Tekno  

Perpetuum Mobile: Dalam Sejarah Gagasan dan Konsep (Penggal 02)

ITULAH kenapa kemudian minyak bumi menjadi komoditas sumberdaya energi yang paling dicari-cari. Alasan utamanya tidak lain adalah karena – sampai batas tertentu – minyak bumi relatif memiliki berbagai keunggulan komparatif dibandingkan dengan sumber-sumber energi lain yang dikenal umat manusia sampai kini. Mudah memperolehnya, mudah menggunakannya, berdayaguna tinggi, aman, dan murah. Nah, kalau sudah begitu kenapa juga dunia jadi puyeng? Bukankah semua keunggulan yang bagus-bagus sudah ada pada minyak bumi?

Begitu mungkin yang kemudian timbul dalam pemikiran kita semua. Sayangnya, tidak sebagus itu. Di samping minyak bumi [masih] menimbulkan masalah pada lingkungan hidup, ia juga tersedia dalam jumlah yang terbatas [masalah sediaan atau deposit-terbukti (proven reserves) minyak bumi ini sebenarnya masih menjadi perdebatan – sas], padahal kebutuhan umat manusia kian hari kian bertambah dengan cepat. Ujung-ujungnya akhirnya lari ke hukum ekonomi juga: hukum persediaan dan permintaan. Semakin banyak yang meminta sedangkan yang tersedia tidak mencukupi, maka akan terjadilah kenaikan harga, karena di dalam sistim ekonomi kapitalis (apalagi kalau disanding dengan liberal) yang sanggup menawar paling tinggilah yang akan berhasil mendapatkannya. Kalau dipikir-pikir, akhirnya mirip lelang, ya? Tetapi, memang begitulah sesungguhnya yang terjadi dalam pasar dunia, terutama untuk komoditas-komoditas eksklusif.


[GBR. 3] Diagram proses pembangkitan listrik bertenaga panas bumi di Kamojang, jawa Barat. (intrnt.)

Itulah kenapa kemudian timbul kepanikan. Minyak bumi – bagaimana pun – hanya tersedia dalam jumlah yang terbatas sekali; dan yang terpenting ia tidak terbarukan, dan yang lebih penting lagi semua orang membutuhkannya. Suatu saat ia akan habis. Atau kalau pun masih ada di suatu tempat entah di mana di dalam cekungan lapisan kulit bumi kita ini, akhirnya akan timbul masalah kesulitan dalam mendapatkannya. Mungkin ia memang masih ada, tetapi terletak di lapisan yang terdalam, sehingga dengan teknologi yang tersedia kita tidak mampu atau kesulitan untuk menariknya ke permukaan. Atau, minyak bumi berada di suatu lapisan yang sulit sekali untuk ditembus, atau ia sudah bercampur dengan materi lain yang sulit untuk dipisahkan, atau percampuran itu membuatnya menjadi berbahaya, dan seterusnya. Yang kalau ingin disimpulkan dengan mudah, pada kondisi tersebut dengan kemampuan dan teknologi umat manusia yang tersedia pada saat itu hasil yang didapat tidak lagi sebanding dengan segala daya upaya yang dikeluarkan. Terlalu sedikit, terlalu beresiko, dan sekaligus akhirnya terlalu mahal. Kalau pun masih diproduksi, hanya orang-orang tertentu saja yang sanggup membelinya. Lah, kalau sudah begitu terus sebagian besar umat manusia mau pakai apa? Kayu bakar? Kayu juga sudah habis ….


[GBR. 4] Panel surya yang digunakan di ruang angkasa. (intrnt.)

Jadi, itu adalah masalah keterbatasan persediaan. Lalu, muncullah isu untuk mencari sumberdaya energi alternatif. Maka, sejak puluhan tahun terakhir kita pun mengenal berbagai jenis sumberdaya energi. Dari yang paling sederhana hingga yang paling hightech; kata Pak Habibie. Dari energi yang dapat tergantikan, energi hijau, hingga energi biru. Beberapa di antaranya bahkan sebenarnya sudah dikenal sejak berabad-abad yang lalu, tetapi lalu kemudian digali kembali dan diperbaharui dengan ilmu dan teknologi yang tersedia pada masa terkini. Elo-elo mungkin sudah pernah mengetahuinya, tapi mungkin ada baiknya kita segarkan lagi ingatan kita. Di antaranya adalah: batubara, gas bumi, panas bumi, panas batu granit, panas matahari (menggunakan kaca, cermin/pemantul, panil surya, d.ll.), gelombang laut, OTEC (memanfaatkan perbedaan suhu antara dasar laut dan permukaan), angin (biasanya dengan kincir angin yang diubah menjadi energi listrik maupun langsung menjadi energi kinetik), air (dengan memanfaatkan energi kinetik-potensial semacam bendungan, dan kimia/fisika yang sekarang sedang diteliti), nuklir (baik fisi maupun fusi), bio-diesel, bio-fuel, bio-gas, magnet, freewheel (roda gila), maupun yang bersifat hibrida atau percampuran di antara lebih dari satu jenis sumberdaya, d.ll. Wow! Ada banyak sekali ternyata pilihan yang tersedia, bukan? Tapi, kenapa para pakar itu tetap juga puyeng?


