PERHELATAN Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadis (STQH) Nasional ke-28 di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, tahun 2025 memiliki keistimewaan tersendiri. Kegiatan ini bukan sekadar ajang rutin keagamaan, melainkan sebuah perhelatan akbra ihwal spiritual dan kultural yang menampilkan dimensi luas dari dari satu sudut peradaban Islam.
Beberapa hal menjadi penanda keistimewaan STQH kali ini. Antusiasme masyarakat terlihat begitu tinggi, khususnya pada malam pembukaan (opening ceremony) yang berlangsung meriah. Selain lomba-lomba utama, panitia juga menggelar sederet kegiatan pendukung yang memperkaya makna acara, seperti Rapat Koordinasi (Rakor) LPTQ se-Indonesia sebagai persiapan menuju Rakernas LPTQ, Pameran Kaligrafi Islam Internasional, dan seminar Al-Quran bertema “Syiar Al-Qur’an dan Hadis, Merawat Kerukunan, Melestarikan Lingkungan” yang menjadi daya tarik tersendiri.
Kendari sebagai tuan rumah pun memberikan kesan mendalam: keindahan alam yang dikelilingi laut dan perbukitan, serta atmosfer religius yang kental di tengah masyarakatnya, menambah nilai spiritual bagi seluruh peserta dan official yang hadir.
***
Pameran kaligrafi Islam bukan hal baru dalam setiap pelaksanaan MTQ atau STQ di Indonesia. Pada MTQ Nasional XXX di Samarinda, misalnya, pameran serupa pernah menampilkan 157 karya dari 36 negara dan seniman lokal. Begitu pula pada MTQ Internasional ke-4 di Jakarta, yang menghadirkan 40 karya seni kaligrafi dari Indonesia dan Iran, menarik ribuan pengunjung, serta menjadi ajang kolaborasi budaya dan edukasi tentang kekayaan seni tulis Al-Qur’an. (Kemenag.go.id).
Namun, STQH Nasional ke-28 di Kendari menampilkan nuansa yang berbeda. Pameran sekali ini dihadiri langsung oleh beberapa seniman kaligrafi dunia, di antaranya Gori Yusuf Husen, Dr Zaheda Khanam, Sarita Subhascandra Gal, dan Iqra Zafar dari India. Menurut panitia, lebih dari 200 karya kaligrafer dari 50 negara dipamerkan di Gedung Museum Taman Budaya Kendari pada 11–18 Oktober 2025.
Selain pameran, kegiatan ini juga dilengkapi dengan workshop internasional dan live demo “hand match”, yaitu pertunjukan seni tangan khas India yang sarat nilai estetika (Sultra.Fajar.co.id).
Ketua Panitia Pameran, Dipo Khairul Islami dari Jakarta Islamic Center, didampingi kaligrafer Indonesia M. Zohiruddin dari Lembaga Kaligrafi Islam Al-Qur’an (LEMKA) serta beberapa panitia lainnya, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program internasional untuk memperkenalkan seni budaya Islam kepada masyarakat Indonesia.
“Tujuan utama kami adalah mendukung pemerintah dalam penyelenggaraan STQH Nasional. Kami ingin masyarakat lebih mengenal dan mencintai seni kaligrafi sebagai bagian dari kekayaan budaya Islam,” ujar Dipo. (InaNews.co.id).
Pertanyaan yang muncul kemudian: mengapa pameran kaligrafi perlu dihadirkan dalam setiap ajang STQH atau MTQ?
Pertama, selama ini cabang Musabaqah Seni Kaligrafi Al-Qur’an (MSKQ) sering tidak disertakan dalam STQH. Padahal, kaligrafi memiliki posisi penting dalam sejarah Islam. Sejak masa awal, teks mushaf Al-Qur’an dan kitab-kitab hadis ditulis oleh para khatthath (kaligrafer). Tanpa tangan-tangan mereka, naskah-naskah suci tersebut tidak akan diwariskan secara autentik hingga kini.
Kedua, pameran kaligrafi menjadi pelengkap yang memperkaya khazanah dan suasana STQH. Kemeriahan tidak hanya terdengar melalui lantunan tilawah dari suara merdu para qari-qariah, tetapi juga terlihat dalam keindahan visual karya seni lukis Islam. Pengunjung memperoleh pengalaman estetis yang menyejukkan mata dan jiwa.
Ketiga, kegiatan ini memberikan ruang apresiasi bagi para kaligrafer. Selain menjadi sarana dakwah melalui seni, pameran juga membuka peluang ekonomi, misalnya, melalui penjualan karya atau penghargaan kuratorial bagi seniman terbaik.
Keempat, pameran kaligrafi berperan sebagai media edukasi, terutama bagi generasi muda. Mereka dapat belajar dan menambah wawasan mengenai nilai estetika, spiritualitas, dan sejarah seni tulis Islam.
Kelima, kegiatan ini menjadi sumber inspirasi bagi para peserta dan pengunjung STQH, khususnya pelajar, santri, serta penggiat seni.
Keenam, pameran kaligrafi memperkuat kolaborasi antarnegara muslim melalui seni Islam sebagai medium diplomasi budaya.
Ketujuh, seni kaligrafi berfungsi sebagai sarana syiar dan dakwah Islam yang lembut, indah, menyentuh hati namun efektif.
Kedelapan, pameran ini dapat menjadi inspirasi bagi kegiatan pendukung lainnya, seperti seminar internasional tentang seni Islam, yang menghadirkan para ahli, kurator, maupun dewan hakim nasional. Seminar semacam ini akan menjadi ruang dialog intelektual yang memperkaya wawasan keislaman, terutama wilayah seni dan segala ihwalnya, baik bagi peserta maupun masyarakat luas.
***
STQH Nasional ke-28 di Kendari menunjukkan bahwa dakwah dan kebudayaan Islam dapat berjalan beriringan. Pameran Kaligrafi Islam Internasional menjadi bukti konkret bahwa seni bukan sekadar ekspresi estetis, melainkan juga instrumen spiritual dan intelektual.
Melalui kolaborasi lintas bangsa, negara dan lintas budaya, kaligrafi meneguhkan dirinya sebagai bahasa universal Islam, bahasa yang penuh keindahan, kelembutan, keimanan, dan perdamaian. ***

