Fish senang telah mencapai laut dan berkata,
“Aku ingin jalan-jalan dulu, setelah itu aku akan datang untuk bergabung dengan kalian. Aku akan senang bersama-sama dengan kalian menyeret jaring nelayan nantinya.”
“Kau akan mendapatkan keinginanmu segera.” jawab satu di antara mereka. “Sekarang pergilah berjalan-jalan. Tapi bila kau berenang ke permukaan, jagakan untuk kami burung bangau. Dia tak akan berhenti mengganggu kita sampai dia berhasil menangkap 4 atau 5 ikan sehari.” (BERSAMBUNG)