[GBR. 5] Kincir angin untuk pembangkit listrik. (intrnt.)

Ada beberapa sebab yang berbeda pada masing-masing jenis alternatif sumberdaya tersebut, sehingga membuat mereka tetap saja naning. Sebab yang umum adalah relatif masih mahalnya biaya yang dibutuhkan untuk menghasilkan setiap satuan energi yang diperoleh bila dibandingkan dengan minyak bumi (pada nuklir, panas matahari, panas bumi, gelombang laut, OTEC, panas batu granit, d.ll.). Teknologi yang tersedia belum mampu mengoptimalkan upaya untuk mendapatkannya (gelombang laut, OTEC, fisi nuklir, bio-fuel, panas matahari, panas bumi, panas batu granit, angin, kimia air, magnet, d.ll.). Tidak ramah lingkungan dan atau tidak aman (nuklir, batubara, bio-diesel, panas bumi, panas batu granit, d.ll.). Tidak terbarukan (batubara, gas bumi, panas batu granit, d.ll.). Ketidakpastian ketersediaan bahan baku (bio-diesel, bio-fuel, bio-gas, angin, gelombang laut, air pada bendungan, d.ll.). Serta masih sulitnya untuk dipadu-terapkan dengan teknologi dan perangkat yang sudah tersedia saat ini. Misalnya, apabila ingin menggantikan bensin dengan bio-fuel, maka perangkat pembakaran mesin kendaraan yang sudah ada umpamanya harus terlebih dahulu disesuaikan; dan seterusnya.


[GBR. 6] Salah satu konsep OTEC. (intrnt.)

Nah, berkaitan dengan segala macam sumberdaya energi yang telah kita bahas secara sangat singkat di atas, persoalan inti yang sebenarnya adalah bagaimana caranya menggerakkan sebuah alat; apa pun bentuk dan varian alat itu, bukan? Maka, di sinilah kita akan mulai berkenalan dengan istilah perpetuum mobile, yang Penulis ramu dari berbagai sumber, terutama www.hp-gramtke.net.

Perpetuum Mobile

Apakah perpetuum mobile itu? Kedengarannya lumayan keren, ya. Nah, biar tambah keren, sekali lagi kita merujuk referensi-referensi berikut. Hardjapamekas dalam Vademecum: Kamus Saku Latin-Indonesia (1995, h:98) menulis bahwa perpetuum mobile adalah “mesin yang bergerak terus tanpa tenaga yang datang dari luar”. Di dalam KBBI (2002) kita tidak menemukan istilah tersebut, meskipun untuk yang lain-lain tercantum sejak halaman 1290. Sedang dalam Ensiklopedi Indonesia (1990, jilid 5, h: 2679) tercantum lema perpetuum mobile dengan penjelasan “(Lat. = gerak kekal). Pesawat yang dapat terus-menerus bekerja, atau sekurang-kurangnya dengan efisiensi 100 %, tanpa campur tangan dari luar; jadi tak perlu ditambah tenaga. Pesawat demikian tidak pernah ada dan tidak akan ada, kecuali angan-angan kekal para inventor”.

Jadi, sementara ini pengertian sederhananya perpetuum mobile adalah suatu perangkat rekayasa yang begitu mulai bekerja akan terus-menerus bekerja selamanya tanpa memerlukan tambahan usaha dari luar. Jadi, kalau kita mau ngebayangin pengertian itu, contohnya adalah seperti apabila kita sudah menghidupkan sebuah mesin mobil maka mesin itu selanjutnya akan hidup terus-menerus selamanya tanpa memerlukan bensin (usaha dari luar lainnya)! Tanpa memerlukan bensin! Gila! Apakah ada mesin yang seperti itu? Begitu pasti kalian pikir. That’s good. Dan itu adalah juga pemikiran hampir semua orang yang normal.


[GBR. 7] Closed-cycle mill, 17th century.

Perpetuum mobile? Pemikiran yang banget deh begonya! Cuma orang-orang aneh dan dungu yang punya pemikiran itu adalah mungkin. Cuma orang-orang idiot yang tertarik pada hal-hal semacam itu.” Demikian biasanya reaksi orang banyak, dan juga kebanyakan ilmuwan. Jadi, reaksi kalian adalah reaksi yang umum dan wajar belaka. Tetapi yang harus diingat, dalam sejarah ilmu pengetahuan seringkali batasan antara gila dan jenius begitu tipis, antara aneh dan cemerlang begitu dekat. Kalian dapat mengurutnya mulai dari Archimedes, Omar Khayyam, Leonardo da Vinci, Thomas Alva Edison, sampai Albert Einstein; sekadar untuk menyebut beberapa nama.

Jadi, dalam kasus ini, apa yang disebut sebagai gila dan aneh, seringkali hanyalah sekadar dikarenakan apa yang dilakukan oleh orang-orang besar itu belum dipahami oleh masyarakatnya ketika itu. Yah, sebagaimana sejarah kebanyakan orang-orang besar. (BERSAMBUNG)

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews