OLEH: SAMAD BEHRANGI
[bagian 4]
LITTLE Black Fish kemudian meninggalkan gerombolan ikan laut itu dan mulai berenang-renang untuk bersenang-senang. Tak lama kemudian dia naik ke permukaan laut. Matahari yang hangat sudah bersinar. Little Black Fish menikmati hangatnya sinar matahari di punggungnya. Tenang dan gembira, dia berenang di permukaan laut sambil berpikir, ‘Kematian dapat saja datang dengan sangat mudah kepadaku sekarang ini. Tetapi selama aku masih bisa bertahan hidup, aku tak akan menemui kematian. Tentu saja, apabila suatu hari aku terpaksa menghadapi kematian – itu tidaklah masalah. Apa yang berarti adalah pengaruh dari kehidupanku, atau kematianku, haruslah bermakna bagi kehidupan lainnya ….”
Little Black Fish tak dapat melanjutkan perenungan itu. Seekor bangau datang menyelam, menyambar, dan membawanya pergi. Terperangkap di dalam paruh panjang sang bangau, Little Black Fish menendang-nendang dan menggeliat-geliat tetapi tetap tak dapat melepaskan diri. Sang bangau sudah mengapit pinggangnya begitu kencang hingga bahkan membuat nyawanya mau terbang. Lagi pula, berapalah lamanya seekor ikan kecil dapat tetap hidup di luar air?
‘Jika bangau ini dapat menelanku dengan segera,’ timbul dalam pikiran Little Black Fish kemudian, ‘air dan cairan yang berada di dalam perutnya tentulah dapat mencegah kematianku, setidaknya untuk beberapa saat.’
Dengan pikiran ini di kepalanya, Little Black Fish berbicara kepada sang bangau,
“Kenapa tidak kautelan saja aku hidup-hidup? Kau tahu, aku adalah salah satu ikan yang tubuhnya akan menjadi penuh dengan racun setelah mati.”
Tapi sang bangau tidak menjawab. Dia berpikir, ‘Oh, sebuah muslihat. Apa yang engkau harapkan? Kaumau membuatku berbicara sehingga kau dapat melarikan diri ya!’.
Daratan sudah terlihat di kejauhan. Semakin dekat dan dekat.
Begitu mencapai daratan; pikir sang ikan, semuanya akan berakhir.
“Aku tahu kau mau membawaku kepada anak-anakmu,” kata Little Black Fish lagi, “tapi begitu kita mencapai daratan aku akan mati dan tubuhku akan penuh dengan racun. Kau tak kasihan pada anak-anakmu?”
‘Mencegah adalah juga suatu kebaikan!’; pikir sang bangau kemudian. ‘Aku dapat memakanmu untuk diriku sendiri dan menangkap ikan yang lain untuk anakku nanti …. Tapi mari kita lihat, apakah ini hanyalah sebuah tipuan? Tidak, kau tidak akan dapat melakukan apa pun.’
Selagi sang bangau berpikir ia mengetahui bahwa tubuh Little Black Fish sudah lemas tak bergerak. ‘Apakah ini berarti kau sudah mati?’; pikir sang bangau. ‘Sekarang aku bahkan tak dapat memakanmu! Aku sudah merusak ikan yang begitu lezat dan lembut ini tanpa alasan sama sekali.”
“Hei, bocah!” sang bangau memanggil. “Apa kau masih hidup sehingga aku masih dapat memakanmu?”
Tetapi dia tidak dapat menyelesaikan kata-katanya karena begitu paruhnya terbuka, Little Black Fish melompat dan terjun ke bawah.
Sang bangau tersadar betapa bodohnya dia karena sudah ditipu dan dibohongi oleh seekor anak ikan black fish. Little Black Fish meluncur di udara seperti kilat. Dia menghilangkan perasaan hausnya akan air laut dan menyorongkan mulut keringnya megap-megap ke angin laut yang lembab. Tapi segera sesudah dia kembali ke dalam air dan mengambil napas baru, sang bangau menangkapnya kembali dan kali ini langsung menelannya dengan begitu cepat sehingga dia tidak menyadari apa yang sudah terjadi.
Little Black Fish hanya merasakan bahwa di mana-mana basah dan gelap. Tidak ada jalan keluar. Terdengar suara tangisan. Ketika matanya sudah dapat menyesuaikan diri dalam gelap, dia melihat seekor ikan imut meringkuk di sebuah sudut perut, menangis. Ikan imut itu mengharapkan kedatangan induknya. Little Black Fish mendekatinya dan berkata,
“Hei, Imut! Bangun! Pikir apa yang harus kita lakukan. Apa yang kautangisi?”
“Yang di situ …. Siapa kamu?” tanya si ikan imut. “Tidakkah kamu dapat melihat? Aku … sedang … seka … rat. O, aku …. Oh, aku … oh, oh …. Ibu!! Aku …, aku …. Tak lagi aku dapat bersamamu untuk menarik jaring nelayan ke dasar laut, Ibu …. Oh, oh …, oh, oh …!”
“Cukup!” teriak Little Black Fish. “Kau bisa membuat malu semua ikan.”
Setelah ikan imut itu berhasil mengendalikan tangisnya, Little Black Fish melanjutkan,
“Aku ingin membunuh burung bangau ini yang dengan begitu pasti akan membuat tenteram semua ikan. Tapi pertama, aku harus mengirimmu keluar dulu supaya kau tidak mengacaukan apa pun.”
“Kamu sendiri sedang sekarat.” jawab si ikan imut. “Bagaimana kamu dapat membunuh sang bangau?”
Little Black Fish menunjukkan belatinya.
“Dari dalam sini, akan aku merobek perutnya. Sekarang perhatikan apa yang akan aku katakan. Aku akan mulai berguling-guling bolak-balik dengan tujuan untuk menggelitik sang bangau. Begitu dia kegelian dia akan membuka mulutnya untuk tertawa. Segera begitu dia membuka mulutnya kau lompatlah keluar.”
“Lalu, bagaimana denganmu?”
“Jangan mengkhawatirkan aku. Aku tidak akan keluar sampai aku berhasil membunuh makhluk tak berguna ini.”
Little Black Fish berhenti berbicara dan mulai berguling-guling bolak-balik hingga menggelitik perut sang bangau. Sementara si ikan imut sudah bersiap-siap di depan rongga mulut. Segera sesudah sang bangau membuka mulutnya dan mulai tertawa, si ikan imut melompat keluar dan jatuh ke dalam air. Tapi tak peduli berapa lama ia menunggu, tak ada tanda-tanda apa pun dari Little Black Fish. Ia hanya melihat sang bangau jungkir balik dan berputar dan menangis. Kemudian dia mulai mengepak-ngepakkan sayapnya dan jatuh. Dia terjatuh ke dalam air, mengepak-ngepakkan sayapnya lagi, lalu berhenti. Tapi masih tak ada tanda-tanda dari Little Black Fish. Sejak saat itu tak ada lagi yang terdengar.
Si ikan tua menyelesaikan ceritanya dan berkata pada 12.000 anak dan cucu-cucunya, “Sekarang waktunya untuk tidur, anak-anak. Pergilah tidur.”
“Nenek!” seru mereka. “Nenek tidak menceritakan apa yang terjadi pada Little Black Fish.”
“Kita tinggalkan itu untuk besok malam.” kata sang Nenek. “Sekarang waktunya untuk tidur. Selamat malam.”
11.999 ikan kecil mengucapkan selamat malam dan pergi tidur. Sang nenek juga jatuh tertidur. Tetapi setelah berusaha semampunya, seekor ikan kecil merah tak juga dapat tertidur. Sepanjang malam ia berpikir tentang laut …. (TAMAT)
Terjemahan bebas oleh sulong a’dzam shuhuf,
dari edisi Bahasa Inggris, “The Little Black Fish”,
dari www.iranchamber.com & https://cmes.arizona.edu.
—————–
Tentang Pengarang
Samad Behrangi adalah penulis cerita anak-anak terbaik dari Iran. Lahir th. 1939 di Cherendab, Tabriz, Azerbaijan. Ia mendapatkan pendidikan di Tabriz hingga menamatkan SMA th. 1957. Setelah itu, selama 11 tahun berikutnya ia mengajar di berbagai pedesaan di Azerbaijan, yang membuatnya akrab dengan orang-orang desa, anak-anak, dan remajanya.
Behrangi adalah juga seorang kritikus sosial terutama dalam hal perubahan sistem pendidikan. Ini terlihat jelas dari tema-tema yang diangkatnya yang mengontraskan antara si kaya dan si miskin, desa dan kota, dan yang berpendidikan dan yang buta huruf. Dia mengkritisi metodologi dan isi buku-buku pelajaran yang disediakan pemerintah, yang menurutnya sudah usang dan tak layak pakai.
Bahasa-ibu Behrangi adalah Turki Azeri, dan dengan itu ia lebih suka menulis. Namun, anehnya ia tidak mengizinkan tulisan-tulisan itu diterbitkan sebelum ia sendiri menerjemahkannya ke dalam Bahasa Parsi. Bahrengi menulis untuk anak-anak The Little Black Fish (1968, dalam Bahasa Parsi: “Mâhῑ-ye Sīyāh-e Kūchūlū), One Peach, A Thousand Peaches (1969), 24 Restless Hours (1969), The Tale of Love, dan Tales of Azerbaijan dalam dua volume. Tulisannya yang menunjukkan perhatiannya pada sistem pendidikan di Iran di antaranya “Investigations into the Educational Problems of Iran”. Behrangi wafat dalam sebuah kecelakaan saat berenang di sebuah sungai di Azebaijan th. 1968.

